Oleh Nurdien H. Kistanto (8 maret 2003/ FS)

Abstraksi

 Metode-metode penelitian sosial budaya telah berkembang secara memadai dalam tigaperempat abad belakangan ini. Bersamaan dengan itu kecenderungan-kecenderungan baru dalam metode dan praktek penelitian sosial budaya juga bermunculan. Namun demikian telah berkembang pula semacam ketidakpuasan yang serius terhadap metode-metode penelitian sosial budaya yang selalu menempatkan para peneliti sebagai pihak luar sedangkan masyarakat yang diteliti sebagai pihak yang (semata-mata) “dipahami” dan “ditafsirkan”.

Pidato ini berusaha menilik kembali garis besar dari suatu perkembangan metodologi dalam bidang social budaya pada abad ke-20 yang berpengaruh dan berkelanjutan dalam kegiatan dan proyek-proyek penelitian serta aksi sosial budaya pada abad ke-21.

Pergeseran dan perubahan paradigma dalam penyelenggaraan berbagai kegiatan penelitian, kajian dan tindakan tidak hanya terjadi dalam wacana metodologis dan retorika. Perkembangan metodologi yang nyata telah terjadi dalam proyek-proyek dan kegiatan-kegiatan tindakan dari yang berparadigma “memahami” ke “menyertakan” dan “memberdayakan”. Para ahli metodologi, para ahli teori sosial budaya, para perencana proyek dan kegiatan telah mencari cara-cara, teknik-teknik dan metode yang bermanfaat bagi masyarakat. Sebagian diantaranya telah melaksanakan atau memfasilitasi orang lain melaksanakan kegiatan kemasyarakatn yang berbasis “penyertaan” dan “pemberdayaan”(rn)

.Kata Kunci metodologi sosial budaya, penelitian sosial budaya, paradigma pemahaman, paradigma penyertaan dan pemberdayaan.

Full teks Pidato Pengukuhan Guru Besar dapat didownload di http://eprints.undip.ac.id/296/