Jl. Prof. Sudharto SH, Gedung Widya Puraya, Tembalang, Semarang,    Telp./Fax: (024) 7460042, email : uptperpus(at)undip.ac.id  

Jam Buka 

Senin - Kamis    : 08.00 - 18.00

Jum'at                : 08.30 - 11.30

                             13.00 - 16.30

Articles

Category: Artikel

Oleh : Wahid N

Sumber : http://pustaka1987.wordpress.com/2010/08/25/aplikasi-teorikolaborasigraf-komunikasidan-produktivitas-peneliti-dalam-penulisan-karya-ilmiah/

 

1. KOLABORASI

Kolaborasi dalam kegiatan penelitian menciptakan kesempatan berbagi atau transfer pengetahuan, keahlian dan Teknik tertentu dalam suatu ilmu, pembagian kerja dan pemanfaatan keahlian secara efektif, serta peningkatan produktivitas. Kolaborasi merupakan terjemahan dari kata”collaboration” yang artinya kerjasama. Kolaborasi mencakup semua kegiatan yang ingin dicapai dan mempunyai tujuan serta manfaat yang sama. Kolaborasi terjadi apabila lebih dari satu orang atau lembaga bekerjasama dalam suatu kegiatan penelitian dengan memberikan sumbangan ilmu pengetahuan, tindakan intelektual, ataupun materi. Kolaborasi muncul akibat pandangan bahwa suatu kegiatan kadang tidak dapat dikerjakan sendiri sehingga membutuhkan orang lain.

Dalam topik ini, kolaborasi diekspresikan dalam penulisan karya ilmiah di antara ilmuan/peneliti berbagai disiplin ilmu. Menurut Subramanyam (1983), tingkat kolaborasi peneliti pada masing-masing disiplin ilmu berbeda. Frekuensi peneliti dalam melakukan kerjasama dengan peneliti lain menentukan tingkat kolaborasi. Pernyataan tersebut diperkuat Sulistiyo-Basuki (1990) bahwa tingkat kolaborasi bervariasi antara satu disiplin ilmu dengan disiplin ilmu yang lain, serta dipengaruhi oleh  faktor lingkungan riset, demografi, dan disiplin ilmu itu sendiri.Tingkat kolaborasi bidang teknologi / ilmu terapan umumnya lebih tinggi dibandingkan dengan bidang sosial dan humaniora. Kajian Lindsey dan Brown dalam Garfield (1979) menyebutkan bahwa kolaborasi peneliti bidang ekonomi, sosial, dan sosiologi berkisar 17-25%, sedangkan bidang gerontologi, psikiatri, psikologi, dan biokimia mencapai 48-81%.

Banyak keuntungan yang diperoleh dengan berkolaborasi, Kayz dan Martin (1997) mengatakan bahwa keuntungannya adalah terciptanya kesempatan untuk berbagi pengetahuan, keahlian dan teknik tertentu dalam sebuah ilmu. Dengan berkolaborasi akan terjadi sistem pembagian kerja dan penggunaak sumber daya yang efektif yang dimiliki oleh2 masing-masing peneliti. Adapun keuntungan kolaborasi bagi peneliti yaitu:

  1. Transfer pengetahuan dan keahlian
  2. Pertukaran ide dari berbagai ilmu yang akan menambah wawasan dan perspektif baru seseorang yang dapat memotivasi kreativitas
  3. Membuka kesempatan persahabatan intelektual
  4. Peningkatan produktivitas

Kegiatan kolaborasi dalam penelitian secara umum dapat dilihat dalam kegiatan penulisan suatu karya yang melibatkan banyak pengarang dan ko-pengarang, sehingga disebut kepengarangan kolaborasi. Menurut Gordon dalam Surtikanti (2004) asumsi yang digunakan untuk melakukan analisis ko-pengarang adalah:

