UNDIP, Semarang (16/7) – UPT Perpustakaan bersama UNDIP Press Universitas Diponegoro (UNDIP) mengintegrasikan gerakan Zero Waste (Nol Sampah) ke dalam sistem pelayanan. Langkah ini diambil guna menempatkan kebersihan dan kelestarian lingkungan sebagai prioritas utama dalam menciptakan ruang belajar yang higienis dan berkelanjutan.
Suwondo, S.Hum., M.Kom. selaku Kepala UPT Perpustakaan dan UNDIP Press menyampaikan kebersihan tidak lagi dipandang sebatas estetika ruang, melainkan sebagai instrumen penting pendukung efektivitas proses transformasi ilmu pengetahuan bagi sivitas akademika.
“Bagaimana kita bisa menyerap ilmu dengan baik jika meja berdebu atau ada sampah plastik bekas makanan di sela-sela rak buku? Kebersihan adalah halaman pertama yang harus kita buka sebelum mulai membaca buku lainnya. Budaya bersih harus menjadi fondasi utama sebelum aktivitas literasi dimulai,” ungkapnya.
Sebagai implementasi konkret dari prinsip Zero Waste, UPT Perpustakaan dan UNDIP Press telah menyediakan fasilitas water station gratis. Fasilitas ini diperuntukkan bagi para pengunjung yang membawa botol minum (tumbler) mandiri, sebagai upaya menekan volume limbah botol plastik sekali pakai di lingkungan kampus.
“Fungsi perpustakaan modern telah meluas, tidak hanya berperan sebagai tempat penyimpanan literatur, tetapi juga berfungsi sebagai pusat edukasi peradaban yang mengampanyekan gaya hidup ramah lingkungan atau sustainable living,” tutur Suwondo.
“Pengunjung diharapkan konsisten membawa tumbler pribadi serta menjaga kerapian dan higienitas meja baca pasca-aktivitas belajar demi kenyamanan bersama. Sebab, menjaga kelestarian lingkungan adalah cara terbaik kita berterima kasih kepada bumi yang telah memberi kita ruang untuk belajar,” lanjutnya.
Yuk Pusdip, rajut habit dengan mengurangi plastik, jaga sterilitas ruang, dan rawat kenyamanan bersama. Karena dari meja yang rapi dan lingkungan yang zero waste, ide-ide besar dunia dimulai. Ruang yang bersih melahirkan pikiran yang jernih. (Perpus UNDIP)