UNDIP, Semarang (28/4) – Setiap tanggal 28 April, Indonesia tidak hanya mengenang kepergian sang “Binatang Jalang” Chairil Anwar, tetapi juga merayakan napas kreativitas melalui Hari Puisi Nasional. Di tengah gempuran konten instan yang serba cepat, puisi hadir sebagai ruang perenungan, mengajak masyarakat untuk kembali menyalakan api literasi.
Puisi bukan sekadar deretan kata berima. Ia adalah bentuk tertinggi dari literasi, kemampuan untuk memadatkan makna, mengasah empati, dan menyampaikan kebenaran melalui estetika. Merayakan Hari Puisi Nasional berarti merayakan keberanian untuk berpikir kritis dan merasakan secara mendalam.
Suwondo S.Hum., M.Kom., selaku Kepala UPT Perpustakaan dan UNDIP Press mengatakanliterasi bukan hanya soal bisa membaca teks, tetapi soal kemampuan menangkap ruh di balik tulisan.
“Dengan menyalakan kecintaan pada puisi, kita sebenarnya sedang menghidupkan kembali minat baca dan tulis dengan cara yang lebih emosional dan personal,” ungkapnya.
“Setiap bait yang ditulis adalah satu lilin yang dinyalakan untuk menerangi kegelapan ketidaktahuan. Hari Puisi Nasional 2026 menjadi pengingat bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai para penyairnya dan mencintai literasinya,” lanjut Suwondo.
Selamat Hari Puisi Nasional 2026. Nyalakan hatimu, nyalakan literasimu! Jangan biarkan kata-kata hanya menjadi deretan huruf mati. Mari kita baca, kita hayati, dan kita tuliskan kembali sejarah melalui puisi. (Perpus UNDIP)