Ted Holm Nelson dianggap sebagai orang pertama yang menggunakan istilah “hypertext” di pertengahan tahun 1960an. Dua puluh tahun setelah dia memperkenalkan istilah itu, Nelson meresmikan definisinya sendiri, yaitu “nonsequential writing – text that branches and allows choice to the reader, best read at an interactive screen” (penulisan secara tidak berurutan –teks yang bercabang-cabang dan mengijinkan pembacanya memilih percabangan itu, sangat cocok untuk ditampilkan di layar interaktif)[1]. Waktu itu, dia pun sebenarnya masih “mengeluh” di dalam bukunya Literary Machines (1981):
“Sayang sekali, orang-orang tidak mengerti. Sebagian besar atau mungkin seluruh kegiatan membaca dan menulis akan kita lakukan pada abad ini di layar kaca… Saya ingin mengulas persoalan membaca dan menulis di atas layar ini, dan ada semesta baru yang akan tercipta dari kegiatan itu, dan kita akan hidup di dalamnya. Vannevar Bush sudah berpesan kepada kita di tahun 1945… tetapi pemikirannya telah diabaikan oleh sebagian besar orang. Ada yang mengatakan idenya terlalu mengawang-awang. Ada yang mengatakan terlalu sederhana… “
Keluhan di atas berkaitan dengan keprihatinan Nelson melihat perkembangan penelitian di bidang komputer pada saat itu, hanya sepuluh tahun sebelum akhirnya Internet lahir dan mengubah dunia informasi untuk selama-lamanya. Dia juga secara khusus mengacu ke proyek Xanadu yang dipimpinnya, sebuah proyek percontohan yang sangat ambisius dan menyeluruh tentang sebuah jaringan raksasa berisi berbagai teks, foto, film, dan suara yang saling berkaitan, sambung-menyambung, menjadi sebuah mesin raksasa. Lalu, setiap orang, dari mana saja, dapat menggunakan mesin ini untuk mengambil data dan informasi bagi keperluan pribadi maupun keperluan pekerjaan. Mimpi ini tentu saja sekarang tak asing lagi, setelah akhirnya Internet menjadi realitas. Namun, Xanadu Project itu sendiri akhirnya terbengkalai dan dihentikan.

Sistem berbasis hypertext pertama yang dianggap benar-benar operasional dibangun pada tahun 1967 oleh tim peneliti yang dipimpin Dr. Andries van Dam dari Brown University. Penelitiannya ini didanai oleh IBM yang akhirnya memproduksi Hypertext Editing System untuk dijalankan di komputer besar (mainframe) IBM/360. Sistem ini kemudian dijual kepada pengelola program ruang angkasa Amerika Serikat, yaitu Houston Manned Spacecraft Center untuk program roket Apollo mereka. Setahun kemudian, van Dam mengembangkan prototipe baru yang diberi nama FRESS, alias File Retrieval and Editing System yang ia jual untuk dijadikan produk komersial oleh Philips. Sementara itu ada perkembangan lain yang akhirnya akan ikut menentukan nasib program-program hypertext, yaitu penemuan alat yang kini dinamakan mouse itu. Doug Engelbart dari Stanford Research Institute adalah pencipta mouse yang menurutnya diinspirasi oleh ide Nelson tentang hypertext. Tahun 1968 Engelbart merilis program yang diberinama NLS alias oN Line System, sebuah sistem hypertext berisi lebih dari 100.000 makalah, laporan penelitian, catatan, dan rujukan-silang (cross references). Sistem inilah yang menginspirasi jurnal elektronik dan berbagai portal kelak di kemudian hari.

Tahun 1972, para peneliti di Carnegie-Mellon University mulai mengembangkan ZOG (bukan singkatan apapun, dan nama ini dipilih secara sembarangan saja!), sebuah pangkalan data berukuran besar yang dirancang untuk lingkungan pemakaian bersama (multiuser). Pangkalan data ZOG adalah pangkalan data yang sepenuhnya teks, sehingga dapat pula dianggap sebagai cikal bakal jurnal elektronik. Semua data disimpan di sebuah induk, yang pada awalnya adalah sebuah mainframe IBM. Sistem ini kemudian dipakai untuk keperluan militer, yaitu sebagai bagian dari sistem informasi di atas kapal induk bertenaga nuklir milik Amerika Serikat, USS Carl Vinson.

