UNDIP, Semarang(26/3) –Di era digital yang serba cepat, rentang perhatian manusia mengalami perubahan yang cukup signifikan. Notifikasi tanpa henti, arus informasi yang deras, serta kebiasaan mengonsumsi konten singkat membuat fokus kita semakin mudah terpecah. Kondisi ini tidak hanya memengaruhi cara kita bekerja atau belajar, tetapi juga berdampak langsung pada budaya membaca.
Rentang perhatian manusia kini bersaing ketat dengan kecepatan jempol saat melakukan scrolling. Algoritma media sosial telah melatih otak untuk selalu haus akan dopamin instan dari konten-konten singkat. Namun, bagi dunia akademik, ini adalah tantangan serius. Membaca bukan sekadar memindai teks (skimming), melainkan sebuah proses kognitif mendalam yang membangun daya kritis. UPT perpustakaan dan UNDIP Press memandang bahwa transisi dari teks fisik ke digital bukan sekadar masalah medium, melainkan masalah kedalaman pemahaman.
Melihat pergeseran budaya ini, Perpustakaan UNDIP menggunakan pendekatan adaptif dan inovatif diantaranya dengan mengintegrasikan koleksi fisik yang autentik dengan akses e-resources, memastikan bahwa kemudahan teknologi tidak mengorbankan kualitas referensi. Perpustakaan menyediakan area baca yang nyaman bagi mahasiswa untuk melakukan deep work dan riset mendalam. Selain itu di tengah tsunami informasi, para pustakawan UNDIP berperan sebagai navigator yang membantu mahasiswa memfilter konten berkualitas di tengah tumpukan informasi yang tidak kredibel.
Budaya membaca tidak sedang hilang tetapi sedang diuji. UPT Perpustakaan dan UNDIP Press akan tetap menjadi mercusuar bagi siapa saja yang ingin mencari kedalaman ilmu pengetahuan. Mari kembali membuka lembaran demi lembaran, menunda notifikasi, dan membiarkan pikiran kita menjelajah lebih jauh dari sekadar apa yang tampak di layar. Literasi bukan hanya menyoal kemampuan mengeja kata, tapi kemampuan untuk tetap tenang dan berpikir dalam di tengah dunia yang terobsesi dengan kecepatan. (Perpus UNDIP/SOR)