Kata “akses” (access) merupakan salah satu kata paling penting dalam konsep dan aplikasi perpustakaan digital, sebab kata ini memperlihatkan aspirasi sekaligus kekuatiran. Perkembangan teknologi informasi memang membuat orang berharap agar segala bentuk dan ragam informasi akan menjadi lebih mudah diperoleh oleh siapa saja, di mana pun dia berada. Pada saat sama, perkembangan teknologi informasi juga menimbulkan kekuatiran bahwa hanya sekelompok orang tertentu di dalam masyarakat yang akan memperoleh manfaat dari perkembangan teknologi, sementara sebagian besar lainnya tertinggal. Dari kondisi yang nampaknya paradoksal inilah kata “akses” muncul sebagai isyu utama. Misalnya, Perpustakaan Nasional Australia sengaja memakai judul PADI untuk program digitalisasi mereka (Preserving Access to Digital Information), dan kemudian memilih definisi yang menonjolkan nilai penting dari akses ini dalam pengantar di situs mereka:

A digital library is defined by Clifford Lynch (Chapter One of the CNI White Paper on Networked Information Discovery and Retrieval) as an “electronic information access system that offers the user a coherent view of an organized, selected, and managed body of information”.[1]

Di dalam definisi yang dikutip Perpustakaan Nasional Australia tersebut, terdapat kata akses sebagai bagian dari sebuah layanan yang terpadu untuk mempermudah pengguna perpustakaan dalam memanfaatkan sumberdaya informasi. Juga terkandung semangat membuka fasilitas seluas-luasnya bagi sebanyak mungkin orang untuk menggunakan sumberdaya informasi yang tersedia. Memang dalam dunia informasi, kata akses akhirnya diasosiasikan dengan segala sesuatu yang memudahkan serta terbuka, terutama dalam konteks ketersediaan teknologi Internet yang meluas.</p. <p style=”text-align: justify;”>Sebenarnya, sebelum era perpustakaan digital di satu dekade belakangan ini, kata kemudahan mengakses (accessibility) sudah menjadi bagian yang tak terlepaskan dari keterpakaian atau kebergunaan (usability). Beberapa standar pengukuran seberapa jauh sebuah sumber informasi termanfaatkan, selalu memakai ukuran kemudahan mengakses, termasuk kesan pada pegguna tentang kemudahan akses (perceived accessibility), bahkan seringkali menjadi ukuran utama (lihat misalnya Baker and Lancaster 1991, 27-38; Lancaster 1995). Beberapa penelitian tentang perilaku manusia dalam penggunaan sumber informasi elektronik atau digital menjunjukkan pula bahwa para pengguna jasa perpustakaan menempatkan kemudahan akses  sebagai kriteria utama, di atas ongkos akses dan kemudahan penggunaan. Dalam konteks ini, kemudahan mengakses informasi berkaitan dengan faktor kognisi, sosial, dan fisik.  Seringkali akses ke fasilitas elektronik dan digital memerlukan persepsi sedemikian rupa sehingga orang masih membayangkan bahwa “masuk ke perpustakaan” sama dengan “login ke sistem informasi”. Beberapa keterampilan khusus dalam menggunakan komputer akhirnya menjadi bagian dari kemudahan mengakses, dan selanjutnya menjadi bagian apa yang dikenal dengan istilah <a href=”http://www:24631/Wiki%20Pages/information%20literacy.aspx“>information literacy</a>.

Dalam bidang pemerintahan dan politik, kemudahan mengakses juga menjadi isyu penting sebagai bagian dari pengembangan infrastruktur digital dan kebebasan informasi. Pemerintah Negara Bagian Victoria di Australia, misalnya, sampai merasa perlu membuat batasan dan standar tentang kemudahan mengakses, sebagaimana dinyatakan di situs mereka[2]:

Accessibility means making web information available to all people, regardless of their ability. Accessibility also assists people with varying means and technologies to access web information.

(Kemudahan mengakses adalah keadaan yang memungkinkan informasi di Web tersedia bagi semua orang, tanpa memandang kemampuan mereka. Kemudahan mengakses juga berarti bantuan terhadap masyarakat yang memiliki perbedaan dalam kemampuan dan teknologi untuk mengakses informasi di Web).

