Sumber : http://yonaprimadesi.wordpress.com/

 

Perpustakaan merupakan bagian dari kehidupan masyarakat yang merefleksikan perubahan yang terjadi di masyarakat. Perpustakaan atau library didefinisikan sebagai tempat buku-buku yang diatur untuk dibaca dan dipelajari atau dipakai sebagai bahan rujukan (The Oxford English Dictionary). Istilah perpustakaan juga diartikan sebagai pusat media, pusat belajar, sumber pendidikan, pusat informasi, pusat dokumentasi dan pusat rujukan (The American Library Association dalam Mahmudin, 2006)

Darmono menyatakan bahwa perpustakaan adalah salah satu unit kerja yang berupa tempat untuk mengumpulkan, menyimpan, mengelola, dan mengatur koleksi bahan pustaka secara sistematis untuk digunakan oleh pemakai sebagai sumber informasi sekaligus sebagai sarana belajar yang menyenangkan (Darmono, 2001: 2). Secara lebih umum, Yusuf dan Suhendar menyatakan bahwa perpustakaan adalah suatu tempat yang didalamnya terdapat kegiatan menghimpun, mengelola, dan menyebarluaskan segala macam informasi, baik yang tercetak maupun yang terekam dalam berbagai media seperti buku, majalah, surat kabar, film, kaset, tape recorder, video, komputer, dan lain-lain (yusuf&suhendar, 2005:1). Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahawa peprustakaan merupakan suatu bentuk organisasi yang memiliki tugas untuk mengumpulkan, mengolah, menyajikan, dan melayani kebutuhan informasi para pengguna perpustakaan.

Perkembangan Information and communication technology (ICT) yang telah menyebar kesemua aspek kehidupan, memberikan tuntutan kepada semua pihak agar mampu menciptakan sebuah perpustakaan yang ideal sesuai dengan zaman dan kebutuhan penggunanya. Akibatnya, perpustakaan sebagai institusi pengelola informasi sudah seharusnya terjamah penerapan teknologi informasi. Perkembangan ICT melahirkan sebuah perpustakaan berbasis komputer. Penerapan teknologi informasi di perpustakan saat ini sudah menjadi sebuah ukuran untuk mengetahui tingkat kemajuan dari sebuah perpustakaan. Paradigma lama tentang perpustakaan dengan berbagai kerumitannya dalam melakukan pengelolaan perpustakaan harus dihapuskan dengan dikembangkannya perpustakaan berbasis teknologi informasi.

Salah satu bentuk penerapan teknologi informasi di perpustakaan yaitu dengan adanya automasi perpustakaan dan perpustakaan digital. Sistem automasi perpustakaan merupakan pengintegrasian antara bidang pekerjaan administrasi, pengadaan, inventarisasi, katalogisasi, pengolahan, sirkulasi, statistik, pengelolaan anggota perpustakaan, dan lain-lain. Digital library atau sistem perpustakaan digital merupakan konsep menggunakan internet dan teknologi informasi dalam manajemen perpustakaan.

Pengembangan perpustakaan berbasis teknologi informasi, bagi tenaga pengelola perpustakaan dapat membantu pekerjaan di perpustakaan melalui fungsi sistem otomasi perpustakaan, sehingga proses pengelolaan perpustakaan lebih efektif dan efisien. Sedangkan bagi pengguna perpustakaan dapat membantu mencari sumber-sumber informasi yang diinginkan dengan menggunakan katalog on-line yang dapat diakses melalui intranet maupun internet, sehingga pencarian informasi dapat dilakukan kapan pun dan di mana pun, melalui digital library.

Dengan dikembangkan perpustakaan yang berbasis pada teknologi informasi dan komunikasi (ICT based) baik dalam sistem automasi perpustakaan maupun digital library, diharapkan dapat memberikan kenyamanan kepada anggota perpustakaan dan memberikan kemudahan kepada tenaga pustakawan dan pengelola perpustakaan, sekaligus kemudahan untuk menerapkan strategi-strategi pengembangan perpustakaan serta dapat meningkatkan citra perpustakaan dalam memberikan layanannya terhadap pemakai dilingkungannya.

Perpustakaan Universitas Negeri Padang (UNP) sebagai salah satu perpustakaan perguruan tinggi di Indonesia, telah menerapkan dan mengembangkan perpustakaan yang berbasis pada teknologi informasi dan komunikasi atau information and communication technology (ICT based) yang mencakup automasi perpustakaan (sistem informasi manajemen) dan perpustakaan digital.

www.digilib.unp.ac.id sebagai bentuk penerapan ICT di perpustakaan UNP merupakan perpustakaan digital berbasis web yang telah mulai dirintis sejak tahun 2005. Sejalan dengan perkembangan, perpustakaan digital UNP telah memungkinkan untuk diaskses oleh segenap civitas akademika di UNP sendiri maupun oleh masyarakat luas.

Beranjak dari hal tersebut, penelitian ini dimaksudkan untuk menggali lebih jauh tentang perubahan perpustakaan dan perubahan perilaku pemustaka dalam kegiatan pemerolehan informasi, meliputi: bentuk perubahan yang dialami oleh perpustakaan, alasan perubahan perilaku masyarakat dalam pencarian informasi, serta media yang digunakan dalam pencarian informasi oleh masyarakat.

