Oleh: Sudarmanto Jatman (12 Januari 2008, Fak. Psikologi)

Abstraksi

 Keasyikan rnengimpor psikologi modern membuat wacana tentang pembumian psikologi tidak. berkembang, dan menimbulkan ketidak yakinan orang akan posisi kultural psikologi itu sendiri, baik dari sisi aksiologis maupun epistemologisnya. Banyak falsafah yang terkandung dalam pemikiran Jawa tidak diakui sebagai falsafah tetapi “hanya” sebagai cara hidup, jadi namanya “kejawen” kalau menyangkut hubungan dengan Tuhan disebut “kebatinan”, kalau usaha mengatur lingkungan ya namanya “klenik”. Jadi Psikologi Jawa itu ya parapsikologi, pelaku-pelakunya jadi paranormal ahli parapsikologi. Untungnya (atau malah celakanya) sekarang ini orang tengah membiarkan munculnya dukun-dukun santhet dan menyebutnya sebagai paranormal ahli parapsikologi.

Psikologi Jawa itu yang paling unggul diantara berbagai indigenous psychology atau etnopsikologi di Indonesia, karena saya hidup dalam budaya Jawa. Untuk mengenal Psikologi jawa “by heart” dilakukan dengan menghayati, merasakan ke dalam kehidupan cultural-spiritual humanistic seperti diutarakan Peter Berger dalam “The Sociology of Knowledge`nya.(YY)

 Kata Kunci : psikologi, indigenous psychology, kejawen, kebatinan, klenik.

Full teks Pidato Pengukuhan Guru Besar dapat didownload di http://eprints.undip.ac.id/354/