  1. Jumlah makalah yang dihasilkan oleh sekelompok ilmuan sebanding dengan aktivitas penelitian mereka. Semua karya kolaborasi muncul dalam satu artikel atau lebih
  2. Frekuensi relatif dari ko-pengarangan dalam kelompok sebanding dengan tingkat kolaborasi ilmiahnya.
  3. Frekuensi relatif dari produksi makalah ilmiah dengan tingkat kepengarangan ganda yang berbeda-beda, sebanding dengan frekuensi penerbitan makalah dalam majalah ilmiah oleh kelompok
  4. Didasarkan atas aturan mengenai kepangaranga, diasumsikan setiap ko-pengarang mempunyai porsi kontribusi penting pada proyek penelitian dan dinyatakan dalam dokumentasi laporan akhirnya.

Katz dan Martin (1997), memberikan batasan bahwa seorang peneliti dapat dikatakan berkolaborasi apabila orang tersebut bekerjasama dalam suatu penelitian dan ikut memberikan kontribusi berkali-kali; namanya muncul dalam proposal penelitian asli; bertanggung jawab pada satu atau lebih elemen utama penelitian, pelaksanaan eksperimen, analisis dan interpretasi data, penulisan laporan hasil penelitian,; bertanggung jawab pada tahap-tahap penting penelitian (pencetus ide, hipotesis asli, atau interpretasi teori), dan sebagai pemilik proposal proyek asli atau penyandang dana. Mereka tidak bisa dianggap kolaborator adalah orang yang memberi kontribusi relatif sedikit dalam proses penelitian dan teknisi atau asisten peneliti.

2. GRAF KOMUNIKASI

Komunikasi yang dimaksud adalah komunikasi ilmiah yang lazim dipakai dalam istilah penulisan karya tulis. Komunikasi ilmiah merupakan penyampaian informasi dari satu orang atau lembaga ke orang lain atau khalayak melalui media. Tujuan komunikasi untuk penyebaran dan pertukaran informasi, penyusunan fakta menjadi bentuk informasi yang memenuhi kebutuhan ilmuan/peneliti, pemberitahuan kepada sesama ilmuan dalam berbagai disiplin ilmu yang sama dan saling berkaitan (Schweppe dalam Sumaryanto,1987)

Komunikasi hasil penelitian terus dilakukan melalui berbagai pendekatan dan media agar dapat diketahui pengguna atau dikembangkan lebih lanjut oleh peneliti lain. Untuk mengkomunikasikan hasil penelitian tersebut diperlukan media seperti majalah ilmiah, karena informasi yang dimuat didalamnya lebih mutakhir  bila dibandingkan dengan media lainnya. Media komunikasi ini merupakan perwujudan upaya mengembangkan ilmu pengetahuan dan mendorong peneliti menghasilkan temuan baru.

a. Teori Graf

Leighthon dan Rubinfield (2006) menyatakan bahwa dalam ilmu komputer dan matematika, teori graf adalah ilmu mengenai graf struktur matematika, suatu graf (G) dapat dinyatakan  sebagai; G=<V,E>  , lihat gambar:

Graf terdiri atas himpunan V yang berisikan titik (vertek/node) dan himpunan E yang berisi sisi (edge) pada graf tersebut. Teori graf juga digunakan dalam studi molekular pada ilmu fisika dan kimia, misalnya struktur atom tiga dimensi, dan secara luas diterapkan dalam ilmu sosiologi dan komunikasi. Dalam komunikasi, teori graf dikenal dengan jaringan komunikasi.

b. Graf Komunikasi

Sulistiyo-Basuki (1993) menggambarkan komunikasi ilmiah sebagai penyampaian informasi secara langsung maupun tidak langsung kepada pengguna. Penyampaian secara langsung disebut komunikasi informal, misalnya lisan dan telepon. Sedangkan penyampaian secara tidak langsung disebut komunikasi formal, misalnya melalui literatur primer, sekunder, dan tertier. Graf komunikasi menggambarkan suatu komunikasi formal. Graf komunikasi merupakan suatu himpunan yang terdiri atas himpunan titi dan garis yang menghubungkan kedua titik tersebut. Setiap garis pada suatu graf terletak antara 2 titik, dan setiap titik disajikan secara eksplisit. Banyaknya garis yang bertemu pada suatu titik disebut derajat atau valensi (degree), dan untuk titik valensinya nol disebut dengan titik terasing (isolated point).

