Open Access atau dapat diterjemahkan sebagai Akses Bebas adalah sebuah fenomena masa kini yang berkaitan dengan dua hal: keberadaan teknologi digital dan akses ke artikel jurnal ilmiah dalam bentuk digital. Internet dan pembuatan artikel jurnal secara digital telah memungkinkan perluasan dan kemudahan akses, dan kenyataan inilah yang ikut melahirkan Open Access (disingkat OA), atau lebih tepatnya Gerakan OA (Open Access Movement). Secara lebih spesifik, OA merujuk kepada aneka literatur digital yang tersedia secara terpasang (online), gratis (free of charge), dan terbebas dari semua ikatan atau hambatan hak cipta atau lisensi. Artinya, ada sebuah penyedia yang meletakkan berbagai berkas, dan setiap berkas itu disediakan untuk siapa saja yang dapat mengakses. Berdasarkan pengertian itu, maka OA otomatis juga membebaskan hambatan akses yang biasanya muncul karena biaya (entah itu biaya berlangganan, biaya lisensi, atau membayar-setiap-melihat alias pay-per-view fees).

Selain itu, OA juga menghilangkan hambatan yang timbul karena perizinan sebagaimana yang ada dalam setiap karya yang dilindungi hak cipta. Dalam praktiknya, terdapat pula keragaman dalam hal-hal yang dibebaskan. Misalnya, ada penyedia OA yang tidak peduli apakah berkas yang diambil dari tempat mereka akan dipakai untuk tujuan komersial atau tidak. Ada juga penyedia yang melarang penggunaan untuk kepentingan komersial. Sebagian penyedia menyediakan karya-karya salinan, sebagian lagi hanya menyediakan karya orisinal. Namun, apa pun perbedaannya, semua penyedia OA sepakat bahwa berkas digital yang mereka miliki harus terbebas dari hambatan harga dan perizinan. Ide tentang OA tidak dapat dilepaskan dari tiga “gerakan” atau kesepakatan yang melibatkan ratusan institusi informasi, yaitu Budapest Open Access Initiative (Februari 2002)[1], Bethesda Principles (Juni 2003)[2], dan Berlin Decleration (Oktober 2003)[3]. Budapest Open Access Initiative mendefinisikan OA dalam kalimat ini: “By ‘open access’ …, we mean its free availability on the public internet, permitting any users to read, download, copy, distribute, print, search, or link to the full texts of these articles, crawl them for indexing, pass them as data to software, or use them for any other lawful purpose, without financial, legal, or technical barriers other than those inseparable from gaining access to the internet itself. The only constraint on reproduction and distribution, and the only role for copyrights in this domain, should be to give authors control over the integrity of their work and the right to be properly acknowledged and cited.” (Dengan ‘open access’… yang kami maksudkan adalah ketersediaan artikel-artikel secara cuma-cuma di Internet, agar memungkinkan semua orang membaca, mengambil, menyalin, menyebarkan, mencetak, menelusur, atau membuat kaitan dengan artikel-artikel tersebut secara sepenuhnya, menjelajahinya untuk membuat indeks, menyalurkannya sebagai data masukan ke perangkat lunak, atau menggunakannya untuk berbagai keperluan yang tidak melanggar hukum, tanpa harus menghadapi hambatan finansial, legal, atau teknis selain hambatan-hambatan yang tidak dapat dilepaskan dari kemampuan mengakses Internet itu sendiri.

