OAIster (biasa diucapkan sebagai oyster) pada dasarnya dapat dikatakan sebagai himpunan katalog sumberdaya digital, terutama untuk materi yang berorientasi akademik atau ilmiah. Sebagaimana dikatakan di situs resmi mereka, http://www.oaister.org/ , oyster menyediakan akses ke metadata yang mereka panen dengan merujuk ke OAI-PMH (Open Archives Initiative Protocol for Metadata Harvesting). Keragaman sumberdaya yang berhasil dipanen cukup mengagumkan, mulai dari iklan-iklan kuno tentang kulkas dari koran-koran tua yang tersimpan di Library of Congress, sampai koleksi-koleksi digital milik berbagai universitas besar. Secara spesifik, mereka mengkategorikan sumberdaya digital yang metadatanya terhimpun di oyster terdiri dari:

  • Buku dan karya tulis digital (merupakan hasil scanning),
  • Teks yang terlahir sebagai berkas digital alias born-digital
  • Berkas audio (wav, mp3)
  • Gambar dan foto (tiff, gif)
  • Film digital (mp4, quicktime)
  • datasets (berkas berisi statistik untuk berbagai keperluan)

Para pengelola oyster juga membanggakan jasa mereka karena dapat melacak sumber-sumber digital yang seringkali tersembunyi dari search engine biasa (sumber seperti ini dikenal dengan istilah deep web atau invisible web). Sumberdaya digital tidak terlacak, karena search engine seperti Google atau Yahoo! menggunakan “robot” atau agent yang tidak dilengkapi kemampuan masuk lebih dalam daripada halaman situs. Pada umumnya sumberdaya ini menyediakan akses untuk para pemakai lokal saja melalui sistem informasi yang memerlukan “ijin masuk” atau autentifikasi khusus. Untuk dapat diakses oleh masyarakat yang lebih luas, para pemilik sumber-sumber seperti ini kemudian “membuka diri” dengan cara mengubah metadata mereka sesuai dengan OAI-PMH. Setelah sesuai dengan protokol OAI, maka metadata mereka pun dapat dipanen oleh OAIster.

OAIster menghimpun semua metadata hasil panen mereka di satu tempat, kemudian menyediakan mekanisme temu-kembali untuk himpunan tersebut. Dengan cara ini, OAIster bermaksud menyediakan dua keuntungan utama, yaitu:

  • Para pengguna Internet tidak perlu melakukan kunjungan ke beberapa situs untuk mencari informasi keberadaan sebuah dokumen. Cukup mencari di OAIster sebagai penyedia “one-stop shopping”. Dalam hal ini OAIster berfungsi sebagai sebuah katalog induk bagi sekian banyak katalog lainnya.
  • Melalui prosedur Open URL, para pengguna OAIster juga dapat menuju dan memanfaatkan bahan digital yang ada di berbagai sumber-sumber penyedia data. Jadi, fungsi katalog di atas diperluas menjadi fungsi pengambilan dan penyediaan materi digital. Kemampuan OAIster menyediakan dua fasilitas di atas sebenarnya bukan ditentukan oleh kecanggihan teknologi yang digunakan, melainkan oleh kesediaan para penyedia data yang sudah membuka pangkalan data mereka untuk umum.

Kuncinya adalah pada kesediaan berbagai universitas terkemuka untuk mengikuti protokol OAI, sehingga metadata yang mereka miliki dapat dihimpun oleh OAIster. Namun, sebagaimana dijelaskan sebelumnya ketika kita membahas OAI, para penyedia metadata ini dapat menetapkan batas-batas akses terhadap koleksi mereka. Selain itu, pihak penyedia jasa (dalam hal ini OAIster) pada dasarnya hanya menghimpun metadata yang tersedia secara apa adanya, tidak melakukan modifikasi apa pun. Dari keadaan ini, maka ada beberapa implikasi yang perlu kita ketahui, yaitu:

  •  Selalu ada kemungkinan kesamaan atau duplikasi data, sebab OAIster hanya menghimpun metadata yang disediakan berbagai sumber, dan tentu saja selalu ada kemungkinan berbagai sumber itu memiliki beberapa koleksi yang sama. Apalagi jika metadata itu juga datang dari sumber yang menghimpun data dari berbagai sumber lainnya. Dalam kasus ini, maka OAIster akan punya duplikasi metadata, satu dari sumber penghimpun, dan satu lagi dari sumber aslinya. Duplikasi seperti ini sulit dihindari, dan untuk mengurangi kemungkinan kebingungan yang ditimbulkannya, OAIster perlu menampilkan semacam penanda duplikasi.
  • Hak akses ke dokumen (bukan ke metadatanya) ditentukan oleh pemilik hak atas dokumen tersebut, bukan oleh OAIster. Jadi, tidak semua informasi atau link yang tersedia di OAIster secara otomatis akan mengizinkan seseorang membuka dokumen yang dirujuk.
  •   Frekuensi masa panen oleh OAIster sangat menentukan kesahihan data. Jika sebuah metadata diubah oleh pemiliknya setelah dipanen oleh OAIster, maka metadata yang baru ini mungkin saja akan menyebabkan seorang pengguna gagal menemukan sebuah dokumen.