Biasa disingkat OAIS, Open Archival Information System terkadang disamakan dengan OAI (Open Archive Initiative), padahal keduanya berbeda. Memang di kedua singkatan itu terdapat rujukan ke arsip, namun perhatikan bahwa yang satu adalah singkatan dari archival dan yang satu lagi adalah singkatan dari archive. Juga, mohon jangan bingung karena ada pula OA (Open Access) yang dibahas di halaman 200. Ketiga singkatan ini menggunakan kata open, walaupun masing-masingnya merujuk ke konsep yang berbeda. Sebaiknya kita mulai saja dengan menegaskan bahwa OAIS lebih berurusan dengan pengarsipan atau penyimpanan atau preservasi digital, sementara OAI dan OA lebih menegaskan tentang keterbukaan (diwakili kata open). Juga akan lebih baik lagi kalau kita selalu melihat latar belakang kemunculan konsep OAIS yang kebetulan lebih ‘tua’ daripada OA maupun OAI.

Organisasi yang pertama mengusulkan OAIS adalah Consultative Committee for Space Data Systems (CCSDS) yang dibangun tahun 1982 sebagai sebuah forum internasional untuk badan-badan ruang angkasa bagi kerja sama dalam pengelolaan data penelitian mereka. Pada tahun 1990, CCSDS mulai bekerja sama dengan International Organization for Standardization (atau ISO) untuk menyusun sebuah standar bagi sistem penyimpanan dan penyediaan data penelitian ruang angkasa. Setelah melakukan lokakarya internasional di tahun 1995, CCSDS mengusulkan sebuah model rujukan (reference model) untuk sebuah sistem informasi kearsipan yang terbuka. Inilah cikal bakal OAIS. Sebagai sebuah model, maka usul CCSDS ini diharapkan akan membantu para pengelola data ketika mereka hendak membuat sistem berbasis komputer untuk kepentingan preservasi digital.

Sejak awal diusulkan, telah terlihat bahwa model ini akhirnya akan berlaku untuk semua bidang yang memerlukan pengarsipan dan preservasi digital, tidak hanya yang berkaitan dengan penelitian ruang angkasa. Itu sebabnya, modelnya dibuat amat sederhana sehingga dapat dimodifikasi lebih jauh lagi bagi berbagai kepentingan di berbagai bidang yang berbeda. Setelah melalui diskusi internasional yang terbuka dan pembuatan ragangan (draft) yang bolak-balik, akhirnya tercapailah ragangan ISO pada tahun 2000. Lalu, setelah proses finalisasi, resmilah ragangan itu menjadi standar ISO nomor 14721 tahun 2002 untuk diberlakukan secara internasional.

Kata open yang terkandung di dalam OAIS mencerminkan bahwa sistem yang diatur oleh ISO ini terbuka bagi semua lembaga informasi di seluruh dunia. Sedangkan kata archival system merujuk ke “an organization of people and systems that has accepted the responsibility to preserve information and make it available for a Designated Community”[1] (sebuah organisasi yang melibatkan manusia dan sistem, yang menerima tanggung jawab melestarikan informasi dan mengupayakannya agar selalu tersedia bagi Komunitas Tertuju). Jelaslah bahwa penekanan diberikan pada fungsi preservasi atau pelestarian (keberadaan jangka panjang), dan pada fungsi penyediaan akses dengan cara yang sedemikian rupa memenuhi kebutuhan komunitas tertentu yang dilayaninya.

