UNDIP, Semarang (3/2) – Citra pustakawan sebagai sosok pendiam yang hanya merapikan buku di balik rak kini telah usang. Saat ini, pustakawan menjadi Knowledge Navigator, seorang navigator ilmu pengetahuan yang cerdas, adaptif, inovatif, dan melek teknologi. Tidak lagi sekadar pendukung administratif tetapi juga terlibat aktif dalam bidang riset.
Pustakawan terus mengikuti perkembangan teknologi informasi, memperbarui kemampuan dalam bidang Data Science dan AI. Peran ini dirasakan oleh Fahimah, S.Sos., Pustakawan Muda Fakultas Hukum Universitas Diponegoro. Menurutnya, pustakawan saat ini adalah mitra strategis yang terlibat langsung dalam siklus riset, mulai dari tahap konseptual hingga publikasi ilmiah. Dengan kolaborasi erat antara peneliti dan pustakawan, kualitas output riset nasional diharapkan tidak hanya meningkat secara kuantitas, tetapi juga memiliki dampak ilmiah yang nyata bagi dunia
“Pustakawan harus pintar dalam pendampingan riset, pengolahan data, penulisan, penelusuran literatur menggunakan AI, dan melek teknologi yang berhubungan dengan literasi,” ungkap Fahim.
Bagi Fahim, esensi seorang pustakawan terletak pada kebermanfaatannya bagi orang lain. Seperti halnya buku di rak perpustakaan, tenang, namun mampu mengubah hidup siapa pun yang membukanya. Manusia yang bermanfaat adalah mereka yang hadir untuk memberi petunjuk, seperti katalog yang memandu pengunjung di tengah ribuan koleksi buku.
Ia menyampaikan pesan bagi generasi muda yang hidup di tengah kepungan media sosial. Media sosial seringkali hanya memberi apa yang kita sukai, namun perpustakaan memberikan apa yang kita butuhkan.
“Jangan biarkan pola pikir kalian terkurung dalam ruang gema yang hanya memperkuat apa yang sudah kalian percayai,” tegasnya.
Fahim juga mengajak anak muda untuk membangun identitas intelektual melalui riset yang jujur dan bacaan yang berkualitas. (Perpus UNDIP)