Utama » Tokoh Perpustakaan

Mastini Hardjoprakoso

Artikel dikirim oleh pada 19 Juni 2012 – 1:11 am

Ibu Mastini Hardjoprakoso adalah perintis pembangunan Perpustakaan Nasional sekaligus menjadi Kepala Perpustakaan Nasional yang pertama. Ibu Mastini, atau yang sejak kecil dikenal dengan panggilan “tenok” karena tubuhnya yang cukup gemuk dibandingkan dengan keluarganya yang lain, menghabiskan masa kecil dan menempuh pendidikan sekolahnya di Solo bersama 7 saudara kandungnya. Ibu Mastini adalah putri dari R.M.T. Hardjoprakoso, yang dulu menjabat sebagai bupati di kerajaan Mangkunegoro.

Ibu Mastini Hardjoprakoso bersama Wimala Puspa, cucu dari kakak ke-empat Mastini Hardoprakoso yaitu Soesilo Hardjoprakoso, sebagai narasumber utama dari artikel ini (http://labskyhistoricalseeker.blogspot.com/)

Ibu Mastini, (lahir di Mojogedang, Karanganyar, Jawa Tengah, 07 Juli 1923; umur 88 tahun), bersekolah di HIS Siswoschool dan melanjutkan ke Mevrouv Groot School, yaitu sekolah yang didirikan oleh orang Belanda bagi anak-anak pribumi yang dianggap lebih cerdas dari yang lainnya. Dengan guru-guru yang sebagian besar orang Belanda, mengantarkan Mastini kepada kemahirannya berbahasa Belanda dan juga Inggris disamping bahasanya sehari-hari yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Jawa. Di Mevrouv Groot School yang juga dikenal sebagai sebuah Huishoudschool, beliau memilih keterampilan menyulam, yang beliau katakana dengan sebutan borduren.

Setelah lulus dari Mevrouv Groot School, beliau melanjutkan ke sekolah Frobel Kweekschool, yaitu sekolah guru Taman Kanak-Kanak yang mengantarkannya kepada pekerjaan pertamanya di Solo sebagai Guru TK di TK Siswo yang masih berada di lingkungan Mangkunegaran.

Di samping bekerja sebagai guru TK, beliau juga aktif sebagai Pandu Rakyat Indonesia. Satu hal yang masih teringat jelas oleh Mastini di kala ia menjadi anggota kepanduan adalah tugas khusus dari Ir. Soekarno untuk menjahitkan bendera PON yang saat itu dilangsungkan di Solo. Sempat belajar menyulam di masa sekolahnya membuat tugas tersebut dapat selesai dikerjakannya meskipun pada saat itu beliau tidak memiliki mesin jahit dan bahan yang dibutuhkan sangatlah langka.

Pada umurnya yang ke 27 beliau ikut dengan kakak keempatnya, Ir. Soesilo untuk pindah ke Jakarta. Meskipun jauh dari kampung halamannya, beliau tetap dapat bekerja sebagai guru TK di Jakarta, yaitu di Taman Kanak-Kanak milik Angkatan Darat yang saat itu terletak di dekat Lapangan Banteng.

Namun pekerjaannya itu hanya berlangsung selama tiga tahun. Melihat potensi yang dimiliki Mastini mengantarkannya masuk ke lembaga swasta Belanda yang saat ini disebut sebagai LKI (Lembaga Kebudayaan Indonesia), meskipun beliau tidak memiliki bekal pengetahuan di bidang kebudayaan.

Pekerjaannya di LKI membuka jalan bagi beliau untuk mulai belajar mengenai pelayanan perpustakaan. Menurut beliau, perpustakaan merupakan suatu ketekunan yang dapat meningkatkan potensi generasi muda untuk menjadi lebih maju dan kreatif. Oleh karena itu beliau serius untuk menekuni lebih lanjut mengenai bidang perpustakaan.

Di tahun 1955, beliau mendapat kesempatan beasiswa untuk kursus teknik perpustakaan di Nederlands Instituut voor Documentatie en Registratie (NIDR) di Belanda. Beasiswa tersebut diberikan oleh Sticusa (Stichting voor Culturele Samenwerking) berkat kepiawaiannya saat bekerja di LKI.

Setahun belajar mengenai ilmu perpustakaan di Belanda mematangkan pengetahuannya mengenai bidang yang sangat diminatinya itu. Hal tersebut membuatnya mendapat pengakuan baik oleh pustakawan lainnya di Indonesia. Oleh karena hal tersebut, dan atas usulan dari Dekan Graduate School of Library serta anjuran dari Asia Foundation, Ibu Mastini memperoleh beasiswa tingkat master dalam ilmu perpustakaan di University of Hawaii tanpa harus menempuh pendidikan S1 terlebih dahulu.

Pendidikan

  • HIS Siswoschool
  • Mevrouv Groot School (juga dikenal sebagai Huishoudschool)
  • Frobel Kweekschool (Sekolah Guru Taman Kanak-kanak)
  • Kursus teknik perpustakaan di Nederlands Instituut voor Documentatie en Registratie (NIDR) di Belanda dengan beasiswa dari Sticusa (Stichting voor Culturele Samenwerking), 1955
  • Master of Library Studies (MLS), University of Hawaii, Honolulu, USA

Pengalaman Kerja

  • Guru TK di TK Siswo
  • Pegawai di Lembaga Kebudayaan Indonesia (Kemudian berubah nama menjadi Museum Nasional Indonesia)
  • Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia

Referensi

809 Total Views 2 Views Today

Tinggalkan komentar!

Tuliskan komentar Anda atau berikan trackback dari website Anda. Anda juga dapat Comments Feed melalui RSS.

Tetap pada topic. Jangan lakukan spamming.

Anda dapat menggunakan tag HTML ini:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> 

Website ini menggunakan Gravatar. Untuk mendapatkan avatar pribadi Anda, silakan register dan upload avatar Anda di Gravatar.