 Perpustakaan Sebagai Pusat Informasi

a.      Pengertian Perpustakaan

Perpustakaan merupakan salah satu komponen penting yang berperan dalam proses pencarian, pengolahan dan penyimpanan informasi bagi masyarakat.

Menrut Darmono (2001:2) perpustakaan adalah salah satu unit kerja yang berupa tempat untuk mengumpulkan, menyimpan, mengelola, dan mengatur koleksi bahan pustaka secara sistematis untuk digunakan oleh pemakai sebagai sumber informasi sekaligus sebagai sarana belajar yang menyenangkan.

Sismanto (2008:13) berpendapat bahwa perpustakaan adalah suatu unit kerja dari suatu badan atau lembaga tertentu yang mengelola bahan-bahan pustaka baik berupa buku-buku maupun bukan berupa buku (non book material) yang diatur secara sistematis menurut aturan tertentu sehingga dapat digunakan sebagai sumber informasi oleh setiap pemakainya.

Dalam pengertiannya yang muktakhir seperti yang tercantum dalam keputusan Presiden RI nomor 11, disebutkan bahwa perpustakaan merupakan salah satu sarana pelestarian bahan pustaka sebagai hasil budaya dan mempunyai fungsi sebagai sumber informasi ilmu pengetahuan, teknologi dan kebudayaan dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan menunjang pelaksanaan pembangunan nasional.

Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa perpustakaan adalah suatu organisasi yang bertugas mengumpulkan informasi, mengolah, menyajikan dan melayani kebutuhan informasi bagi pemakai perpustakaan. Dari pengertian tersebut terlihat bahwa perpustakaan adalah suatu organisasi, artinya perpustakaan merupakan suatu badan yang di dalamnya terdapat sekelompok orang yang bertanggung jawab mengatur dan mengendalikan perpustakaan.

b.      Perpustakaan sebagai Sumber Informasi

          Perpustakaan merupakan salah satu dari berbagai macam sumber informasi yang tersedia dilingkungan masyarakat. Mengacu pada definisi sumber informasi dari Association for Information Communication Technology ( AICT ), maka sumber informasi merujuk pada berbagai sumber baik itu berupa data, orang, atau wujud tertentu yang dapat digunakan oleh masyarakatuntuk memperoleh pengetahuan.

Perpustakaan bertujuan menyerap dan menghimpun informasi, mewujudkan suatu wadah pengetahuan yang terorganisasi, menumbuhkan kemampuan menikmati pengalaman imajinatif, membantu perkembangan kecakapan bahasa dan daya pikir, mendidik masyarakat agar dapat menggunakan dan memelihara bahan pustaka secara efisien.

Efektivitas pemakaian perpustakaan oleh penggunanya sangat bergantung pada apa yang tersedia didalamnya. Salah satu yang paling dominan dan menonjol adalah sumber informasi yang tersedia. Dengan menyediakan sumber informasi yang berkualitas disesuaikan dengan situasi dan kondisi pengguna merupakan satu elemen terpenting. Apabila kebutuhan informasi terpenuhi, tentu saja fungsi utama perpustakaan dapat dipastikan berjalan dengan baik. Dan ujung dari kesemuanya adalah kepuasan pengguna.

Perpustakaan dikatakan ideal apabila memenuhi syarat-sayarat sebagai berikut:

a) Berani memantapkan keberadaan lembaga perpustakaan sesuai dengan jenisnya.

b) Selalu meningkatkan mutu melalui pelatihan-pelatihan bagi tenaga pustakawan

c) Melakukan promosi dan menyelenggarakan jaringan kerjasama baik dalam

negeri maupun luar negeri

d)Melakukan upaya-upaya pengembangan dan pembinaan perpustakaan terus menerus dari segi sistem manajemen dan teknis operasional.

Perpustakaan Digital Berbasis Web

Perpustakaan merupakan suatu sarana pembelajaran yang menjadi salah satu kekuatan guna mencerdaskan kehidupan bangsa. Perpustakaan atau library didefinisikan sebagai tempat buku-buku yang diatur untuk dibaca dan dipelajari atau dipakai sebagai bahan rujukan (The Oxford English Dictionary). Istilah perpustakaan juga diartikan sebagai pusat media, pusat belajar, sumber pendidikan, pusat informasi, pusat dokumentasi dan pusat rujukan (The American Library Association dalam Mahmudin, 2006)

Perpustakaan adalah salah satu unit kerja yang berupa tempat untuk mengumpulkan, menyimpan, mengelola, dan mengatur koleksi bahan pustaka secara sistematis untuk digunakan oleh pemakai sebagai sumber informasi sekaligus sebagai sarana belajar yang menyenangkan (Darmono, 2001: 2). Secara lebih umum, Yusuf dan Suhendar (2005:1) menyatakan bahwa perpustakaan adalah suatu tempat yang didalamnya terdapat kegiatan menghimpun, mengelola, dan menyebarluaskan segala macam informasi, baik yang tercetak maupun yang terekam dalam berbagai media seperti buku, majalah, surat kabar, film, kaset, tape recorder, video, komputer, dan lain-lain.

Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahawa peprustakaan merupakan suatu bentuk organisasi yang memiliki tugas untuk mengumpulkan, mengolah, menyajikan, dan melayani kebutuhan informasi para pengguna perpustakaan.

