Ida F Priyanto
Perpustakaan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia
Idafp75@gmail.com

(makalah presentasi seminar Universitas Brawijaya, Malang, 29 September 2015)

Pendahuluan

Dalam kurun waktu dua sampai tiga dasa warsa terakhir, telah banyak terjadi perubahan yang luar biasa besar dalam hal penyediaan, format, dan cara mendiseminasi informasi dan pengetahuan. Pada akhir dasa warsa 80-an, komputer mulai memasuki perpustakaan dan mengubah cara perpustakaan memproduksi metadata: dari produksi manual denan mesin ketik menjadi tercetak melalui printer. Pada awal decade 90-an, perubahan besar mulai terjadi saat perpustakaan tidak lagi memproduksi metadata tercetak dan menggantikannya dengan penyediaan computer sebagai media untuk menyimpan metadata lokal. Perubahan terus terjadi sampai akhirnya banyak sumber informasi dan pengetahuan tersedia secara online dan perpustakaan menyediakan akses ke sumber informasi yang dilanggan dalam bentuk ejournals maupun database. Di negara maju dalam 10 tahun terakhir juga mulai mengurangi rak-rak perpustakaan dan membuang atau memindahkan koleksi cetak ke tempat penyimpanan di luar perpustakaan. Era baru perpustakaan yang hadir saat ini telah mengubah dunia perpustakaan secara umum.

Empat pendorong perubahan dalam dunia perpustakaan:

Ada beberapa hal yang telah mendorong terjadinya perubahan dalam dunia kepustakawan dan perpustakaan secara umum dan hal itu terjadi karena adanya perubahan dan perkembangan baru yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Perubahan-perubahan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

Pertama, adanya kenaikan harga-harga sumber-sumber informasi (unsustainable costs). Pergeseran dalam dunia industri informasi saat ini cukup menarik untuk diperhatikan. Di akhir abad 20, harga informasi dalam bentuk digital lebih mahal dibandingkan dengan harga informasi dalam bentuk cetak. Namun belakangan ini, harga sumber informasi cetak justru semakin mahal dibandingkan dengan harga sumber informasi dalam bentuk digital maupun online. Namun demikian, harga sumber informasi tersebut juga terus bergerak naik. Bahkan kenaikan harga database di awal abad 21 berkisar antara 27 sampai 94 persen per tahun (Swan, 2006). Hal yang sebenarnya terjadi adalah bahwa beban komunikasi ilmiah selalu ada pada pihak akademik dan pendukung-pendukungnya (Conley and Wooders, 2009, p. 75).

Kedua, hadirnya sumber informasi alternatif yang dapat digunakan (viable alternatives) yang dapat digunakan oleh masyarakat dengan mudah dan cepat. Penelusuran informasi tidak lagi tergantung pada katalog offline maupun online dari perpustakaan. Di akhir abad 20, telah muncul media penelusuran online seperti Altavista, web crawler, Meta crawler, Accufind, Ask Jeeves, Yahoo, Infoseek, dan Netscape yang memudahkan orang mendapatkan informasi. Saat ini Google, yang muncul sejak tahun 1998, merupakan search engine paling besar di dunia dan paling banyak digunakan. Bahkan ada kekhawatiran Google akan mampu menggantikan perpustakaan di masa depan.

Ketiga, menurunnya jumlah pemanfaatan sumber informasi yang ada di perpustakaan secara fisik (declining usage). Kemudahan akses atau prosedur dalam memanfaatkan sumber informasi dan format digital dari informasi menjadi kunci meningkatnya kebutuhan informasi digital. Menurunnya kebutuhan informasi secara fisik di perpustakaan juga terjadi karena ada pergeseran penggunaan media (dari cetak ke digital).