Terlihat di definisi pendek di atas, bahwa akses sangat berkaitan dengan keadilan dan kemungkinan perbedaan kemampuan dan teknologi. Secara lebih rinci juga dijelaskan bahwa kemudahan mengakses di dunia Web mengandung ciri berikut:

An accessible web site is one where the information is available (Sebuah situs Web dianggap mudah diakses jika):

·   Without requiring a particular web browser (Tidak memerlukan brower khusus -dapat menggunakan sembarang browser).

·   Without requiring a particular browser plugin or program, for example JavaScript or Flash  (Tidak memerlukan program tambahan khusus, misalnya yang dibuat dengan JavaScript atau Flash).

·   In conjunction with software that people with disabilities might use (Disesuaikan untuk perangkat lunak yang dapat digunakan oleh orang-orang dengan keterbatasan fisik, misalnya tuna netra).

·   Without relying on graphics or colour alone to provide information (Tidak hanya mengandalkan gambar atau warna untuk menyampaikan informasi  -jadi harus juga mengandung teks).

·   Without relying on a mouse to navigate through the site (Tidak hanya bergantung pada mouse untuk melakukan navigasi di situs yang bersangkutan).

·   Without being unduly complex or using jargon (Tidak memaksakan diri menjadi rumit, dan tidak menggunakan jargon teknis).

Bahkan kemudian juga ditegaskan bahwa kemudahan mengakses harus mempertimbangkan beberapa kenyataan yang selama ini menghambat akses, yaitu: masih banyak anggota masyarakat yang punya keterbatasan fisik, menggunakan teknologi lama, tinggal di wilayah yang kekurangan fasilitas telekomunikasi, lanjut usia, atau tidak menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa utama. Semua hambatan di atas menyebabkan fenomena yang sejak lama menjadi pembahasan, yaitu digital divide  -suatu keadaan yang “memecah belah” masyarakat menjadi kelas-kelas yang berdasarkan kepemilikan teknologi digital. Sesuai dengan semangat kepustakawanan yang sudah mentradisi berabad-abad, maka tak mengherankan jika perpustakaan digital di masa kini juga berupaya memerangi ketidak-adilan digital dengan mengusung tema “kemudahan akses bagi semua orang”.     

Secara universal, Federasi Internasional untuk Ikatan dan Lembaga Perpustakaan (International Federation of Library Association and Institutions, IFLA) mengeluarkan Internet Manifesto[3] yang antara lain menyatakan:

  • The provision of unhindered access to the Internet by libraries and information services supports communities and individuals to attain freedom, prosperity and development (Penyediaan akses tak terbatas ke Internet oleh perpustakaan dan lembaga jasa informasi akan mendukung komunitas maupun pribadi dalam mencapai kebebasan, kesejahteraan, dan perkembangan).
  • Barriers to the flow of information should be removed, especially those that promote inequality, poverty, and despair. (Hambatan terhadap aliran informasi harus disingkirkan, terutama hambatan yang dapat menimbulkan ketidaksetaraan, kemiskinan, dan kesengsaraan).

Melalui manifesto tersebut IFLA menegaskan kembali bahwa perpustakaan, termasuk perpustakaan digital, dan segala bentuk institusi informasi berupaya menyediakan akses ke informasi, ide, dan karya imajinasi di segala jenis medium, tanpa memandang batas fisik. Juga ditegaskan bahwa perpustakaan merupakan gerbang (gateways) bagi pengetahuan, alam pikiran, dan kebudayaan guna menegakkan kebebasan dalam mengambil keputusan, mengembangkan kebudayaan, penelitian dan pemelajaran seumur hidup. Dalam konteks inilah, maka kemudahan akses dapat dipahami sebagai bagian terpenting dari perpustakaan digital. 