Sebuah perpustakaan dikatakan ideal apabila memenuhi syarat-syarat, sebagai berikut (Subrata, 2009:4) : (a) berani memantapkan keberadaan lembaga perpustakaan sesuai dengan jenisnya, (b) selalu meningkatkan mutu melalui pelatihan-pelatihan bagi tenaga pustakawan, (c) melakukan promosi dan menyelenggarakan jaringan kerjasama dalam maupun luar negeri, (d) melakukan upaya pengembangan dan pembinaan perpustakaan terus-menerus dari segi manajemen dan teknis operasional.

Dalam masyarakat informasi, pengetahuan merupakan sumber daya primer bagi individu maupun publik. Sebagai akibatnya, masyarakat lebih selektif dalam mencari data dan informasi. Selain itu informasi yang lebih efektif dan efisien dalam pemelrolehannya menjadi komiditi utama bagi masyarakat. Selain itu, perkembangan teknologi informasi (TI) yang telah menyebar kesemua aspek kehidupan, tuntutan untuk menciptakan sebuah perpustakaan yang ideal sesuai dengan zaman dan kebutuhan penggunanya pun menjadi sebuah tantangan baru bagi institusi perpustakaan.

Akibatnya, perpustakaan sebagai institusi pengelola informasi sudah seharusnya terjamah penerapan teknologi informasi. Salah satu bentuk penerapan teknologi informasi di perpustakaan yaitu dengan adanya perpustakaan digital.

Menurut Sismanto (2008), perpustakaan digital merupakan sebuah sistem yang memiliki berbagai layanan dan obyek informasi yang mendukung akses obyek informasi tersebut melalui perangkat digital. Layanan ini diharapkan dapat mempermudah pencaharian informasi dalam koleksi obyek informasi seperti dokumen, gambar, dan data base dalam format digital dengan lebih cepat, tepat dan akurat.

Definisi singkat dari perpustakaan digital adalah bentuk perpustakaan yang keseluruhan koleksinya memakai format digital yang disusun dalam sebuah arsitektur komputerisasi. Arsitektur ini disusun dalam sebuah proyek yaitu proyek perpustakaan digital. Penelitian proyek perpustakaan digital menggunakan web atau  WWW (World Wide Web) yang dihubungkan dengan jaringan internet sebagai media penyalur informasi utama. WWW memiliki banyak kelebihan yang didukung berbagai macam protokol komunikasi (HTTPFTP,Gopher), penggunaan HTML sebagai bahasa standar markup, dan kelebihan pada GUI (Graphical User Interface).

Koleksi perpustakaan digital tidak hanya terbatas pada dokumen elektronik pengganti dokumen cetak, akan tetapi koleksinya melingkupi keseluruhan dokumen bahkan yang tidak bisa digantikan dalam bentuk tercetak, seperti artefak digital. Koleksi pada peprustakaan digital lebih menekankan pada isi informasi.

Lesk (dalam Pandit, 2007) memandang bahwa perpustakaan digital secara umum merupakan kumpulan informasi yang tertata secara sistematis dan koleksi tersebut disediakan sebagai jasa dengan pemanfaatan teknologi jaringan informasi.

Perbedaan perpustakaan konvensional dengan perpustakaan digital terlihat pada keberadaan koleksinya. Koleksi perpustakaan konvensional pada umumnya terletak pada sebuah tempat yang menetap, sedangkan koleksi pada perpustakaan digital tidak berada pada sebuah tempat fisik. Perpustakaan konvensional identik dengan ruang dan buku-buku, sedangkan pada perpustakaan digital lebih identik dengan komputer serta internet. Selain itu, perpustakaan konvensional hanya bisa dinikmati oleh pengguna yang datang ke perpustakaan dan berkemungkinan bertempat tinggal disekitar perpustakaan, akan tetapi perpustakaan digital memungkinkan untuk dikunjungi oleh siapa pun, dari mana pun, dan kapan pun.

Perubahan Perpustakaan kearah Perpustakaan Digital Berbasis Web

Perpustakaan digital merupakan sebuah sistem yang memiliki berbagai layanan dan obyek informasi yang mendukung akses obyek informasi tersebut melalui perangkat digital (Sismanto, 2008). Layanan ini diharapkan dapat mempermudah pencarian informasi di dalam koleksi obyek informasi seperti dokumen, gambar dan database dalam format digital dengan cepat, tepat dan akurat.

Perpustakaan digital itu tidak berdiri sendiri, melainkan terkait dengan sumber-sumber lain dan pelayanan informasinya terbuka bagi pengguna diseluruh dunia. Koleksi perpustakaan digital tidaklah terbatas pada dokumen elektronik pengganti bentuk cetak saja, ruang lingkup koleksinya malah samapi pada artefak digital yang tidak bisa digantikan dalam bentuk tercetak. Koleksi menekankan pada isi informasi, jenisnya dari dokumen tradisional sampai hasil penelusuran.

Perbedaan perpustakaan biasa dengan perpustakaan digital terlihat pada keberadaan koleksi. Koleksi digital tidak harus berada disebuah tempat fisik sedangkan koleksi biasa teletak pada sebuah tempat yang menetap yaitu perpustakaan. Perbedaan kedua terlihat dari konsepnya. Konsep perpustakaan digital identik dengan internet atau komputer, sedangkan konsep perpustakaan biasa adalah buku-buku yang terletak pada suatu tempat. Perbedaan ketiga, perpustakaan digital bisa dinikmati pengguna dimana saja.

