UNDIP, Semarang (28/12) – Kepala UPT Perpustakaan dan UNDIP Press, Suwondo, S.Hum., M.Kom., mengungkapkan bahwa inovasi lahir dari riset, dan tidak ada riset tanpa dukungan literasi yang kuat. Dengan memperkuat budaya membaca di lingkungan kampus, sesungguhnya mempercepat langkah untuk menjadi penggerak kemajuan di tingkat global.
“Di era teknologi informasi yang serba cepat ini, kita harus melek literasi. Dunia terus berubah, kemampuan manusia yang paling mahal adalah berpikir kritis dan literasi adalah bahan bakarnya,” ujarnya.
Literasi bukan lagi sekadar kemampuan dasar membaca dan menulis, melainkan kecakapan untuk memproses, menganalisis, dan memvalidasi informasi secara kritis. Tanpa fondasi literasi yang kuat, individu berisiko terjebak dalam pusaran hoaks dan penipuan berbasis digital.
Lebih lanjut Kepala UPT perpustakaan dan UNDIP Press menyampaikan bahwa UPT Perpustakaan UNDIP menyediakan berbagai fasilitas pendukung, seperti kegiatan Klinik Tugas Akhir, Tuesday English Class, koleksi buku, Klinik e-journal, e-book, serta ruang baca yang nyaman. Dengan literasi yang kuat, mahasiswa diharapkan mampu menjadi insan akademik yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan wawasan luas dengan kemampuan problem solving yang tajam. Mahasiswa tidak perlu akut ketinggalan zaman dan tetap bisa mengikuti perkembangan zaman tanpa mudah terombang-ambing oleh tren sesaat karena telah memiliki pegangan yang kuat. (Perpus UNDIP/Kontributor: SS)