UNDIP, Semarang (25/3) – Di era di mana informasi bergerak secepat jentikan jari, cara masyarakat mengonsumsi ilmu pengetahuan mengalami pergeseran besar. Fenomena thread singkat di media sosial, ringkasan video berdurasi 60 detik, hingga konten visual instan kini menjadi primadona. Namun, di tengah tren serba ringkas ini, UPT Perpustakaan dan UNDIP Press mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara kecepatan dan kedalaman berpikir.
Kepala UPT Perpustakaan dan UNDIP Press, Suwondo, S.Hum., M.Kom. mengatakan buku tebal bukan sekadar tumpukan kertas, melainkan sebuah alur berpikir yang terstruktur. Kemampuan untuk bertahan membaca teks panjang menjadi sebuah keunggulan kompetitif. Sivitas akademika yang mampu membaca secara mendalam akan memiliki konsentrasi yang lebih kuat dan sudut pandang yang lebih luas.
“Ringkasan memang pintu masuk yang baik, membantu di tengah keterbatasan waktu, tetapi ada risiko hilangnya kemampuan berpikir kritis dan empati yang hanya bisa didapatkan melalui proses membaca secara utuh. Buku tebal adalah ruang untuk memahami lebih dalam. Di perpustakaan, kami menyediakan banyak referensi agar mahasiswa tidak hanya mengonsumsi potongan informasi yang dangkal, tetapi mampu menyelami kompleksitas sebuah ide,” tuturnya.
“Tujuan kami adalah keseimbangan. platform digital atau media sosial dapat digunakan sebagai jembatan untuk menarik minat pembaca agar kembali mencintai buku-buku berkualitas. Namun, mari kembali ke perpustakaan untuk mendapatkan informasi yang menyeluruh. Jangan sampai budaya membaca kehilangan maknanya hanya karena kita terlalu terburu-buru,” pungkas Suwondo.
Membaca secara mendalam melatih konsentrasi, empati, dan kemampuan berpikir kritis. Dengan semangat ini, UPT Perpustakaan UNDIP berkomitmen untuk tetap menjadi benteng kokoh kedalaman ilmu di tengah arus informasi yang semakin cepat, memastikan mahasiswa UNDIP tumbuh menjadi pemikir yang kritis dan berwawasan luas. (Perpus UNDIP/SOR)