Ada beberapa hal yang mendasari pemikiran tentang perlu dilakukannya digitalisasi:

  1. 1.Perkembangan teknologi informasi di komputer semakin membuka peluang-peluang baru bagi pengembangan teknologi informasi perpustakaan yang murah dan mudah diimplementasikan oleh perpustakaan di Indonesia. Oleh karena itu, saat ini teknologi informasi sudah menjadi keharusan bagi perpustakaan di Indonesia, terlebih untuk menghadapi tuntutan kebutuhan kebutuhan bangsa Indonesia sebuah masyarakat yang berbasis pengetahuan terhadap informasi di masa mendatang.
  2. 2.Perpustakaan sebagai lembaga edukatif, informative, perservatif dan rekreatif yang diterjemahkan sebagai bagian aktifitas ilmiah, tempat penelitian, tempat pencarian data/informasi yang otentik, tempat menyimpan, tempat menyelenggarakan seminar dan diskusi ilmiah, tempat rekreasi edukatif, dan komtemplatif bagi masyarakat luas. Maka perlu didukung dengan sistem teknologi informasi masa kini dan masa yang akan datang yang sesuai dengan kebutuhan untuk mengakomodir aktifitas tersebut, sehingga informasi dari seluruh koleksi yang ada dapat diakses oleh berbagai pihak yang membutuhkannya dari dalam maupun luar negeri.
  3. 3.Dengan fasilitas digitalisasi perpustakaan, maka koleksi-koleksi yang ada dapat dibaca/dimanfaatkan oleh masyarakat luas baik di Indonesia, maupun dunia internasional.
  4. 4.Volume pekerjaan perpustakaan yang akan mengelola puluhan ribu hingga ratusan ribu, bahkan bisa jutaan koleksi, dengan layanan mencakup masyarakat sekolah (peserta didik, tenaga kependidikan dan masyarakat luas), sehingga perlu didukung dengan sistem otomasi yang futuristic (punya jangkauan kedepan), sehingga selalu dapat mempertahankan layanan yang prima.
  5. 5.Saat ini sudah banyak perpustakaan, khususnya di perguruan tinggi dengan kemampuan dan inisiatifnya sendiri telah merintis pengembangan teknologi informasi dengan mendigitasi perpustakaan (digital library) dan libarary automation yang saat ini sudah mampu membuat jaringan Perpustakaan Digital Nasional (Indonesian Digital Library Network).

Profil Perpustakaan NP

Menurut PP No. 60 th 1999. dan Kepmendikbud No. 0276/ 0/1999 perpustakaan adalah unit pelaksana teknis di bidang perpustakaan yang menunjang pelaksanaan tridharma perguruan tinggi. Perpustakaan mempunyai tugas memberikan pelayanan bahan pustaka untuk keperluan pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat Untuk menyelenggarakan tugas tersebut, perpustakaan mempunyai fungsi (a) menyediakan dan mengolah bahan pustaka, (b) memberikan layanan dan pendayagunaan bahan pustaka (a) memelihara bahan pustaka (d) melakukan layanan referensi, dan (e) melakukan urusan tata usaha pustaka.

UPT Perpustakaan UNP sebagai salah satu lembaga pelaksanan teknis Universitas Negeri Padang terdiri dari perpustakaan pusat, ruang baca fakultas, ruang baca jurusan dan ruang baca pada setiap UPP PGSD (Lubuk Buaya, Bandar Buat, dan Bukittinggi). UPT Perpustakaan ini, semejak tahun 1994 telah menempati gedung baru bertingkat lima dengan luas sekitar 5000 m². Pada gedung ini terdapat beberapa ruangan yang antara lain ruang: AVA, Kerja Pustakawan, proyeksi film, penjilidan, baca dosen/pasca sarjana, ruang internet, koleksi utama dan ruang baca mahasiswa.

Data hasil laporan tahunan, Perpustakaan UNP memiliki jumlah koleksi 72.008 judul dengan jumlah eksemplar sebanyak 223.399. Koleksi tersebut terdiri dari buku teks 41.904 judul dengan jumlah 190.640 eksemplar, karya ilmiah 29.534 judul dengan jumlah eksemplar yang sama, koleksi referensi 561 judul dengan jumlah 2.244 eksemplar serta koleksi terbitan berkala (majalah, buletin, jurnal) 9 judul dengan jumlah 981 eksemplar.

Perpustakaan UNP memiliki fasilitas dan koleksi yang hampir mencukupi kebutuhan pemustaka.  Jumlah koleksi yang dimiliki perpustakaan UNP sudah memadai dengan jumlah anggota perpustakaan berdasarkan pedoman penghitungan koleksi perpustakaan perguruan  tinggi. Hasil laporan tahunan Perpustakaan UNP, pengunjung dalam satu hari berkisar 413 orang atau 1,3% dari jumlah pengguna yang terdaftar, dan yang melakukan transaksi peminjaman kurang lebih 85 orang dalam satu hari.