Satu-satunya pembatasan dalam hal reproduksi dan distribusi, dan satu-satunya peranan hak cipta dalam bidang ini, seharusnya hanya dalam bentuk pemberian hak kepada penulis untuk menentukan integritas artikel yang ditulisnya dan pemberian penghargaan kepadanya dalam bentuk pengutipan). Inisiatif yang ditandangani di Budapest itu juga menyatakan bahwa si pengarang (atau pengarang-pengarang) dan pemegang hak cipta dari sebuah artikel secara sadar menghibahkan hak permanen bagi pengguna untuk mengakses artikelnya. Selain itu juga memberikan lisensi kepada pengguna untuk menyalin, menggunakan, menyebarkan, mengirim, dan menyajikan karyanya kepada umum. Sementara pernyataan-pernyataan di Bethesda dan Berlin secara hampir serupa menandaskan bahwa pemegang hak cipta sebuah karya yang akan diberi status OA membuat pernyataan mengizinkan semua orang “menyalin, menggunakan, menyebarkan, mengirim dan menampilkan sebuah karya kepada umum, termasuk membuat karya turunannya, dalam segala medium digital”. Bersamaan itu, juga ditegaskan bahwa harus ada penghargaan yang memadai bagi pengarang (proper attribution of authorship). Dengan definisi seperti di atas, maka pada dasarnya, OA juga tidak dapat dikatakan bertentangan dengan prinsip hak cipta. Landasan hukum yang digunakan untuk OA biasanya adalah izin resmi yang diberikan (consent) oleh pemegang hak cipta, atau pernyataan bahwa literatur yang bersangkutan adalah milik umum (public domain). Karena sudah mendapat izin dari si empunya hak cipta, maka sebuah karya yang berstatus OA sebenarnya tidak melakukan penghapusan, perubahan, atau pelanggaran undang-undang tentang hak cipta. Dalam hal ini, maka OA juga bekerja dengan prinsip kesukarelaan dari pihak pencipta dan pemegang hak cipta. Fenomena OA melihat hak cipta sebagai hak eksklusif dalam memiliki, menerbitkan dan menyebarkan sebuah karya. Hak ini pada umumnya secara otomatis diberikan dan dipegang oleh pengarang.

Di dalam hak ini terkandung pemikiran tentang hak-hak moral, terutama hak sebagai pengarang untuk mendapat pengakuan bahwa ia adalah pencipta karyanya dan hak mengeksploitasi karya tersebut. Sebenarnya tidak terlalu ada masalah dalam hal hak cipta dari sisi pertimbangan moral untuk menghargai pengarang. Persoalan yang menjadi lebih perlu dicarikan solusinya adalah persoalan hak untuk mengeksploitasi atau memanfaatkan sebuah karya. Isyu ini segera berkaitan dengan isyu kepemilikan serta penggunaan atau penggunaan kembali (reuse) sebuah karya. Selama ini, dalam tradisi penerbitan jurnal ilmiah, hak ekpsloitasi dipindah-tangankan dari pengarang ke penerbit. Sebab itu, pihak lain selain penerbit tidak boleh menggandakan atau menyebarkan sebuah artikel di jurnal Hak untuk mengeksploitasi ciptaan seseorang itu sendiri mengandung sekumpulan hak pendukung. Di dalam dunia akademik, sebenarnya hak eksploitasi untuk karya yang dibuat berdasarkan hasil penelitian ilmiah agak terbatas. Seorang penulis ilmiah hanya punya dua pilihan: hak eksploitasi itu diberikan kepada pihak lain untuk digunakan asalkan demi kepentingan pendidikan, atau diberikan kepada penerbit untuk dimanfaatkan secara komersial. Nah, pilihan kedua tentang hak eksploitasi inilah yang sebenarnya menimbulkan persoalan ketika fenomena OA mulai menyebar ke berbagai institusi. Tentu saja para penerbit melihat hak menggandakan dan menyebarkan artikel ilmiah seharusnya tetap pada mereka.

Di dalam prinsip gerakan OA, justru hak ini yang dipindahtangankan kepada siapa pun melalui kebebasan bagi siapa pun untuk mengakses dan mengambil karya ilmiah yang bersangkutan. Namun dari sisi pandang para pengarang atau pencipta, gerakan OA sebenarnya memberikan tiga pilihan yang ‘membebaskan’ mereka dari keterikatan dengan penerbit. Ketiga pilihan tersebut adalah tetap memegang hak cipta (retain it), merelakan hak untuk dipakai bersama (share it), atau memindahkannya ke pihak lain (transfer it). Penjelasan secara ringkas tentang ketiganya adalah sebagai berikut:

 • Retain it – Pilihan ini menyebabkan pengarang tetap memiliki hak cipta dan mengizinkan pengguna memperbanyak karyanya asalkan hanya untuk kepentingan pendidikan. Kalau pengguna ingin melakukan lebih dari itu, harus ada izin dari pengarangnya (bukan dari penerbit). Pihak penerbit hanya ingin mendapatkan hak yang menyatakan bahwa mereka adalah penerbit pertama dari karya yang bersangkutan. Jika pengarang memutuskan untuk menerbitkan kembali artikelnya dengan cara lain, termasuk untuk keperluan komersial, ia wajib menyebut penerbit pertama ini.