Keempat, terjadi perubahan kebutuhan dan keinginan para pemustaka (new patron demand). Hal ini terjadi karena perubahan gaya hidup yang berpengaruh pada gaya belajar. Kalua pada masa lalu belajar membutuhkan ketenangan suasana, saat ini belajar tidak lagi memerlukan suasana yang sepi. Namun demikian, perpustakaan sekarang justru perlu mengantisipasinya dengan berbagai fasilitas yang dapat membantu pemustaka belajar dengan lebih baik. Gaya belajar yang berubah ini benar-benar harus diimbangi dengan penyediaan space di perpustakaan yang mengarah pada gaya belajar saat ini, termasuk kebutuhan tidur sesaat tentunya. Itulah sebabnya berbagai fasilitas baru muncul di learning commons-nya perpustakaan, seperti fasilitas work lounge, canopy, dan napping pod.

Library as space

Agar perpustakaan terus dapat memiliki fungsi, maka perpustakaan perlu menyesuaikan diri dengan apa yang terjadi saat ini. Dengan menurunnya kebutuhan koleksi cetak dan meningkatnya kebutuhan fasilitas belajar, maka sudah waktunya perpustakaan mengubah fasilitas dan layanannya. Namun demikian, library as place masih akan tetap dibutuhkan. Perpustakaan sebagai tempat untuk mendapatkan pengetahuan dan informasi serta memberikan layanan bagi life-wide learners akan tetap berlangsung.

Perubahan gaya belajar dan cara pemustaka berinteraksi baik dengan informasi dan dengan pemustaka lain serta pustakawan, sudah selayaknya diikuti dengan perubahan layanan perpustakaan as place. Penyediaan fasilitas bagi pemustaka generasi baru tentu akan berbeda dengan fasilitas pemustaka generasi lama. Perpustakaan akan terus hidup dan berjalan baik apabila perpustakaan mampu mengikuti perubahan yang terjadi dalam masyarakatnya.

Hybrid, digital, dan bookless libraries

Dilihat dari format koleksinya, trend perpustakaan saat ini sudah beralih dan tidak lagi merupakan perpustakaan konvensional dengan banyak buku dan media cetak dilayankan di perpustakaan. Ada tiga model perpustakaan yang masing-masing memiliki kekhasan sendiri-sendiri, yaitu, hybrid, digital, dan bookless. Perpustakaan hybrid (hybrid libraries) memiliki koleksi kombinasi baik koleksi cetak maupun koleksi non cetak serta koleksi online. Model perpustakaan ini masih memiliki space yang cukup untuk koleksi cetaknya dan terus melayankan koleksi cetak yang dimilikinya. Di sisi lain, fasilitas baca juga tetap dikembangkan agar dapat menjadikan suasana mendukung para pemustaka untuk memanfaatkan koleksi yang ada sesuai dengan karakter dan format koleksi serta gaya membaca para pemustaka. Itulah sebabnya fasilitas baca baik berupa tempat duduk dengan meja, tempat duduk tanpa meja, sofa baca, dan canopy menjadi fasilitas yang dapat dikembangkan di perpustakaan. Sementara pada perpustakaan bookless, penyediaan fasilitas seperti laptop lounge, desktop dengan berbagai aplikasi dan ukuran layar, serta penyediaan e-reader, menjadi penting.

Di sisi lain, perpustakaan digital juga hadir untuk memberikan akses kepada pemustaka secara jarak jauh: dimanapun dan kapanpun. Perpustakaan digital membutuhkan konten yang tentu saja mudah diakses. Perangkat teknologi yang kekar (robust) menjadi kunci pertama dalam perpustakaan digital. Sementara kemudaan navigasi menjadi kunci akses pemustaka ke perpustakaan digital. Oleh karena perpustakaan digital tidak terlihat secara kasad mata, maka pustakawan perlu mempertimbangkan aspek visibilitas dan hal ini dilakukan baik menggunakan teknologi (misalnya, google accessible) maupun promosi yang ditujukan ke pemustaka potensial.