Perubahan Perpustakaan UNP kearah Perpustakaan Digital Berbasis Web

            Berdasarkan data yang diperoleh dalam penelitian, dapat dikatakan bahwa perubahan yang terjadi di Perpustakaan Universitas Negeri Padang (UNP) sejalan dengan perkembangan informasi dan teknologi informasi, yakni:

  1. 1.Penerapan dan pengembangan automasi perpustakaan

Kegiatan automasi perpustakaan merupakan sebuah proses pengelolaan perpustakaan dengan menggunakan bantuan teknologi informasi sehingga menciptakan efisiensi dan efektifitas dalam pekerjaan.  Dengan bantuan teknologi informasi ini, maka beberapa pekerjaan manual dapat dipercepat dan diefisienkan. Selain itu proses pengolahan data koleksi menjadi lebih akurat dan lebih cepat ditelusur kembali. Dengan demikian para pustakawan dapat menggunakan waktu lebih untuk mengembangkan perpustakaan.

Sistem automasi perpustakaan yang baik adalah sistem yang terintegrasi, mulai dari pengadaan bahan pustaka, pengolahan, sistem temu kembali, sistem sirkulasi, sistem keanggotaan, pengaturan denda keterlambatan, dan sistem reporting aktifitas perpustakaan dengan berbagai parameter lainnya. Sistem automasi perpustakaan akan lebih sempurna lagi apabila dilengkapi dengan barcordingdan mekanisme pengaksesan data berbasis web di internet.

Sebuah sistem automasi perpustakaan umumnya terdiri dari 3 komponen utama, yakni sumber daya manusia, pangkalan data, dan perangkat automasi. Sumber daya manusia yang dimaksud disini tidak hanya pustakawan, akan tetapi juga pemustaka yang merupakan target dan tujuan utama kita dalam peningkatan layanan melalui program automasi.

Pangkalan data merupakan keseluruhan koleksi yang tersedia di perpustakaan, yang pada awalnya diorganisir secara manual. Pemanfaatan teknologi informasi dalam pengolahan koleksi perpustakaan ini harus tetap berada pada koridor kaidah-kaidah pengolahan koleksi di perpustakaan, hanya medianya saja yang diganti. Sedangkan perangkat automasi yang digunakan terdiri dari perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (software). Tanpa adanya dua perangkat automasi ini secara memadai, maka proses automasi tidak akan berjalan dengan baik.

Perpustakaan UNP telah melaksanakan kegiatan automasi perpustakaan sejak tahun 1998. Kegiatan automasi ini pada awalnya bukanlah sebuah kegiatan yang terintegrasi antara satu bidang pekerjaan dengan bidang pekerjaan lainnya, akan tetapi lebih kepada komputerisasi pekerjaan. Seiring perkembangan teknologi informasi yang digunakan di perpustakaan UNP, kegiatan automasi ini kemudian menjadi sebuah kegiatan yang terintegritas didalam sluruh unit kegiatan di perpustakaan, sehingga seluruh kegiatan yang ada di perpustakaan UNP dapat lebih terkoordinir.

  1. 1.Penggunaan OPAC (Online Public Catalouge Acess)
  2. 2.Pengembangan Dokumen Elektronik

Koleksi yang terus bertambah di perpustakaan UNP setiap tahunnya membutuhkan tempat dan ruang dan dana yang lebih besar dalam pngelolaannya. Untuk meminimalisir penggunaan ruang di perpustakaan, salah satu hal yang bisa dilakukan yakni dengan mengembangkan sistem dokumen elektronik. Proses pengelolaan dokumen elektronik memiliki beberapa tahapan, yakni proses digitalisasi dokumen, proses penyimpanan, dan proses temu kembali dokumen. Kegiatan-kegiatan tersebut sangat berbeda dengan proses pengelolaan dokumen tercetak. Akan tetapi pengelolaan dokumen elektronik yang baik dan terstruktur akan menjadi sebuah dasar yang bagus dalam pengembangan sistem automasi perpustakaan bahkan digitalisasi perpustakaan.

  1. 1.Transformasi dari Perpustakaan Tradisional ke Perpustakaan Digital Berbasis Web

Digital library atau sistem perpustakaan digital merupakan konsep menggunakan internet dan teknologi informasi dalam manajemen perpustakaan. Pengembangan perpustakaan digital atau e-library bagi tenaga pengelola perpustakaan dapat membantu pekerjaan di perpustakaan melalui fungsi sistem otomasi perpustakaan, sehingga proses pengelolaan perpustakaan lebih efektif dan efisien. Sementara itu, perpustakaan digital atau e-library bagi pengguna perpustakaan dapat membantu mencari sumber-sumber informasi yang diinginkan dengan menggunakan katalog on-line yang dapat diakses melalui intranet maupun internet, sehingga pencarian informasi dapat dilakukan kapan pun dan di mana pun.

Pepustakaan digital dihadirkan guna memberikan solusi bagi perpustakaan konvensional yang biasanya memiliki keterbatasan dalam hal tempat dan koleksi. Selain itu, perpustakaan digital diharapkan mampu menawarkan kemudahan bagi para pemustaka untuk mengakses sumber-sumber elektronik dengan alat yang menyenangkan pada waktu dan kesempatan yang tidak terbatas. Pengguna bisa memanfaatkan sumber-sumber informasi tersebut tanpa harus terikat kepada jam operasional perpustakaan.