 • Share it – Di lingkungan digital saat ini muncul fenomena lisensi Creative Commons (dapat diterjemahkan secara mudah sebagai ‘kreativitas adalah milik bersama’). Sebagai sebuah institusi, Creative Commons pertama muncul tahun 2001 dan mengubah slogan “all rights reserved” menjadi “some rights reserved”. Pengarang boleh memilih berbagai kemungkinan pemberian hak eksploitasi karyanya dalam bentuk lisensi. Misalnya, lisensi untuk tetap mempertahankan hak sebagai pengarang yang sah, tetapi mengizinkan semua orang menggunakan karyanya untuk tujuan apa pun, termasuk tujuan komersial. Atau mengizinkan penggandaan atau penyebaran asalkan tetap melalui penerbit yang menjalankan prinsip OA.

• Transfer it – Pengarang menyerahkan hak eksploitasi kepada penerbit yang akan mengomersialkan karyanya, tetapi tetap mempertahankan hak sebagai pengarang orisinal yang akan mengizinkannya memperbanyak atau menerbitkan kembali karyanya tanpa persetujuan penerbit pertama, asalkan bukan untuk tujuan komersial. Kita dapat melihat dari tiga kemungkinan di atas, pihak pengarang sebenarnya dapat menjadikan fenomena dan gerakan OA ini untuk lebih ‘merdeka’. Hal lain yang juga segera terlihat dalam prinsip OA ini adalah kerelaan pencipta atau pemilik hak cipta untuk tidak memperoleh imbalan uang (misalnya dalam bentuk royalti) bagi karyanya. Dalam konteks penggunaan teknologi digital dan jaringan Internet, maka prinsip untuk tidak mengharapkan royalti ini akan mengurangi biaya yang harus dikeluarkan oleh penyedia jasa OA atau penerbit.

Secara alamiah, prinsip tanpa royalti ini segera cocok untuk bidang penerbitan karya ilmiah, sebab sebenarnya banyak karya ilmiah yang dimuat di jurnal tanpa imbalan royalti. Para akademisi dan ilmuwan pada umumnya memang tidak menulis artikel ilmiah untuk mencari uang, melainkan untuk mencari pengakuan dan untuk memperluas jaringan pengetahuan mereka. Dengan demikian, sebenarnya gerakan OA tidak terlalu berbeda dari kondisi komunikasi ilmiah yang selama ini sudah ada. Berbeda dengan para pencipta musik atau pembuat film cerita, yang mungkin akan sangat berkeberatan jika karya mereka dimasukkan ke dalam kategori OA. Prinsip OA juga segera ‘mengena’ untuk kegiatan-kegiatan riset yang dibiayai oleh negara atau masyarakat lewat pajak. Dalam konteks ini, lebih dari negara-negara anggota the Economic Co-operation and Development (OECD) sudah menandatangani Declaration on Access to Research Data From Public Funding. Walaupun begitu, masih ada pembatasan untuk hal-hal tertentu, misalnya riset yang berhubungan dengan program militer milik negara, riset yang menghasilkan temuan-temuan yang kemudian dipatenkan, dan riset yang diterbitkan dalam sebuah perjanjian yang mengandung royalti dengan pihak lain (pihak komersial). Usia gerakan OA relatif masih muda, dan belum dapat dipastikan bagaimana masa depannya.

