UNDIP, Semarang (1/2) – Hari Buruh Internasional yang diperingati setiap 1 Mei bukan sekadar momentum untuk menuntut hak, tetapi juga refleksi atas kekuatan “pena” dalam mengubah nasib bangsa. Di lingkungan akademis, semangat ini diterjemahkan melalui literasi. Di era banjir informasi, literasi riset adalah jangkar yang menjaga kebenaran tetap tegak.
Bagi sivitas akademika, memaknai bekerja adalah meneliti dan membukukan gagasan. Riset-riset yang dilakukan di laboratorium atau lapangan adalah bentuk dedikasi intelektual. Literasi menjadi jembatan yang menghubungkan hasil kerja keras peneliti dengan kebutuhan praktis masyarakat. Esensi bekerja telah melampaui batas-batas fisik, ia bermuara pada aktivitas meneliti dan membukukan gagasan. Setiap jam yang dihabiskan di laboratorium, setiap tetes keringat di lapangan, adalah bentuk dedikasi intelektual yang setara dengan kerja keras di lini produksi industri.
Momen Hari Buruh ini menjadi pengingat bahwa Buruh, Peneliti, dan Penulis adalah satu kesatuan penggerak perubahan. Mari Mengabdi Lewat Ilmu, Bekerja Lewat Pena karena setiap buku yang terbit adalah saksi dari kerja cerdas, ketekunan, dan riset yang mendalam. Dari naskah menjadi karya, dari gagasan menjadi inspirasi dunia. (Perpus UNDIP)