www.digilib.unp.ac.id sebagai bentuk penerapan ICT di perpustakaan UNP merupakan perpustakaan digital berbasis web yang telah mulai dirintis sejak 1980-an oleh salah seorang pustakawan Perpustakaan Universitas Negeri Padang. Akan tetapi program tersebut tidak berjalan seperti yang diharapakn karena sikap pustakawan dan pembuat kebijakan yang kurang responsif. Sejalan dengan perkembangan, perpustakaan digital UNP telah memungkinkan untuk diaskses oleh seluruh masyarakat UNP maupun masyarakat di luar UNP. Akan tetapi sosialisasi mutlak diperlukan agar www.unp.ac.id lebih dikenal. Perpustakaan dalam hal ini pustakawan mempunyai tanggungjawab penuh untuk mempublikasikan www.digilib.unp.ac.id kepada masyarakat luas. Akan tetapi dalam kenyataannya, www.digilib.unp.ac.id masih menyediakan fasilitas yang sangat minim dan terbatas bagi pemustaka. Digilib lebih difungsikan sebagai alat bantu penelusuran informasi secara elektronik yang memudahkan pemustaka untuk mencari koleksi yang dibutuhkan pada pada perpustakaan. Digilib belum mampu menyediakan fasilitas full text book sehingga pemustaka belum bisa mengakses buku elektronik seperti apa yang harusnya tersedia di sebuah perpustakaan digital.

www.digilib.unp.ac.id diharapkan mampu menjadi alternatif sumber informasi bagi pemustaka, akan tetapi karena digilib masih dalam proses pengembangan hal tersebut sangat sulit untuk dapat direalisasikan. Banyak faktor yag menyebabkan pemustaka masih enggan menggunakan digilib, dismaping sosialisasi yang minim.  Koleksi digilib yang masih terbatas pada abstrak tugas akhir mahasiswa serta beberapa abstrak dari buku-buku pilihanmenjadi penyebab utama tidak diminatinya digilib. www.digilib.unp.ac.id pengembangan dan pemanfaatannya masih sebatas alat telusur on-line. Digilib belum mampu menyediakan sumber informasi atau buku dalam bentuk elektronik. Tampilan digilib yang kurang menarik serta pilihan menu yang sangat terbatas menjadi alasan lain tidak larisnya digilib dikalangan pemustaka.

Eksistensi Perpustakaan Digital www.digilib.unp.ac.id

1. User Interface

Perpustakaan digital berbasis web memiliki banyak informasi, dan informasi tersebut harus dikemas dalam sebuah halaman web yang bersifat informatif, jelas, dan tepat sasaran agar bisa diakses oleh pemustaka sesuai dengan kebutuhan informasi permustaka.Oleh karena itu dalam membangun sebuah perpustakaan digital perlu diperhatikan tampilan antar muka yang akan menjembatani penyampaian informasi antara pustakawan dengan pemustaka. Tampilan tersebut dikenal dengan istilah user interface.

User interface bertujuan untuk mengkomunikasikan fitur-fitur yang tersedia agar user mengerti dan dapat menggunakan sistem tersebut.  Dalam buku Introductioun to Digital Library, dikemukakan beberapa pendapat ahli tentang user interface, diantaranya:

a)      Mitchell, 1999:  user interface is the means by which information is transferred between the users and the computer and vice versa…that well designed user interface should allow users to find and use the informations that the information system provides accses to more effectively.

b)      Hearst, 1999: interface designer must make decision about how to arrange various kinds of information on the screen and how to structure the possible sequences of our system interactions

c)      Bates, 2002: …interface design is pivotal to the effective use of an information system, and the application environment of information retrieval system has its own distinctive needs and characteristic that need to be understood and addressed in design.(Chawdory, 2004:162-164)

Dari pendapat tersebut bisa diartikan bahwa user interface merupakan salah satu media yang digunakan untuk mengkomunikasikan apa yang dimiliki oleh perpustakaan kepada pemustaka dan bagaimana cara perpustakaan menyampaikan hal tersebut kepada pemustaka . Prakteknya, user interface perlu didesain semenarik dan se-interaktif mungkin sehingga pemustaka tidak mengalami kesulitan dalam proses penelusuran informasi. Penggunaan lambang atau symbol, warna, jendela atau windows, fitur-fitur, widget, sertabox dalam sebuah user interface sangat menentukan. Selain itu, penggunaan teks-teks singkat pada lambang, tombol, atau kotak-kotak input juga sangat diperlukan untuk membantu pemustaka dalam mencari informasi yang diperlukan.

Menurut Chawdory, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mendesain sebuah user interface, yakni: perspective wall, cone tree, document lenses, hyperbolic tree browser, brushing and linking, panning and zooming, and focus plus context (Chawdury, 2004:165).

Akan tetapi yang menjadi permasalahan utama dalam merancang sebuah user interface yang komunikatif adalah terbatasnya pengetahuan pustakawan tentang kebutuhan pemustaka. Tak jarang tampilan user interface sebuah perpustakaan digital justru membingungkan pemustaka. Oleh karena itu, user interface harus dibuat sederhana akan tetapi lengkap dan mudah.

Userinterface yang dimiliki oleh www.digilib.unp.ac.id didominasi oleh tulisan-tulisan. Perpustakaan digital ini sangat minim icon atau lambang. Selain itu, user interface www.digilib.unp.ac.id dinilai masih sangat sederhana dan kurang komunikatif.