Prinsip kemudahan akses juga terwujud dalam upaya memastikan penghapusan hambatan bagi semua orang untuk mendapatkan informasi digital di bidang ilmiah dan akademisi. Secara spesifik, upaya ini melahirkan konsep, praktik, dan gerakan <a href=”http://www:24631/Wiki%20Pages/Open%20Access.aspx“>Open Access</a>atau juga dikenal sebagai Open Access Publishing , yaitu upaya penyediaan sumberdaya digital secara terbuka, tanpa persyaratan untuk otentifikasi atau bayaran. Salah satu proyek ambisius dalam bidang ini, misalnya, adalah yang dilakukan oleh Perpustakaan Cornell University dengan nama ArXiv (<a href=”http://arxiv.org/“>http://arxiv.org</a> ). Ini merupakan proyek penyediaan jasa gratis untuk terbitan-terbitan elektronik (e-print, sebagai bagian dari gerakan <a href=”http://www:24631/Wiki%20Pages/Open%20Archive%20Initiative.aspx“>Open Archive Initiative</a> ) dalam bidang fisika, matematik, ilmu non-linear, ilmu komputer, biologi kuantitatif, dan statistik. Proyek serupa adalah RePEc, kependekan dari Research Papers in Economics (<a href=”http://repec.org/“>http://repec.org/</a> ), sebuah wujud kerjasama ratusan sukarelawan dari 58 negara dan 35 negara bagian Amerika Serikat yang bertujuan memperluas penyebaran hasil riset dalam ilmu ekonomi. Proyek ini memiliki sebuah basis data atau pangkalan data yang tersentralisir, berisi rujukan ke karya-karya ilmiah berupa kertas kerja atau artikel bidang ekonomi. Namun RePEc tidak menyediakan artikel jurnal sepenuhnya (full-text), melainkan hanya rujukannya. 

Di bidang kedokteran, misalnya ada PubMed Central, sebuah kumpulan berkas digital berisi tulisan-tulisan tentang biomedis dan life sciences yang dimiliki Institut Kesehatan AS (U.S. National Institutes of Health atau NIH), dan dikelola oleh pusat informasinya, yaitu National Center for Biotechnology Information (NCBI) di bawah lingkungan Perpustakaan Nasional bidang Kedokteran (National Library of Medicine atau NLM). Melalui PubMed Central ini, NLM sebenarnya melanjutkan tradisi mereka dalam mempertahankan dan menjaga keberlangsungan akses bebas-hambatan yang sudah dilakukannya sejak “jaman tercetak” dalam hal literatur biomedik.  Di situs mereka ( <a href=”http://www.pubmedcentral.nih.gov/about/openaccess.html“>http://www.pubmedcentral.nih.gov/about/openaccess.html</a> ), ada pernyataan bahwa badan ini memakai definisi yang merujuk ke Bethesda Statement on Open Access Publishing (lihat juga pembahasan tentang hal ini di tajuk <a href=”http://www:24631/Wiki%20Pages/Open%20Access.aspx“>Open Access</a>)   

Namun gerakan membebaskan akses ini bukan tanpa kontroversi. Misalnya, dalam sebuah pertemuan tahunan penerbit dan peneliti bidang sains dan kedokteran di Austin, Texas, tahun 2007[4], muncul dua kelompok yang bersilang pendapat. Kelompok yang mendukung <a href=”http://www:24631/Wiki%20Pages/Open%20Access.aspx“>Open Access</a> datang dari institusi yang punya tradisi melayani masyarakat umum, seperti Public Library of Science, Science Commons, dan Global Trial Bank. Sementara kelompok yang menentang kebanyakan datang dari pihak penerbit. Kelompok pendukung menyatakan bahwa <a href=”http://www:24631/Wiki%20Pages/Open%20Access.aspx“>Open Access</a> mendorong penggunaan informasi ilmiah secara lebih kreatif dan melahirkan penelitian-penelitian baru. Sebaliknya, pihak penentang mengganggap bahwa belum ada bukti <a href=”http://www:24631/Wiki%20Pages/Open%20Access.aspx“>Open Access</a> akan meningkatkan diseminasi informasi, menumbuhkan semangat meneliti, atau meningkatkan sumbangan ilmu pada pengobatan. Lagipula, menurut pihak penentang <a href=”http://www:24631/Wiki%20Pages/Open%20Access.aspx“>Open Access</a>, masih banyak peneliti yang enggan melepas hasil penelitiannya ke penyedia jasa gratis.