Graf komunikasi dapat diukur dengan ukuran yang mirip dengan bidang termodinamika. Dalam aplikasi komunikasi dengan menggunakan graf, salah satu ukuran telah dikembangkan oleh Brillouin dan menunjukkan bahwa jumlah seluruh informasi (I) yang diukur dalam bits (binary digits) dalam sebuah pesan atau berita terdiri atas simbol-simbol N dari (s) komponen yang berlainan.

Formulasi Brillouin pada persamaan tersebut dapat digunakan untuk memberi ciri ketersambungan sebuah grafik, mengidentifikasi titik-titik penting dalam grafik, dan memberikan ukuran evaluasi dalam grafik. Dalam struktur graf komunikasi, apabila sebuah titik dipangkas maka jumlah komponen pada graf itu akan bertambah, berkurang atau tetap. Dalam hal ini, apabila sebuah titik yang dipangkas atau dihilangkan tersebut memenuhi persyaratan If-Ii>0 disebut titik sintesis, dengan ketentuan bahwa If dan Ii masing-masing adalah nilai ketidakteraturan sebelum dan sesudah titik dipangkas dari graf (Shaw 1981).

Metode perhitungan yang digunakan untuk perhitungan tingkat kolaborasi antar peneliti adalah metode Subramanyam (1983) dengan rumus:

di mana:

C = tingkat kolaborasi peneliti suatu disiplin ilmu,dengan nilai berada pada interval 0 sampai dengan 1, atau [0, 1]

Nm = total hasil penelitian dari peneliti suatu disiplin ilmu pada tahun tertentu yang dilakukan secara berkolaborasi

Ns = total hasil penelitian dari peneliti suatu disiplin ilmu pada tahun tertentu yang dilakukan secara Individual

Keterangan:

  1. Apabila nilai C = 0 maka dapat dikatakan bahwa hasilpenelitian pada bidang tersebut seluruhnya dilakukan secara individual (peneliti tunggal).
  2. Apabila nilai C lebih besar dari nol dan kurang dari setengah (0 < C < 0,5) maka dapat dikatakan bahwa hasil penelitian yang dilakukan secara individual lebih besar dibandingkan dengan yang dilakukan secara berkolaborasi.
  3. Apabila nilai C = 0,5 maka penelitian yang dilakukan secara individual sama banyaknya dengan yang dilakukan secara berkolaborasi.
  4. Apabila nilai C lebih besar dari 0,5 dan kurang dari 1 (0,5 < C < 1) dapat dikatakan bahwa hasil penelitian yang dilakukan secara individual lebih sedikit dibandingkan yang dilakukan secara berkolaborasi.
  5. Apabila nilai C = 1 maka penelitian pada bidang tersebut seluruhnya dilakukan secara berkolaborasi.

Rumus untuk menentukan titik potong atau titik sintetis diketahui dengan menggunakan formulasi Brillouin (Shaw 1981), yaitu:

Dengan ketentuan bahwa N adalah jumlah total titik pada suatu graf, Ni adalah banyaknya titik pada komponen ke- 1, dengan i = 1,2,…s, K adalah konstanta Bolzman yang besarnya 1/ln1, Ln adalah logaritma natural berbasis bilangan e (atau = 2,718282).

3. Produktivitas

Produktivitas adalah perbandingan antara keluaran (output) dan masukan (input) (Hasibuan ,1999:126). Secara umum produktivitas didefinisikan sebagai perbandingan antara hasil yang dicapai (output) dengan keseluruhan sumberdaya yang digunakan (input). Selanjutnya Mali (1978) yang dikutip Garpersz (2000:18) menyatakan bahwa produktivitas tidak sama dengan produksi, tetapi produksi, kualitas, hasil-hasil merupakan komponen dari usaha produktivitas. Menurut Gapersz produktivitas merupakan gabungan dari efektivitas dan efisiensi.