Bisa saja, gerakan ini mereda setelah antusiasme yang melahirkannya perlahan-lahan memudar. Ada banyak kemungkinan yang dapat menyebabkan hal ini, termasuk kemungkinan para penulis artikel akhirnya merasa bahwa mereka tidak mendapatkan manfaat apa-apa dari keikutsertaan mereka dalam gerakan ini. Faktor ini sangat menentukan, sebab gerakan OA sebenarnya dimotori oleh orang-orang yang bersedia menyediakan tulisan mereka secara cuma-cuma lewat Internet. Bisa saja pada suatu saat para pengarang merasa keberatan, karena model pembiayaan yang saat ini sedang dikembangkan adalah pembiayaan oleh pengarang (author-pays model). Hal lain yang dapat mengurangi semangat penulis adalah kekurangan OA dalam hal penghargaan. Jika memang gerakan ini kurang menarik bagi para pengarang dan institusi penelitian yang mendukung para penulisnya, maka boleh jadi OA akan mereda lalu berhenti sama sekali. Sebaliknya, mungkin pula gerakan OA akan terus meluas dan mampu menyaingi pola tradisional yang saat ini masih dijalankan oleh jurnal-jurnal ilmiah. Kalau ini yang terjadi, maka sejumlah besar penulis dan peneliti akan berbondong-bondong menjejali situs-situs OA dengan karya mereka. Demikian pula, institusi-institusi penelitian yang tadinya mendukung jurnal-jurnal ilmiah mungkin akan menghentikan dukungannya. Lama-kelamaan mungkin saja OA menjadi satu-satunya model dalam hal diseminasi karya ilmiah, menggantikan tradisi jurnal. Kemungkinan kedua ini mungkin terdengar ekstrem. Lalu, mungkin saja yang akan terjadi adalah gabungan dari kemungkinan pertama dan kedua.

Misalnya, ada universitas yang memutuskan untuk membuat sebuah himpunan karya-karya sivitas akademikanya[4]. Ini merupakan fasilitas untuk menyimpan karya-karya tulis baik yang berjenis preprint maupun postprint. Bersamaan dengan itu, universitas juga menyediakan akses ke direktori tentang jurnal-jurnal OA (Directory of Open Access Journals atau DOAJ[5]) dan himpunan yang berisi artikel OA semacam ArXiv. Ini semua dilakukan tanpa melepas langganan ke jurnal-jurnal komersial lewat penyedia jasa elektronik seperti EBSCO atau ProQuest. Dampak utama dari ketersediaan sumberdaya OA bagi perpustakaan saat ini adalah dalam kebiasaan pengguna untuk tidak lagi merasa perlu mengunjungi perpustakaan (baik lewat Internet maupun datang ke perpustakaan) untuk memperoleh artikel ilmiah. Para pengguna bisa langsung masuk ke Web dan mengakses jurnal-jurnal OA. Ini tentu saja berbeda sekali dengan keadaan ketika perpustakaan adalah tempat yang harus dikunjungi kalau kita memerlukan jurnal. Kini kita bisa mem-bypass perpustakaan dan langsung menggunakan sumberdaya di Internet. Dalam situasi seperti ini, maka peran perpustakaan bukan lagi sebagai penyedia, melainkan lebih sebagai semacam mediator, baik di tingkat kebijakan maupun di tingkat praktik atau operasional. Di tingkat kebijakan, perpustakaan digital ikut berperan dalam merumuskan langkah-langkah universitas atau lembaga induknya dalam pengelolaan akses dan penyediaan sumberdaya informasi digital. Di tingkat operasional, para pustakawan digital akan menjadi mitra pengguna dalam mencari dan menemukan artikel-artikel OA yang semakin lama semakin banyak jumlahnya itu. Kemampuan sebuah perpustakaan digital untuk menyediakan semacam akses mudah ke berbagai sumberdaya digital, misalnya dalam bentuk portal , menjadi penentu apakah pengguna akan mau datang kembali ke perpustakaan, walaupun secara maya (virtual). Pengetahuan para pengelola perpustakaan digital tentang sumber-sumber OA dan dinamika perkembangan OA menjadi penting saat ini. Seperti disebutkan di atas, mungkin saja saat ini para penyedia jasa komersial seperti EBSCO dan ProQuest menyediakan daftar akses ke sumber-sumber OA, dan juga sudah ada DOAJ. Namun belum tentu semua pengguna mengetahui keberadaan jurnal OA, dan belum tentu pula semua jurnal OA sudah terdaftar di sumber-sumber di atas. Tugas pengelola perpustakaan digital saat ini adalah membantu menemukan berbagai sumber OA yang mungkin luput dari jangkauan penyedia jasa.

