UNDIP, Semarang (25/2) – Kehadiran Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI) telah mengubah cara mahasiswa mengakses informasi. Hanya dalam hitungan detik, berbagai platform AI mampu menyajikan rangkuman hingga jawaban atas persoalan akademik yang kompleks. Namun, di balik kemudahan tersebut, tersimpan tantangan besar bagi integritas dan budaya literasi di lingkungan kampus.
Menanggapi fenomena ini, Kepala UPT Perpustakaan dan UNDIP Press, Suwondo, S.Hum., M.Kom., mengajak seluruh sivitas akademika untuk lebih bijak dan tetap mengedepankan berpikir kritis (critical thinking) dalam menggunakan teknologi AI.
“Di era digital, literasi kini maknanya telah bergeser. Tidak lagi sekadar kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan menganalisis, mempertanyakan keakuratan data, serta mengevaluasi relevansi sumber yang digunakan,” ungkapnya.
“Penggunaan AI dalam kegiatan akademik pada dasarnya adalah peluang besar jika diposisikan sebagai alat bantu, misalnya untuk menyusun kerangka awal tulisan atau memahami konsep umum. Namun, menjadi persoalan serius jika informasi tersebut ditelan mentah-mentah tanpa proses verifikasi,” lanjutnya.
Informasi yang dihasilkan AI tidak selalu akurat, mutakhir, atau sesuai dengan konteks ilmiah tertentu. Seringkali AI menghasilkan data yang tampak meyakinkan namun tidak memiliki dasar referensi yang nyata.
Oleh karena itu, mahasiswa sangat disarankan untuk tetap melakukan cross-check terhadap sumber-sumber kredibel yang telah disediakan oleh perpustakaan UNDIP, seperti buku referensi fisik di rak perpustakaan dan e-journal yang dilanggan UNDIP.
Suwondo menyampaikan berpikir kritis juga mencakup kemampuan mengenali bias dan membedakan antara opini dan fakta. Literasi bukan sekadar kemahiran teknis mengoperasikan gadget, melainkan sikap intelektual yang menekankan tanggung jawab.
“Jadilah pembelajar yang cerdas dan bertanggung jawab. Gunakan AI sebagai kompas untuk mengarahkan, namun biarkan pikiran kritis kita yang menentukan tujuan akhirnya,””pungkasnya.
Sentuh teknologi pertajam nalar, bersama Perpustakaan UNDIP, jadilah pembelajar aktif yang tak hanya melihat informasi, tapi mampu menguji kebenaran dengan integritas. (Perpus UNDIP/SOR)