Sepintas, OAIS semata-mata adalah perwujudan dari konsep “arsip” secara umum. Namun kalau dilihat lebih rinci, sebagai sebuah organisasi, maka OAIS mengandung beberapa hal spesifik, yaitu organisasi ini diwajibkan untuk:

  • Merundingkan dan menyepakati informasi apa saja yang patut diterimanya dari pembuat informasi (sebab OAIS bukan lembaga yang membuat informasi itu).
  • Mengupayakan hak untuk punya kendali yang memadai terhadap informasi itu, demi kepentingan preservasi.
  • Merumuskan lingkup komunitas yang akan memakai simpanan informasi itu.
  • Memastikan bahwa informasi yang tersimpan dapat dipahami oleh komunitas pemakai, dalam arti bahwa informasi itu dapat dipahami tanpa perlu bantuan dari pihak pembuat informasi.
  • Mengikuti kebijakan dan prosedur tertulis, untuk menjamin agar informasi terlindungi dari segala kemungkinan kerusakan, dan untuk memungkinkan diseminasi salinan otentik dari informasi yang dilestarikan dalam bentuk orisinal atau dalam bentuk yang dapat dilacak ke keadaan orisinal itu.
  • Mengupayakan agar informasi yang dilestarikan itu tersedia bagi komunitas para pemakainya.

Untuk dapat menyelenggarakan fungsi-fungsi di atas, model OAIS memberikan gambaran sederhana dan mudah dipahami tentang tiga bagian atau unsur yang saling berkaitan, dan masing-masingnya berpangkal pada konsep arsip sebagaimana terlihat dalam definisi OAIS di atas. Bagian pertama menggambarkan lingkungan eksternal tempat sebuah OAIS berkegiatan. Bagian kedua memperlihatkan komponen-komponen fungsional, atau mekanisme dalam (internal) OAIS untuk menyelenggarakan kegiatan preservasi. Bagian kedua menjelaskan objek-objek informasi yang akan dicerna (ingested)[2], dikelola (managed), dan disebarkan (disseminated) oleh OAIS.
Gambar-gambar berikut ini akan menjelaskan lebih jauh masing-masing bagian. Kita mulai dari bagian pertama, yaitu lingkungan eksternal OAIS.

Image:Producer.jpg

Gambar di atas memperlihatkan tiga entitas penting yang juga adalah pihak pemangku kepentingan (stakeholders). Perlu kiranya diingat, bahwa dalam praktiknya seringkali ketiga entitas itu berada dalam satu organisasi dan mungkin saja merupakan bagian yang tak terpisahkan. Ambil contoh: jika OAIS tersebut berada di sebuah universitas, maka sangat mungkin entitas Produsen dan entitas Konsumen adalah sama-sama sivitas akademika universitas itu. Pembagian ke dalam berbagai entitas ini semata-mata pembagian logis dalam rangka sistematika, bukan merujuk ke unit-unit yang terpisah secara fisik.

Entitas Manajemen merupakan entitas yang bertanggung jawab menyusun, mengubah, dan menerapkan kerangka kebijakan umum yang akan menuntun kegiatan OAIS. Termasuk di sini adalah menyusun perencanaan strategi, menentukan lingkup koleksi OAIS, dan menegaskan ‘garansi’ bahwa yang tersimpan di OAIS akan terjamin keberadaannya. Pada umumnya, pihak manajemen punya yang mengupayakan dana dan melakukan evaluasi. Namun, pihak manajemen bukanlah yang menyelenggarakan kegiatan sehari-hari. Pihak penyelenggara ini adalah komponen-komponen fungsional yang nanti akan dijelaskan di bagian kedua.

Entitas kedua, yakni Produsen adalah individu, organisasi atau sistem yang menyerahkan materi ke OAIS untuk disimpan dalam jangka panjang. Penyerahan materi berikut metadatanya ini akan melalui proses pencernaan (ingest) sebelum diintegrasikan ke dalam koleksi OAIS. Proses ini juga biasanya dituntun oleh sebuah ikatan formal yang disebut Kesepakatan Penyerahan (Submission Agreement). Dalam perjanjian ini antara lain ada penjelasan tentang materi yang diserahkan, metadata yang diharapkan dari produser, dan mekanisme penyerahan dari produser ke OAIS.