Dengan kata lain, produktivitas memiliki dua dimensi. Dimensi pertama adalah efektivitas yang mengarah pada pencapaian hasil kerja yang maksimal yaitu pencapaian target yang berkaitan dengan kualitas, kuantitas, dan waktu. Dimensi kedua adalah efesiensi yang berkaitan dengan upaya membandingkan input dengan relasi penggunaannya atau bagaimana pekerjaan tersebut dilaksanakan. Produktivitas ditentukan oleh faktor manusia dan lingkungan tempat bekerja. Produktivitas berkaitan erat dengan kemampuan, kemauan, dan kesempatan untuk mengembangkan potensi, karir, dan bakat yang dimilikinya.

Aziz dan Komarudin (1991:2) mengatakan bahwa untuk mengetahui tingkat produktivitas peneliti, ada beberapa unsur yang dinilai oleh Tim Penilai Jabatan Peneliti yang ditetapkan oleh pemerintah dibagi 2 kelompok yaitu:a.

- Unsur Utama, yaitu pendidikan, karya tulis ilmiah, dan pemacuan teknologi

-  Unsur Penunjang, yaitu pemasyarakatan ilmu dan teknologi, keikutsertaan dalam kegiatan ilmiah, pembinaan kader ilmiah, penghargaan ilmiah..

4. Studi Kasus

Beberapa studi kasus dibawah ini adalah contoh penelitian yang sudah dilakukan oleh beberapa peneliti yang memiliki keterkaitan topik bahasan kolaborasi, graf komunikasi, serta produktivitas peneliti dalam membuat karya penelitiannya, antara lain:

  1. Rufaidah, Vivit Wardah. “Kolaborasi dan Graf Komunikasi Artikel Ilmiah Peneliti Bidang Pertanian; Studi Kasus pada Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Serta Indonesian Journal of Agricultural  Science  (IJAS)”.  Kajian  ini dibatasi pada Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Serta Indonesian Journal of Agricultural  Science  (IJAS) tahun 2005-2006 yang bertujuan untuk menentukan tingkat kolaborasi dan produkstivitas peneliti, dan memenuhi persyaratan titik sintesis dalam graf komunikasi dibandingkan dengan peneliti yang jarang atau tidak berkolaborasi. Pengumpulan data dengan cara memeriksa dan mencatat nama penulis artikel pada kedua jurnal tersebut. Tingkat kolaborasi peneliti dikaji dengan metode Subramanyam kemudian digambarkan dengan graf komunikasi formal dengan menghitung jumlah informasi yang disampaikan dalam graf tersebut dan menentukan titik potong sistesis pada graf dengan “formulasi Brillouin”. Hasil perhitungan menunjukkan tingkat kolaborasi peneliti  yang menulis pada IJAS cukup tinggi yaitu mencapai 80%, sedangkan pada Jurnal Litbang Pertanian tingkat kolaborasinya hanya 52,77%. Berdasarkan formulasi Brillouin pada graf komunikasi mencapai  221,086 bits (binary digits). Peneliti yang memenuhi persyaratan titik sistesis sekaligus titik potong pada graf komunikasi formal kedua jurnal adalah pada titik nomor 30, yang berarti peneliti tersebut paling produktif.
  2. Sormin, Remi. “Kajian Korelasi Antara Kolaborasi Peneliti dan Produktivitas Peneliti Lingkup Badan Litbang Penelitian”. Dalam kajian ini kegiatan kolaborasi diekspresikan dalam penulisan karya ilmiah antara para ilmuwan/peneliti bidang pertanian. Pengukuran tingkat kolaborasi menggunakan metode bibliometrik, berupa kajian dengan mengaplikasikan metode statistik dan matematik untuk mengukur perubahan baik kuantitatif maupun kualitatif pada sekumpulan dokumen atau media lain. Kajian bertujuan mengungkapkan tingkat kolaborasi peneliti Badan Litbang Pertanian berdasarkan populasi data artikel yang dipublikasikan periode tahun 1996-2005, dan hubungan kolaborasi dengan produktivitas peneliti melalui artikel hasil penelitian yang terhimpun dalam pangkalan data AGRIS tahun 1996-2007. Metode kajian yang digunakan kuantitatif dengan pengukuran frekuensi dan intensitas variabel penelitian pertanian. Data dikelompokkan kedalam sembilan rumpun disiplin dalam ilmu pertanian. Berdasarkan metode penghitungan Subramanyam terungkap bahwa tingkat kolaborasi penulisan karya ilmiah di Badan Litbang Pertanian mencapai 71-80% dibanding penulisan secara individu. Tingkat yang paling tinggi terdapat dalam rumpun alat dan mesin pertanian. Korelasi kolaborasi dengan produktivitas sangat kuat, mencapai nilai koefisien 0,88-0,97.
  3. Sumaryanto (1987) mengkaji pola kepengarangan artikel yang dimuat pada Indeks Majalah Ilmiah Indonesia 1982-1985 yang meliputi sembilan bidang ilmu. Hasilnya menunjukkan bahwa tingkat kolaborasi pengarang pada majalah ilmiah untuk semua bidang ilmu sangat rendah (38,20%).
  4. Sulistyo-Basuki (1994), Kolaborasi penulis bidang kedokteran dan pertanian di Indonesia tahun 1952-1959 telah diteliti oleh Sulistyo-Basuki dengan menggunakan sumber Indeks Majalah Ilmiah Indonesia 1982-1988. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa tingkat kolaborasi penulis bidang kedokteran dan pertanian sangat rendah (36,80%), dan pengarang yang paling produktif bukan merupakan titik sintetis. Penelitian dilanjutkan dengan menggunakan sumber Restrospective Index of Indonesian Learned Periodicals 1952-1959, yang hasilnya menunjukkan bahwa tingkat kolaborasi penulis Indonesia bidang kedokteran dan pertanian juga sangat rendah, berturut-turut 14,82% dan 8,12%. Namun, penelitian tersebut menemukan bahwa pengarang yang produktif merupakan titik sintetis dan akan menjadi pakar pada bidang masing-masing.
  5. Susanto (1995) dengan menggunakan sumber Abstrak Hasil Penelitian Lembaga Penelitian Non-Departemen (LPND) bidang riset dan teknologi 1991-1992 dan Abstrak of Science and Technology in Indonesia 1989-1992 menyimpulkan bahwa tingkat kolaborasi peneliti bidang ilmu pengetahuan dan teknologi pada empat LPND (BATAN, LAPAN, BPPT, dan LIPI) berbeda-beda. Tingkat kolaborasi mendekati 50%, dan pengarang yang produktif bukan merupakan titik sintetis.
  6. Prihanto (1996) dalam tesisnya mengkaji kolaborasi peneliti bidang kedirgantaraan dengan menggunakan sumber majalah, warta, prosiding, dan KKTI LAPAN tahun 1975-1994. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa tingkat kolaborasi peneliti bidang kedirgantaraan berkisar antara 3,03- 61,21% dan pengarang produktif bukan merupakan titik sintetis.
  7. Septiyantono (1996) mengkaji kolaborasi penulis artikel pada majalah Geneeskundig Tijdschrift Voor Nederlandsch Indie 1931-1939, Journal of Indonesian Medical Association 1951-1959, dan Majalah Kedokteran Indonesia 1981-1989. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa ketiga majalah tersebut didominasi oleh pengarang tunggal yaitu 82,36%, dan sisanya secara berkolaborasi (17,64%). Graf komunikasi formal penulis berbentuk disconnected multigraph, dan penulis yang produktif bukan merupakan titik sintetis.
  8. Surtikanti (2004) meneliti kolaborasi interdisiplin peneliti Indonesia pada Program Riset Unggulan Terpadu I-VII LIPI tahun 1993-2001. Dalam penelitian ini selain dikaji kolaborasi antarpeneliti, juga pola multidisiplin dan interdisiplin yang terjadi pada peneliti dalam program tersebut, dan membuat visualisasinya dalam bentuk graf molekuler.