Perpustakaan bookless yang hadir beberapa waktu ini masih tetap menghadirkan space sebagai wujud dari sebuah perpustakaan bookless. Perpustakaan bookless berbeda dengan perpustakaan hybrid yang memiliki dua jenis koleksi—koleksi cetak dan digital, sementara di perpustakaan bookless, semua koleksi cetak tidak disediakan. Fasilitas baca menggunakan ereader. Itulah sebabnya sebuah perpustakaan bookless meminjamkan ereader kepada para pemustakanya, selain juga menyediakan desktop untuk akses koleksi di tempat. Konsep perpustakaan bookless adalah perpustakaan tanpa koleksi cetak, dan tetap membutuhkan space. Sementara perpustakaan digital tidak membutuhkan space, tetapi membutuhkan konten yang dapat diakses dari manapun dan kapanpun.

Implikasi dari perkembangan dunia perpustakaan di Indonesia

Melihat perkembangan yang terjadi saat ini dan mengantisipasi apa yang akan berkembang di masa depan, tentu pustakawan akan perlu melakukan langkah-langkah yang dapat menunjang keberlangsungan perpustakaan di era yang saat ini memasuki hyperhistory—era dimana ketergantungan pada teknologi menjadi sangat besar.

Pertama, pustakawan perlu mengembangkan fasilitas-fasilitas yang dapat mengakomodasi kebutuhan pemustaka saat ini dan kemudian hari. Perlu diketahui juga bahwa standar baru space untuk pemustaka saat ini adalah 3.5m2 per orang (IFLA satellite meeting). Space tersebut meningkat karena pemustaka membawa tambahan perangkat saat bekerja di perpustakaan.

Kedua, perpustakaan perlu mempertimbangkan penyediaan fasilitas-fasilitas baru di dalam perpustakaan, misalnya napping pod yang dapat digunakan oleh pemustaka untuk tidur sesaat. Canopy juga dapat disediakan untuk pemustaka yang tidak ingin terganggu pada saat membaca. Fasilitas lain seperti work lounge atau laptop lounge akan membantu pemustaka untuk dapat bekerja dan tinggal lebih lama di dalam sebuah perpustakaan.

Ketiga, penyediaan konten yang dapat memudahkan perputaran pengetahuan (knowledge lifecycle) dengan lebih baik tentu akan sangat mendukung pemustaka dalam meningkatkan pengetahuan. Perpustakaan sebagai fasilitas penyedia dan pendukung ilmu pengetahuan akan mampu mengakomodasi generasi baru dari pemustaka apabila mampu mengenali gaya belajar (learning style), interaksi pemustaka dengan information (human information interaction), dan lain sebagainya. Hal ini dilakukan agar mereka dapat menjadi life-wide learner. Untuk dapat memahami berbagai perkembangan baru tersebut tentu saja perpustakaan tidak dapat melakukannya sendiri. Institusi pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan ilmu perpustakaan dan informasi tentu harus meng-update keilmuan, pengetahuan, dan ketrampilan para mahasiswa program studi ilmu perpustakaan dan informasi, yang akan menjadi pengelola perpustakaan di masa depan (Pembahasan tentang hal-hal ini ada pada presentasi kedua).

Penutup

Dapat dikatakan bahwa beberapa dekade ini, ada perubahan-perubahan besar yang terjadi di perpustakaan, di antaranya perubahan dari konvensional menjadi hybrid, bookless, dan digital. Perubahan yang terjadi dalam industri informasi maupun teknologi informasi menjadikan perpustakaan semakin berkembang sesuai dengan perubahan kebutuhan pemustakanya. Untuk itu, perpustakaan akan tetap relevan bagi pemustakanya apabila perpustakaan mau dan mampu mengikuti perkembangan dan perubahan yang terjadi. Gaya belajar, cara akses informasi, dan interaksi antara pemustaka generasi baru (baik generasi Z, generasi Y, digital settlers, maupun digital immigrants) dengan sumber informasinya menjadi penting dan menjadi dasar untuk melakukan perubahan-perubahan di dalam perpustakaan.

 

Referensi

Conley, J., & Wooders, M. (2009). But what have you done for me lately? Commercial publishing, scholarly communication, and open-access. Economic Analysis & Policy, 39(1), 71-87.

Swan, A. (2006). Overview of scholarly communication. In Jacobs, N. (Ed.) Open Access: Key Strategic, Technical and Economic Aspects, (pp. 4-11). Oxford: Chandos.