Selain dengan manajemen dan produser, OAIS juga berurusan dengan Konsumen, yaitu individu, organisasi, atau sistem yang diharapkan akan menjadi pengguna informasi yang disimpan di OAIS. Secara lebih spesifik, model OAIS juga mengenal bagian dari konsumen sebagai Komunitas Tertuju, yaitu anggota dari komunitas yang dapat dikategorikan “pemakai utama” (primary users) dan diharapkan dapat secara independen menggunakan serta memahami materi yang diarsip oleh OAIS. Pengertian “independen” di sini mengandung asumsi bahwa pihak pemakai memiliki cukup pengetahuan dasar untuk memahami materi arsip. Misalnya, jika OAIS mengarsip data penelitian tentang trajektori pergerakan bintang di langit, maka kita dapat menduga bahwa “pemakai utama” adalah para pengamat atau ilmuwan ruang angkasa. Kalau bahan arsip itu adalah neraca keuangan, catatan pajak, dan rekaman finansial lainnya, maka penggunanya adalah para akuntan atau konsultan pajak. Walaupun begitu, masyarakat yang lebih luas (misalnya mahasiswa dan subjek pajak) dapat pula dianggap sebagai konsumen OAIS.

Konsep OAIS menegaskan bahwa keputusan tentang Komunitas Tertuju bukanlah ditentukan oleh isi atau sifat isi materi yang diarsip, melainkan sebaliknya: ketentuan tentang Komunitas Tertuju memengaruhi keputusan tentang materi apa yang dapat diarsip, dan bagaimana materi tersebut dilestarikan agar dapat digunakan terus oleh Komunitas Tertuju. Penetapan batas-batas tentang Komunitas Tertuju, dengan demikian, adalah salah satu hal terpenting dalam pengarsipan OAIS. Pemilihan skema metadata amat ditentukan oleh karakter dan kepentingan komunitas tersebut.

Image:Oais.jpg
Setelah memahami lingkungan eksternal OAIS, mari kita beralih ke bagian kedua, yaitu komponen-komponen fungsional dan mekanisme internal OAIS, sebagaimana terlihat di gambar di bawah. Ada enam komponen fungsional umum, atau dapat juga disebut sebagai enam jenis layanan lapis atas di dalam OAIS. Keenamnya secara bersama-sama memungkinkan OAIS melaksanakan fungsi gandanya: melestarikan dan menyediakan akses ke koleksi yang dilestarikannya.

Komponen fungsional pertama adalah Pencerna (Ingest) yang mengandung proses penerimaan materi dari Produsen dan persiapannya agar dapat diintegrasikan ke dalam koleksi arsip OAIS. Termasuk di dalam proses ini pula adalah penerimaan transfer materi informasi melalui jaringan teknologi, validasi terhadap kiriman informasi tersebut untuk memastikan bahwa tidak ada bagian yang rusak atau hilang, pengubahan atau transformasi materi yang diterima agar dapat diterima oleh sistem penyimpanan atau pengarsipan OAIS, pembuatan metadata deskriptif untuk kepentingan temu-kembali, dan pengiriman materi beserta metadatanya ini ke bagian penyimpanan. Komponen Pencerna inilah yang merupakan “pintu masuk” OAIS atau antarmuka pertama yang menghubungkan OAIS dengan dunia eksternal.

Komponen fungsional kedua adalah Penyimpan Arsip (Archival Storage). Sesuai namanya, inilah bagian dari sistem pengarsipan yang bertanggung jawab terhadap penyimpanan jangka-panjang dan perawatan materi digital yang dipercayakan ke OAIS. Secara lebih khusus dapat dikatakan bahwa Penyimpan Arsip ini harus memastikan bahwa kandungan arsip sudah disimpan dalam format yang tepat, dan bahwa bit streams yang terkandung di dalam materi digital sudah lengkap dan dapat dijalankan atau digunakan kembali di waktu mendatang[3]. Agar dapat memenuhi fungsinya ini, Penyimpan Arsip biasanya melakukan berbagai prosedur preservasi digital secara teratur, seperti melakukan penyegaran media (media refreshment) atau migrasi format digital. Pembahasan lebih jauh tentang hal ini ada di bawah tajuk Preservasi Digital.