Selain itu, perpustakaan digital juga dapat menyediakan jasa untuk membantu pengguna menentukan relevansi dan kegunaan berbagai sumberdaya OA. Tentu saja, untuk dapat melakukan ini, pengelola perpustakaan digital harus memahami fenomena OA dan memeriksa sendiri isi berbagai sumber OA tersebut. Termasuk dalam tugas baru ini adalah memeriksa kualitas sumber-sumber OA yang ada, inilah tantangan terbesar bagi para pustakawan digital saat ini. Implikasi langsung dari fungsi perpustakaan digital dalam membantu pengguna mencari dan menemukan sumber-sumber OA adalah implikasi bibliografis. Dalam lingkungan OA, para pustakawan kini punya tugas baru dalam mengidentifikasi, mengevaluasi, memilih, dan menyediakan berbagai sumber OA. Lalu, semua ini tentunya memerlukan pengelolaan dan pengatalogan, termasuk juga membuat indeks tentang sumber-sumber OA. Mengingat semua ini ada dalam lingkungan digital dan komputerisasi, sangatlah mungkin para pengelola perpustakaan saat ini harus bekerja sama lebih erat dengan pihak pengelola teknologi informasi di sebuah institusi. Atau mungkin pula akhirnya perpustakaan digital dituntut untuk juga punya kapasitas pengelolaan teknologi informasi yang memadai, termasuk kapasitas menggunakan berbagai tools untuk OA seperti OAIster (http://oaister.umdl.umich.edu/o/oaister/ )[6], dan juga direktori OA yang disediakan Google dan sumber khusus untuk karya ilmiah mereka, Google Scholar (http://scholar.google.com/ ).

Bagi para pengatalog, fenomena OA juga memiliki ciri-ciri yang ada pada semua jenis publikasi elektronik, yaitu kemungkinan perubahan lokasi (URL). Perpustakaan digital seringkali harus punya kemampuan mengecek konsistensi URL ini, sebab bisa saja sebuah sumber “hilang” setelah dimasukkan ke dalam daftar katalog perpustakaan, dan para pengguna akan kecewa jika mereka selalu menerima pesan “error 404 website not found”. Beberapa upaya bersama telah dilakukan, misalnya dalam bentuk PURL (Persistent Uniform Resource Locators) yang berupaya mempromosikan konsistensi penggunaan URL. Sementara itu, juga tetap ada kemungkinan nama jurnal OA yang berubah, sebagaimana terjadi dengan jurnal tradisional dalam bentuk tercetak. Bedanya, dalam lingkungan jurnal elektronik dan OA, seringkali perubahan ini berdampak pada terputusnya link karena nama yang digunakan di URL sudah berubah. Lebih parah lagi kalau tidak ada dokumentasi yang cukup jelas tentang pengaruh perubahan ini pada terbitan-terbitan sebelumnya. Untuk jurnal tradisional, perpustakaan tetap bisa menyimpan terbitan lama dengan judul lama, dan mencatatnya di bawah daftar dengan nama lama itu. Kalau ada perubahan dalam nama, maka daftarnya tinggal ditambahkan dengan nama baru. Dalam lingkungan elektronik, bisa saja sebuah jurnal berganti nama dan nama baru itu dikenakan ke semua terbitan, termasuk terbitan yang lama. Kalau semua akses sebelumnya menggunakan nama lama, maka praktis link akan terputus karena sudah diganti dengan nama baru. Dalam konteks ini, nomor ISSN menjadi penting. Link ke nomor ISSN akan lebih konsisten daripada ke judul jurnal. Secara lebih luas lagi, kehadiran jurnal-jurnal OA juga memunculkan situasi hibrida yang cukup rumit (lihat juga pembahasan tentang Perpustakaan Hibrida). Sebuah perpustakaan mungkin saja menyimpan jurnal dalam bentuk tercetak dan dalam bentuk mikro (microfilm), sekaligus juga menyediakan sarana akses ke sebagian dari arsip isi jurnal tersebut melalui arsip terbuka (open access archive), dan pada saat yang sama menyediakan akses digital melalui langganan ke penjaja jurnal elektronik.