Sebuah hasil penelitian yang dimuat di BioScience v. 57 no. 7 (July/August 2007, halaman 619-25) mengatakan bahwa jumlah jurnal <a href=”http://www:24631/Wiki%20Pages/Open%20Access.aspx“>Open Access</a> semakin bertambah dan posisi mereka semakin penting. Karena sebagian besar dari jurnal ini lebih banyak bergantung pada publication fees (pengarang atau lembaga penelitian membayar kepada pengurus jurnal, jika artikelnya dimuat)[5] dan bukan pada uang langganan, maka ada implikasi ekonominya terhadap institusi yang mensponsori, memproduksi, dan menggunakan hasil-hasil penelitian di bidang biologi dan ilmu hayati. Menurut artikel itu, perkembangan <a href=”http://www:24631/Wiki%20Pages/Open%20Access.aspx“>Open Access</a> akhirnya akan mempengaruhi biaya institusional dari penerbitan jurnal di bidang biologi sel. Dengan membandingkan biaya dan harga dari dua jenis sistem <a href=”http://www:24631/Wiki%20Pages/Open%20Access.aspx“>Open Access</a>, artikel itu menyatakan bahwa banyak institusi akan mendapatkan keuntungan dari jurnal <a href=”http://www:24631/Wiki%20Pages/Open%20Access.aspx“>Open Access</a>, namun pada saat sama universitas-universitas dan lembaga riset besar  harus membaya 10 kali lebih banyak dari biasanya.  Salah satu titik akses untuk jurnal-jurnal gratis di bidang ilmu hayati adalah BioMed Central yang dalam 3 tahun ini menjadi sangat populer, menyediakan tak kurang dari 150 jurnal. Tetapi BioMed tetap meminta bayaran keanggotaan dari institusi (perpustakaan, pusat penelitian) yang cukup mahal, dan meminta pengarang membayar tak kurang dari 2000 dollar AS untuk setiap artikel yang dimuat.

Masih perlu ditunggu, ke mana gerakan <a href=”http://www:24631/Wiki%20Pages/Open%20Access.aspx“>Open Access</a>, khususnya dalam penerbitan jurnal ilmiah, akan mengarah. Model pembiayaan akan menjadi isu terpenting. Beberapa penerbit sedang bereksperimen dengan apa yang disebut “bentuk hibrida” dari penerbitan jurnal <a href=”http://www:24631/Wiki%20Pages/Open%20Access.aspx“>Open Access</a>. Penerbit terkenal, Springer-Verlag, misalnya mencoba fasilitas Open Choice, dengan dua pilihan menyediakan artikel secara “tradisional” (untuk dijual), atau dengan sistem <a href=”http://www:24631/Wiki%20Pages/Open%20Access.aspx“>Open Access</a>, tetapi pengarang harus membayar 3.000 dollar AS. Di bulan Juni 2006, Royal Society di Inggris meluncurkan insiatif yang mereka beri nama  EXiS Open Choice. Biaya setiap halaman jurnal yang dimuat di sini adalah 300 poundsterling. 

 


 

[1] http://www.nla.gov.au/padi/topics/71.html“>http://www.nla.gov.au/padi/topics/71.html  – sebagaimana terlihat pada tanggal 1 September 2007.

[2] http://www.egov.vic.gov.au/index.php?env=-innews/detail:m2750-1-1-8-s-0:n-1334-1-0″>http://www.egov.vic.gov.au/index.php?env=-innews/detail:m2750-1-1-8-s-0:n-1334-1-0<  (diakses 18 Oktober 2007)

[3] http://www.ifla.org/III/misc/internetmanif.htm“>http://www.ifla.org/III/misc/internetmanif.htm</a>

[4] sebagaimana dimuat di American Family Physician volume 76 no 3, Agustus 2007, halaman 320. 

[5] Di dalam dunia ilmiah yang sudah mapan, jurnal bergengsi merupakan ajang promosi bagi seorang ilmuwan maupun lembaga riset yang membiayai ilmuwan itu. Dengan demikian, banyak jurnal bergengsi yang menarik bayaran sebagai ongkos pemuatan sebuah artikel. Ini tidak berarti bahwa artikel tersebut diloloskan begitu saja. Tetap ada pemeriksaan (peer review) dan pertimbangan editorial sebelum sebuah artikel dapat dimuat.