Komponen berikutnya adalah Manajemen Data (Data Management) yang bertanggung jawab merawat pangkalan data metadata deskriptif sebagai bagian penting dari mekanisme temu-kembali di sebuah OAIS. Selain mengurusi metadata deskriptif, komponen ini juga mengurusi metadata administratif untuk mendukung sistem operasi internal, misalnya untuk memantau kinerja sistem atau jumlah kunjungan dan akses ke OAIS. Tugas utama di komponen ini tentu saja adalah merawat pangkalan data, menjawab permintaan informasi dari komponen lain di dalam OAIS, dan terus memperbarui pangkalan data setiap kali OAIS menerima materi baru, atau mengubah dan menghapus materi yang sudah ada.

Komponen keempat adalah Perencanaan Preservasi (Preservation Planning) bertanggung jawab pada pemetaan strategi preservasi sebuah OAIS, termasuk di dalamnya kewajiban memberi rekomendasi tentang revisi strategi bilamana diperlukan, sesuai perkembangan lingkungan tempat OAIS itu berada. Tugas di bagian ini termasuk memantau keadaan di lingkungan eksternal, kalau-kalau itu berdampak pada kemampuan OAIS dalam menyimpan dan menjamin akses ke materi yang dilestarikan. Contoh paling kongkrit adalah perubahan pesat dalam teknologi media penyimpanan dan akses via Internet. Kondisi kedua teknologi ini terus berubah, sehingga setiap OAIS perlu memantaunya secara seksama. Berdasarkan pemahaman tentang keadaan eksternal inilah lalu bagian Perencanaan Preservasi memberi rekomendasi tentang hal-hal yang perlu dipertahankan, diubah, atau ditinggalkan sama sekali.

Komponen kelima, Akses (Access) bertugas mengelola proses dan menyediakan layanan bagi Konsumen untuk memperoleh materi digital yang dilestarikan oleh sebuah OAIS. Termasuk dalam fungsi komponen Akses ini adalah meneruskan permintaan informasi dari Konsumen, terutama dari Komunitas Tertuju, kepada komponen dan fungsi Manajemen Data, lalu menyampaikan hasil pencarian kepada Konsumen. Selain itu, komponen Akses juga dapat bertindak sebagai perantara Komunitas Tertuju dengan Penyimpan Arsip seandainya ada anggota Komunitas yang membutuhkan materi digital. Dalam hal ini, bagian Akses menjadi koordinator bagi sebuah kegiatan pelayanan yang dimulai dari menerima dan memahami permintaan Komunitas, sampai mengambil, mengubah dan mengemas-kembali materi yang sudah dilestarikan untuk diserahkan kepada pihak yang memerlukan.

Perlu kiranya diketahui, pada umumnya OAIS tidak akan membiarkan pemakai jasa menggunakan materi digital yang dilestarikan secara langsung, baik karena alasan keamanan, maupun karena alasan kemudahan. Setiap OAIS mengupayakan agar materi digital yang disimpannya benar-benar lestari, sehingga terkadang membutuhkan teknologi khusus untuk mempertahankan bentuk dan fungsi asli materi tersebut. Sementara itu, para anggota Komunitas mungkin memerlukan materi tersebut bagi kepentingan sehari-hari. Jika materi tersebut disalin (dikopi) begitu saja, ada kemungkinan penggunanya tidak dapat sepenuhnya memanfaatkan materi yang bersangkutan, atau pengguna terpaksa memakai alat-alat teknologi yang sama canggihnya dengan yang dipakai oleh OAIS. Contoh untuk kasus ini adalah penggunaan gambar-gambar yang dibuat dengan sistem CAD/CAM (Computer Aided Design/Computer Aided Manufacturing – sistem untuk membuat rancang-bangun dalam bidang permesinan). Materi digital yang dilestarikan dari hasil kerja sistem ini mungkin akan terlalu besar atau rumit untuk digunakan oleh seseorang yang hanya ingin mendapatkan sebuah gambar model mesin. Itu sebabnya, komponen Akses perlu membantu anggota Komunitas untuk mengambil sebagian dari sistem CAD/CAM dan mengubahnya menjadi format gambar digital, misalnya JPEG, agar dapat langsung dimasukkan oleh anggota Komunitas ke dalam laporan yang dibuat dengan wordprocessor[4].

