Kartini, Literasi, dan Kemerdekaan: Sebuah Perjalanan Menuju Cahaya

UNDIP, Semarang (21/4) – Lebih dari satu abad yang lalu, Raden Ajeng Kartini mengubah dunia melalui goresan pena dan surat-suratnya. Hari ini, semangat “Habis Gelap Terbitlah Terang” tidak lagi hanya bergema dalam lembaran kertas, namun merefleksikan bahwa literasi adalah kunci utama emansipasi yang paling hakiki.

Memperingati Hari Kartini tahun ini, UPT Perpustakaan dan UNDIP Press memandang bahwa setiap jurnal yang dibaca dan setiap riset yang lahir adalah bentuk emansipasi yang terus tumbuh. Literasi menjadi pelita baru yang memastikan bahwa cahaya pengetahuan akan selalu terbit, menghalau gelapnya disinformasi.

Jika dahulu Kartini berjuang untuk akses pendidikan dasar bagi perempuan, kini tantangan beralih pada bagaimana perempuan mengelola arus informasi yang tak terbatas. Literasi bukan lagi sekadar kemampuan membaca, melainkan kecakapan dalam membedakan fakta, membangun narasi kritis, dan menciptakan karya riset yang berdampak global.

“Kartini adalah simbol literasi sejati. Beliau membuktikan bahwa pemikiran yang dituliskan dapat meruntuhkan tembok keterbatasan. Di era digital ini, pena Kartini terus menari di tangan sivitas akademika UNDIP melalui akses informasi yang tanpa batas,” ungkap Suwondo, S.Hum., M.Kom., selaku Kepala UPT Perpustakaan dan UNDIP Press.

Perkembangan literasi menuntut adaptasi cepat. Perpustakaan UNDIP menjadi hub kolaborasi, literasi bukan lagi tentang diam di perpustakaan, melainkan tentang bergerak aktif menciptakan perubahan. Peringatan Hari Kartini menjadi momentum bagi masyarakat untuk menyadari bahwa kecerdasan literasi adalah kunci kemerdekaan yang sesungguhnya.

Dengan literasi yang kuat, perempuan menjadi motor penggerak inovasi yang membawa harum nama bangsa di kancah internasional. Selamat Hari Kartini, Habis Gelap, Terbitlah Literasi yang Mencerahkan. (Perpus UNDIP)