UNDIP, Semarang (30/3) – Dalam rangka memperingati Hari Film Nasional yang jatuh setiap tanggal 30 Maret, UPT Perpustakaan dan UNDIP Press mengajak seluruh sivitas akademika Universitas Diponegoro untuk merefleksikan kembali kekayaan budaya Indonesia yang tertuang dalam karya sinematik. Momen ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan sebuah ruang untuk menghargai sejarah panjang dan daya hidup perfilman tanah air.
Kepala UPT Perpustakaan dan UNDIP Press, Suwondo, S.Hum., M.Kom., menyampaikan bahwa dunia pustaka dan sinema memiliki keterkaitan yang erat. Perpustakaan adalah rumah bagi ide-ide sinematik melalui riset literatur, sementara film adalah jendela bagi peneliti dan akademisi untuk mengamati sejarah. Keterkaitan ini menjadikan perpustakaan dan sinema sebagai pilar kembar dalam menjaga dinamika ilmu pengetahuan.
“Film nasional bukan hanya sekadar hiburan, melainkan sebuah dokumen sosial yang mampu memotret dinamika zaman secara jujur. Perpustakaan hadir untuk memastikan bahwa potret zaman tersebut tidak hilang dimakan waktu. Peringatan Hari Film Nasional 2026 ini diharapkan dapat memicu semangat generasi muda untuk terus berkarya dan memperkaya khazanah literasi visual Indonesia di masa depan,” ungkapnya.
Lebih lanjut ia mengatakan film memiliki kekuatan untuk menghidupkan teks yang tampak kaku, sementara perpustakaan menyediakan konteks agar film tersebut memiliki bobot intelektual. Film adalah dokumen sosial, maka kelestariannya adalah tanggung jawab bersama.
“UPT Perpustakaan dan UNDIP Press berkomitmen untuk terus mendukung kreatifitas di lingkungan kampus. Kami berharap melalui ketersediaan referensi dan semangat literasi, akan muncul karya-karya sinematik baru yang mampu membawa identitas Indonesia ke panggung dunia,” pungkas Suwondo. (Perpus UNDIP)