Komponen keenam atau yang terakhir adalah Administrasi (Administration) yang bertanggung jawab menjalankan kegiatan sehari-hari OAIS sebagai sebuah organisasi, termasuk menjadi koordinator bagi kelima komponen di atas. Selain itu, komponen Administrasi bertindak mewakili OAIS ketika berurusan dengan Produsen (misalnya untuk negosiasi ketika akan membuat Perjanjian Penyerahan) dengan Konsumen (misalnya menyediakan layanan dukungan), dan pihak Manajemen (misalnya memastikan bahwa OAIS sudah melaksanakan kebijakan yang digariskan). Komponen Administrasi juga bertanggung jawab memantau kerja sistem dan mengusulkan perbaikan atau pengembangan bilamana diperlukan. Dengan tugas-tugas seperti itu, seringkali komponen Administrasi menjadi titik temu dalam interaksi antara sisi luar dan sisi dalam sebuah OAIS.

Keenam komponen di atas (Pencerna, Penyimpan Arsip, Manajemen Data, Perencana Preservasi, Akses, dan Administrasi) merupakan “bagian fungsional” dari sebuah OAIS yang memungkinkan keberlangsungan kegiatan preservasi dalam jangka panjang. Di dalam model OAIS, penjelasan tentang bagian fungsional ini dilengkapi dengan penjelasan tentang objek-objek informasi digital yang menjadi bahan kerja keenam komponen fungsional di atas. Bahan kerja ini terlihat sebagai sebuah paket informasi (information package) yang mengandung objek digital sebagai fokus dari kegiatan preservasi, bersama dengan metadata[5], “diikat” menjadi satu. Paket informasi ini mengalami perubahan struktur ketika menjalani proses, mulai dari proses dimasukkan ke OAIS, proses diolah dan disimpan, sampai proses dikeluarkan atau disediakan untuk pengguna. Itu sebabnya, dalam model OAIS kita diperkenalkan pada tiga paket, yakni:

  • Paket Informasi Penyerahan (Submission Information Package atau SIP), yaitu segala materi digital yang diserahkan ke OAIS oleh Produsennya. Perlu kiranya diingat, OAIS tidak menentukan bentuk, format, dan struktur materi digital yang diserahkan. Namun adalah tanggung jawab OAIS untuk memastikan bahwa materi tersebut dapat dilestarikan. Dalam praktiknya, setiap materi yang diserahkan ini akan melalui proses Pencerna (ingest) sebagaimana telah dijelaskan di atas.
  • Paket Informasi Pengarsipan (Archival Information Package atau AIP), merupakan materi digital yang sesungguhnya tersimpan dan terpelihara di dalam OAIS untuk kepentingan pelestarian jangka panjang. Paket ini menjadi urusan OAIS yang sesungguhnya sehingga perlu dibahas lebih lanjut dan lebih rinci secara khusus setelah ini.
  • Paket Informasi Penyebaran (Dissemination Information Package atau DIP), yaitu materi digital yang akhirnya disampaikan dan digunakan oleh Konsumen OAIS. Sebagaimana dijelaskan di atas, OAIS memakai konsep paket informasi penyebaran ini untuk memastikan keamanan dan keterpakaian materi yang dilestarikan. Seringkali paket yang disebarkan ini adalah hasil alih-bentuk dan kemas-ulang (repackaging), bukan bentuk asli sebagaimana yang tersimpan secara lestari di Penyimpan Arsip.