Dalam keadaan yang amat beragam ini, pengelola akan mendapat tantangan baru. Ketika akses ke salah satu dari format jurnal mengalami perubahan dalam perjanjian legalitasnya, muncul pertanyaan: bagaimana mengintegrasikan akses ke sumber yang berstatus OA dan akses ke sumber yang terikat hak cipta, dan bagaimana tetap menyediakan jasa tanpa melanggar perjanjian dengan penerbit. Hal ini jelas memerlukan kecermatan ekstra. Pertambahan jumlah judul jurnal yang harus dikelola sebuah perpustakaan juga memerlukan perhatian khusus. Dalam situasi ketika sebuah perpustakaan hanya mengoleksi jurnal cetak dan elektronik, maka dana operasi menjadi semacam patokan ambang batas. Sedangkan dalam lingkungan yang hibrida dan mengandung sumber-sumber OA, maka perlu ada pengelolaan bersama antara sumber yang memerlukan bayaran dan sumber yang gratis. Biar bagaimana pun keduanya harus dikelola, dan seringkali ilusi tentang sumber yang gratis dari OA ini membuat pengelola lupa bahwa pengelolaannya (terutama pengelolaan aksesnya) memerlukan biaya pula. Ilusi tentang akses gratis ini seringkali membuat pengelola ‘membabi-buta’ menyediakan akses dan mengambili jurnal-jurnal OA, dan baru terkesima ketika pengguna mengeluh karena mengalami kesulitan dalam mencari dan mengambil artikel yang mereka perlukan. Jelaslah bahwa fenomena OA seharusnya membuat para pengelola perpustakaan memperhatikan aspek temu kembali dan akses, sehingga mereka seharusnya segera pula memikirkan hal-hal yang berkaitan dengan federated search dan Open URL.

Di lain pihak, fenomena OA juga sebenarnya secara langsung ‘mengembalikan’ fungsi tradisional perpustakaan sebagai sumber informasi ilmiah, terutama ketika dikaitkan dengan fenomena perkembangan simpanan kelembagaan (institutional repositories di lingkungan perguruan tinggi). Walaupun perpustakaan perguruan tinggi pasti tidak akan sendirian dalam menetapkan kebijakan dan prosedur komunikasi ilmiah di kampus atau dalam mengelola sistem berbasis jaringan komputer, namun perpustakaan dapat segera mengklaim fungsi penyimpanan atau repository. Adalah lumrah bagi perpustakaan untuk menjadi koordinator dalam pengelolaan informasi dan sumberdaya yang terhimpun di simpanan kelembagaan sebuah universitas. Fungsi ini juga sudah diformalkan melalui protokol Open Archives Initiative Protocol for Metadata Harvesting (lihat pula pembahasan tentang harvesting). Peran yang tak kalah menantang lainnya adalah peran perpustakaan dalam mengembangkan simpanan kelembagaan dari segi promosi. Pada umumnya, pengembangan simpanan kelembagaan dan sarana yang bersifat open access sering mengalami hambatan berupa keengganan di pihak penulis untuk mengisi simpanan secara aktif dan berkesinambungan. Perpustakaan dapat melakukan fungsi promosi, termasuk menjadi penyalur subsidi bagi penulis yang bersedia memasukkan artikel mereka ke simpanan kelembagaan atau ke situs-situs OA.

________________________________________ [1] http://www.soros.org/openaccess/ [2] http://www.earlham.edu/~peters/fos/bethesda.htm [3] http://oa.mpg.de/openaccess-berlin/berlindeclaration.html [4] himpunan seperti ini dikenal dengan istilah institutional repositories, lihat juga pembahasan tentang OAI. [5] Lihat http://www.doaj.org/ [6] OAIster berkaitan dengan Open Archive Initiative (OAI). Perhatikan perbedaan singkatan A antara OA dan OAI. Pembahasan tentang OAI , dan tentang OAIster.