REFERENSI:

  • Rufaidah, Vivit Wardah. “Kolaborasi dan Graf Komunikasi Artikel Ilmiah Peneliti Bidang Pertanian;…….”. dalam Jurnal Perpustakaan Pertanian Vol.17 Nomor 1 th.2008
  • Sormin, Remi. “Kajian Korelasi Antara Kolaborasi Peneliti dan Produktivitas Peneliti Lingkup Badan Litbang Penelitian”. Dalam Jurnal Perpustakaan Pertanian Vol.18 Nomor 1 th.2009
  • Marsudi Ari. 2002. Hubungan Diklat, Motivasi Kerja dan Budaya Organisasi dengan Produktivitas Peneliti di BPPT (Tesis). Jakarta: Universitas Indonesia

Sumber Primer:

  • Garfield, E. 1979. Is citation analysis a legitimate evaluation tool?. Scientometrics 1(4): 359-375.
  • Harary, F. 1969. Graph Theory. Addison-Wesley, Reading, MA, 1969.
  • Katz, J.S. and B.R. Martin. 1997. What is research collaboration? Research Policy 26: 1-18.
  • Leighton, T. and R. Rubinfield. 2006. Graph Theory. Lecture Notes, 26 September 2006. Mathematics for Computer Science.
  • Prihanto, I.G. 1996. Kajian Kolaborasi Peneliti Bidang Kedirgantaraan tahun 1975-1994. Tesis. Jakarta: Universitas Indonesia.
  • Septiyantono, T. 1996. Kolaborasi Penulis Artikel yang Dimuat pada Geneeskundig Tijdschrift Voor Nederlandsch Indie 1931-1939, Journal of Indonesian Medical Association 1951-1959, Majalah Kedokteran Indonesia 1981-1989. Tesis. Jakarta: Universitas Indonesia.
  • Shaw, W.M., Jr. 1981. Information theory and scientific communication. Scientometrics 3(3): 235-249.
  • Sulistyo-Basuki. 1990. Kolaborasi pengarang sebuah kajian bibliometrik. Majalah Ikatan Pustakawan Indonesia 12(2-3): 12-18.
  • Sulistyo-Basuki. 1993. Kolaborasi penulis kedokteran Indonesia 1981-1988. Jurnal Perpustakaan dan Ilmu Informasi 1(1): 1-15.
  • Sulistyo-Basuki. 1994. Sebuah kajian teori graf (graph theory) terhadap kolaborasi penulis kedokteran dan pertanian Indonesia 1952-1959. Majalah Universitas Indonesia (4): 34-40.
  • Sumaryanto, Y. 1987. Suatu Kajian Bibliometrika Terhadap Pola Kepengarangan pada Artikel yang Dimuat di Majalah Ilmiah Terbitan Indonesia. Skripsi. Jakarta: Universitas Indonesia.
  • Subramanyam, K. 1983. Bibliometrics studies of research collaboration: A review. Journal of Information Science 6(1): 34
  • Surtikanti, R. 2004. Kajian Kolaborasi Interdisipliner Peneliti di Indonesia: Studi kasus pada program riset unggulan terpadu I-VII. Tesis. Jakarta: Universitas Indonesia.
  • Suryadi, D. 1994. Ruang circuit suatu graph. Matematika dan Komputer 50: 26-29.
  • Susanto, B. 1995. Kolaborasi Peneliti Bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi di Indonesia tahun 1989-1992: Studi kasus pada empat lembaga pemerintah non-departemen bidang Indonesia
Template Settings

Color

For each color, the params below will give default values
Blue Red Oranges Green Purple Pink

Body

Background Color
Text Color

Header

Background Color

Footer

Select menu
Google Font
Body Font-size
Body Font-family
Direction