Di antara ketiga paket informasi di atas, Paket Informasi Pengarsipan atau Archival Information Package yang biasa disingkat AIP merupakan komponen penting dari sisi pandang OAIS sebagai sistem yang harus melestarikan materi digital agar dapat dimanfaatkan selama mungkin. Karena nilai penting dari paket ini, mari kita lihat lebih seksama, apa saja komponen-komponennya. Gambar berikut memperlihatkan secara garis besar, apa yang dimaksud dengan AIP:

Image:Information.jpg
Terlihat di gambar itu, terdapat dua informasi penting dalam sebuah AIP, yaitu Content (isi atau kandungan) di sebelah kiri, dan Preservation Description (deskripsi tentang pelestarian). Di sisi Content unsur pertama adalah Content Data Object (atau Objek Data Isi) yang dapat berbentuk apa saja sebagai sebuah materi digital, baik itu berupa teks, gambar, foto, video, seperangkat data, program komputer, dan sebagainya. Objek data ini dapat berupa satu berkas (file) yang mandiri (misalnya sebuah dokumen PDF), tetapi juga dapat terdiri dari berbagai berkas (misalnya sebuah situs Web, mengandung beberapa berkas HTML, dan gambar-gambar GIF atau JPEG). Fokus utama dari sebuah OAIS adalah memastikan agar objek-objek ini dapat digunakan lagi sebagaimana keadaan aslinya di kemudian hari, sekaligus juga memastikan bahwa pihak lain (Konsumen) dapat menggunakannya untuk kepentingan mereka, walaupun mereka tidak punya perangkat yang dipakai Produsen untuk menghasilkan objek digital bersangkutan. Ini dikenal sebagai “pemakaian secara mandiri.”

Dalam rangka memenuhi kewajiban yang kedua inilah, yaitu memastikan bahwa objek digital dapat dimanfaatkan oleh Komunitas, maka setiap Content Data Object harus ditemani oleh Representation Information yang memadai. Di dalam Representation Information terdapat segala penjelasan yang diperlukan untuk mengetahui bagaimana sebuah objek digital dijalankan (render) dan dipahami isinya. Termasuk di dalam penjelasan ini adalah keterangan tentang perangkat keras, perangkat lunak, serta lingkungan sistem komputer yang diperlukan untuk dapat menjalankan atau membaca objek digital tersebut. Seringkali pula, pihak OAIS perlu memasukkan ringkasan isi objek digital tersebut, seperti sebuah abstrak[6].

Kita kini dapat melihat betapa bahwa kepastian tentang siapa-siapa yang akan menjadi bagian dari Komunitas Tertuju sangat menentukan jumlah dan kadar metadata yang diperlukan sebuah OAIS. Hal ini sangat berkaitan dengan kandungan Representation Information. Semakin luas dan umum cakupan keanggotaan sebuah Komunitas Tertuju, semakin umum pula basis pengetahuan rata-rata yang diperlukan untuk menggambarkan kepentingan komunitas itu, tetapi akan semakin rinci kandungan Representation Information-nya. Misalnya, kalau secara umum kita masukkan semua mahasiswa di sebuah universitas sebagai Komunitas Tertuju, maka kita tidak dapat menggunakan kategori “mempelajari ilmu ekonomi” saja untuk menggambarkan karakteristik mereka. Mungkin yang harus digunakan adalah kategori “mempelajari ilmu-ilmu eksakta, alam, sosial, budaya, dan ekonomi”. Akibatnya, justru pihak OAIS harus menyediakan Representation Information yang sangat luas cakupannya, dan untuk itu OAIS harus menggunakan metadata yang sangat rinci.