Gambar 1. User Interface www.digilib.unp.ac.id

Kekurangan umum yang dimiliki oleh sebuah user interface perpustakaan digital yakni,

  1. 1.tidakhome
  2. 2.Tidak adanya informasi-informasi umum seputar perpustakaan, seperti jam buka perpustakaan, layanan yang disediakan, lokasi perpustakaan, dan sebagainya
  3. 3.Tidak adanya FAQ (Frequent Answer Question)
  4. 4.Tidak adanyaon-line
  5. 5.Tidak adanya fasilitas bahasa yang memungkinkan pengunjung selain pengguna bahasa Indonesia untuk berinteraksi
  6. 6.Tidaklink-link

2.  Information Acsess

Kunci keberhasilan sebuah perpustakaan bisa dilihat dari seberapa cepat akses informasi yang bisa disediakan oleh perpustakaan dan seberapa banyak informasi yang tersedia bisa diakses oleh pemustaka. Oleh karena itu, pemanfaatan dan pengembangan teknologi untuk akses informasi sangat penting.

Chowdury menyatakan, terdapat dua model dasar dalam proses akses informasi di sebuah perpustakaan digital, yakni melalui browsingdan searching (Chowdury, 2004). Menurut Chowdury, perbedaan mendasar antara model browsing dan searching terletak pada penyedian data dan proses pencarian data oleh pengguna.

Sistem browsing, sebagai ilustrasi pemustaka akan diberikan beberapa pilihan, seperti judul, pengarang, atau penerbit dimana setiap pilihan tersebut disusun menurut abjad. Pemustaka tinggal meng-klik pada salah satu pilihan dan kemudian akan muncul semua koleksi yang dimiliki oleh perpustakaan sesuai dengan kategori yang dipilih. Pada sistem browsing, pemustaka dimanjakan dengan data yang telah tersusun secara rapi.

Berbeda dengan model browsing, searching memungkinkan pemustaka untuk mencari infromasi sesuai dengan apa yang dinginkan. Pemustaka hanya perlu memasukkan beberapa kata kunci yang relevan dengan informasi yang hendak dicari. Terkadang untuk mempersempit wilayah jelajah, pemustaka diberikan alternative bantuan seperti kata apa yang perlu dan tidak perlu dimuat dalam pencarian,  atau tanggal publikasi, atau tempat publikasi, dan sebagainya. Pada umumnya, perpustakaan digital menggunakan model akses informasi yang kedua.

Perpustakaan www.digilib.unp.ac.id menyediakan fasilitas akses koleksi dengan menggunakan metode searching.

Gambar 2. Information Acsess www.digilib.unp.ac.id

3.   Manajemen Koleksi www.digilib.unp.ac.id

Menurut Glossary yang dikeluarkan oleh African Digital Library, African Digital Library, yang dimaksud dengan koleksi digital adalah an electronic interned based collection of information that is normally found in hard copy, but converted to a computer compatible format. Koleksi digital sebenarnya dapat dipahami sebagai koleksi perpustakaan dalam bentuk elektronik atau digital yang mungkin juga terdapat dalam bentuk cetak, yang dapat diakses secara luas menggunakan media computer dan sejenisnya. Koleksi dapat bermacam-macam, dapat berupa buku elektronik, jurnal elektronik, database online, statistic elektronik dan lain sebagainya.

Hal terpenting dalam manajemen koleksi di sebuah peprustakaan digital adalah proses penyeleksian jenis bahan pustaka yang akan dimuat. Tidak semua koleksi bisa dimuat disebuah perpustakaan digital, hal tersebut selain dikarenakan keterbatasan teknologi yang dimiliki oleh sebuah perpustakaan digital, juga disebabkan kebutuhan informasi dari pemustaka.

Menurut Clayton dan Gordman dalam Chowdury, ada beberapa hal yang bisa dipertimbangakan dalam menetukan kriteria dalam pengadaan koleksi digital yakni, the authority of creator, scope, treatment and level, arrangement, format, dan special future (Chowdury, 2004:92). Clayton juga menambahkan beberapa factor yang patut dipertimbangkan dalam penyeleksian sumber informasi dalam bentuk digital yakni, content, quality, currency; hardware, software and network; the version of the product; the number of current users followed; acsess control; price and licensing copyright; database features; archiving prosedurs (Chowdury, 2004:93).

     Koleksi perpustakaan digital UNP dinilai kurang memadai dan mencukupi, baik dari segi subjek ilmu maupun dari segi kuantitas. Banyak diatara koleksi tersebut sudah tidak mutakhir lagi dan sudah tidak sesaui dengan perkembangan ilmu. Perpustakaan UNP dinilai cukup lamban dalam proses pengadaan. Hal ini dikarenakan sistem penganggaran dalam sebuah perpustakaan perguruan tinggi milik pemerintah kurang fleksibel dengan kebutuhan informasi dari masyarakat.

 

Kendala dan Hambatan dalam Proses Perubahan Perpustakaan Kearah Perpustakaan Digital Berbasis Web

Selain kemampuan untuk mengembangkan koleksi baik dari segi kuantitas maupun kecepatan akses, ada beberapa keunggulan lain dari perpustakaan digital diantaranya. Pertama, long distance service, dengan perpustakaan digital pengguna bisa menikamati layanan sepuasnya, kapan pun dan dimana pun. Kedua, Akses yang mudah karena pengguna tidak dipusingkan dengan katalog, nomor klasifikasi, serta mencari pada susunan rak yang bisa memakan waktu lama. Ketiga, Murah, pengguna peprustakaan digital tidak memerlukan banyak biaya dalam proses pemerolehan informasi. Keempat, Mencegah duplikasi dan plagiat. Kelima, Publikasi karya secara global. Dengan adanya perpustakaan digital, karya-karya dapat dipublikasikan secara global keseluruh dunia.