Representation Information di atas menyertai Content Data Object, dan dikemas menjadi satu untuk disebut sebagai Content Information. Setelah memastikan keberadaan Content Information itu, untuk menjamin pelestarian jangka-panjang, setiap OAIS memerlukan informasi lain, yakni Preservation Description Information (deskripsi tentang pelestarian) atau biasa disingkat PDI. Ada empat komponennya, yaitu:

  • Rujukan (reference), yaitu bagian dari informasi tentang identitas Content Information. Misalnya, ISBN atau Digital Object Identifier.
  • Konteks (context), berisi informasi tentang kaitan-kaitan Content Information dengan berbagai hal di luarnya. Misalnya, kaitan informasi dengan informasi lain sebagai bagian dari kelompok subjek tertentu, penjelasan tentang versi sebuah perangkat lunak, dan sebagainya.
  • Riwayat asal (provenance), berisi sejarah mulai dari penciptaan, perubahan, peralihan kepemilikan, dan segala tindakan yang pernah dikenakan terhadap Content Information.
  • Kepastian (fixity), yang menyangkut validasi tentang keaslian (otentitas) dan integritas Content Information. Misalnya dalam bentuk sebuah check sum, tandatangan digital (digital signature), dan watermark.

Bundel atau paket yang berisi Content Information dan Preservation Description Information kemudian ‘diikat’ jadi satu dan diberi nama Packaging Information. Sebagai kesatuan, maka Packaging Information ini merupakan unit tunggal yang secara logika akan dirujuk oleh sistem penyimpanan, pengolahan, penemuan kembali, dan penyediaan jasa informasi di OAIS. Sebagai bagian dari sistem simpan dan temu kembali, maka paket ini dilengkapi pula dengan Descriptive Information, misalnya dalam bentuk metadata Dublin Core. Gabungan total dari Packaging Information dan Descriptive Information inilah yang menjadi satu sebagai AIP (Archival Information Package).

Akhirnya secara total, keseluruhan OAIS dapat dilihat dalam gambar yang cukup rumit di bawah. Perlu kiranya diingat bahwa ini semata-mata merupakan model sistem dari segi fungsi-fungsi yang dijalankannya dan dari segi paket informasi yang dikelolanya. Belum ada gambaran tentang arsitektur sistem informasinya, dan juga belum ada gambaran tentang teknologi komputer yang akan digunakan sebagai mesin penyimpan, pengolah, dan temu-kembali. Dengan kata lain, model OAIS harus diberlakukan sebagai model umum untuk menuntun kegiatan yang lebih spesifik lagi, misalnya perancangan sistem pangkalan data, pembuatan antarmuka, pembangunan jaringan komputer, dan sebagainya. Image:Menejemen.jpg
________________________________________
[1] Sebagaimana tertera di “buku biru” CCSDS yang dapat diambil di http://www.ccsds.org/
[2] Ingested adalah istilah khusus yang digunakan untuk menjelaskan jasa dan fungsi sebuah OAIS ketika sistem menerima materi (disebut juga sebagai Submission Information Packages atau paket penyerahan informasi) dari Produsen informasi itu, menyiapkan materi arsip (disebut juga sebagai Archival Information Packages, atau paket informasi pengarsipan) untuk disimpan, dan memastikan bahwa materi ini dilengkapi metadata pendukung (disebut juga Descriptive Information, informasi deskriptif).
[3] Untuk penjelasan lebih lanjut tentang bit streams sebagai bagian dari materi digital atau objek digital.
[4] Dalam model OAIS, kegiatan bagian Akses ini disebut juga kegiatan transformasi (transformations) atau alih-bentuk.
[5] Penjelasan lebih lanjut tentang objek digital dan metadatanya untuk kepentingan preservasi dapat dilihat di Objek Digital.
[6] Untuk pembahasan yang lebih lengkap tentang Abstract.