      Akan tetapi dalam kenyataannya, www.digilib.unp.ac.id masih menyediakan fasilitas yang sangat minim dan terbatas bagi pemustaka. Digilib lebih difungsikan sebagai alat bantu penelusuran informasi secara elektronik yang memudahkan pemustaka untuk mencari koleksi yang dibutuhkan pada pada perpustakaan. Digilib belum mampu menyediakan fasilitas full text book sehingga pemustaka belum bisa mengakses buku elektronik seperti apa yang harusnya tersedia di sebuah perpustakaan digital.

Simpulan

Kesimpulan yang bias didapatkan dari penelitian tentang perpustakaan digital berbasis web www.digilib.unp.ac.id. Yaitu :

  1. 1.Perpustakaan Universitas Negeri Padang (UNP) seiring perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah melakukan perubahan, mulai dari automasi, digitalisasi koleksi hingga pengembangan perpustakaan digital berbasis web, yakniwww.digilib.unp.ac.id.
  2. 2.Tampilanwww.digilib.unp.ac.id dinilai sangat sederhana, kurang menarik, dan tidak bersifat interaktif. Pemustaka yang melakukan penelusuran informasi melalui www.digilib.unp.ac.id masih belum menemukan link-link yang terkait dengan informasi yang dibutuhkan. Disamping itu, pilihan menu pada tampilan www.digilib.unp.ac.id masih sangat terbatas, sehingga tak jurang pemustaka enggan untuk menggunakan jasa digilib dalam proses pencarian, penelusuran, maupun pemerolehan informasi. Keterbatasan hardware dan software pun menyebabkan akses pemustaka terhadap digilib terkadang tersendat-sendat bahkan tak jarang terputus.
  3. 3.www.digilib.unp.ac.id masih belum bisa dikatakan sebagai perpustakaanwww.digilib.unp.ac.id memiliki program terbatas pada alat penelusuran informasi on-line. Digilib hanya berisi data-data buku yang ada di perpustakaan serta abstrak dari tugas akhir dan penelitian mahasiswa. Dalam digilib pemustaka belum menemukan buku elektronik atau buku yang bersifat full text.

Saran

Saran yang bisa diberikan berhubungan dengan www.digilib.unp.ac.id dalam membentuk citra positif perpustakaan, yaitu.

  1. 1.Perpustakaan terutama pustakawan dituntut untuk lebih bersifat pro aktif dalamm mensosialisasikan perpustakaan, baik itu perpustakaan konvensional maupun perpustakaan digital.
  2. 2.Perpustakaan harus lebih peka terhadap kebutuhan pemustaka. Hal ini bisa dilakukan melalui angket atau interview yang dilakukan dengan pemustaka sehingga koleksi yang ada di perpustakaan sesuai dengan kebutuhan pemustaka
  3. 3.Proses pengadaan koleksi harus memertimbangakan aspek kebutuhan pengguna dan koleksi yang diharapkan lebih mutakhir dan relevan dengan kebutuhan
  4. 4.www.digilib.unp.ac.id diharapkan tidak hanya sebatason-line kan tetapi dituntut untuk mampu menyediakan buku elektronik bagi pemustaka
  5. 5.www.digilib.unp.ac.id harus disempurnakan dan tampilan serta menu yang disediakan agar lebih variatif

Daftar Pustaka

Bafadal, Ibrahim. 2006.Pengelolaan Perpustakaan. Jakarta: Bumi Aksara

Bajpai. 2004. Digital Libraries and Information Services. India: Shree Publsh

Bavakutty. 2004. Information Acsses in Technology Ages. India: Ess Ess Publsh

Darmono. 2001. Manajemen dan Tata Kerja Perpustakaan. Jakarta: Gramedia

2007. Menjadi Pintar: Perpustakaan Sekolah sebagai Sumber Belajar Siswa. Malang: PenerbitUNM

Griffin, Gill.2005. Costumer Loyalty. Jakarta: Erlangga

Hasibuan, Zainal. 2005. Pengembangan Perpustakaan Digital. Makalah Pelatihan

Pengelolaan Perpustakaan Perguruan Tinggi. Cisarua, Mei 2005.

Jefkins, Frank. 2003. Public Relation. Jakarta:Erlangga.

Mahmudin. 2006. Pengantar Ilmu Perpustakaan (on-line). http://www/ipi.or.id/unpas/materio-07-06.doc, diakses 20 maret 2010.

Pendit, Putu Lexmana. 2007. Perpustakaan Digital: Perspektif Perpustakaan PTN. Jakarta: Agung

Ruslan, Rosady. 1999.  Praktek dan Solusi Public dalam Situasi Krisis dalam Pemulihan Citra. Jakarta: Ghil Indoensiao.

Saleh, Soemirat.2001.Fungsi Perpsutakaan Kampus dalam Pembinaan Budaya Baca. Bandung: Unisba.

Subrata, Gatot. 2009. Perpustakaan Digital. Malang: Penerbit UNM.

Sugiyono. 2008. Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif. Bandung: Alfabeta

Supriyono. 2008. Teknologi Informasi Perpustakaan. Jogyakarta: Kanisius.