Pada tahun 1978, Andrew Lippman dari MIT Architecture Machine Group, mengembangkan sistem yang dianggap menjadi cikal bakal dari hypermedia, yang diberi nama Aspen Movie Map. Sistem ini merupakan sebuah simulasi virtual yang membawa penggunanya berjalan-jalan di kota Aspen, sebuah kota di negara bagian Colorado, Amerika Serikat. Untuk membuatnya, Lippman menggunakan empat kamera yang menyorot ke berbagai arah, dan diletakkan di atas truk yang berkeliling Aspen. Dengan kamera-kamera ini, Lippman membuat berbagai potongan film yang kemudian dirangkai menjadi sebuah sistem yang dapat diperintah oleh pengguna. Jadilah ini sebuah sistem hypermedia pertama yang kelak menginspirasi pembuatan virtual tour dalam format digital. Berbagai permainan (games) komputer juga terinspirasi oleh proyek Lippman ini.

Kita segera dapat mengaitkan perkembangan-perkembangan masa lampau di atas untuk memahami keberadaan perpustakaan digital saat ini, terutama sebagai sebuah sistem penyimpan dan penemu-kembali informasi. Apalagi jika kita melihat pula perkembangan teknologi yang digunakan di perpustakaan di masa yang sama, sebelum komputer dan Internet merajalela seperti sekarang. Misalnya, kita dapat melacak ke belakang, ketika teknologi penyimpanan informasi secara terpampat masih dalam bentuk film mikro (microfilm). Penggunaan teknologi ini dimulai jauh sebelum era komputer, yaitu di tahun 1935, ketika seluruh edisi The New York Times dari tahun 1914 sampai tahun 1918 diterbitkan ulang sebagai gulungan film mikro oleh Eastman Kodak Recordak Division. Dua tahun kemudian, Eugene Power mendirikan University Microfilms yang mengkhususkan diri pada produksi film mikro karya akademik. Dua dekade kemudian, The New York Times secara reguler menerbitkan versi film mikro untuk pelanggan.

Industri penerbitan film mikro mulai tumbuh pesat tahun 1950an ketika perpustakaan-perpustakaan mulai menjadikan media ini sebagai salah satu koleksi utama mereka. Tujuannya adalah untuk menghemat tempat, dan secara tidak langsung upaya ini menjadi jembatan dari era cetak ke era elektronik. Perlu juga kiranya disadari bahwa media film mikro dipandang lebih sebagai media penyimpan, tidak dilengkapi fasilitas temu kembali yang ekstensif. Tentu saja kita kemudian tahu bahwa film mikro akhirnya mengalami kemunduran pesat dan bahkan lalu nyaris punah ketika komputer mulai merasuk ke kehidupan manusia.

Dunia perpustakaan mengenal komputer pertama kalinya bukan sebagai alat penyimpan seperti film mikro itu. Bentuk-bentuk awal teks digital yang ada di perpustakaan adalah katalog, bibliografi, dan indeks. Dengan kata lain, dunia perpustakaan menggunakan komputer untuk mengelola metadata, alias informasi tentang buku, bukan untuk mengelola buku itu sendiri. Buku digital baru di belakang hari datang menjadi penghuni perpustakaan, itu pun sampai sekarang masih belum sepenuhnya diterima sebagai bagian koleksi perpustakaan. Perpustakaan lebih mengenal komputer lewat program MARC (Machine Readable Cataloguing) yang mulai dipakai di Amerika Serikat tahun 1965. Namun perkenalan ini bukan satu-satunya jalan masuk komputer ke perpustakaan. Pada tahun yang sama asosiasi pustakawan AS, yaitu American Library Association mendanai sebuah proyek yang diberi nama Library/USA. Proyek ini membangun sebuah sistem yang melayani pengguna seperti sebuah layanan rujukan. Pengguna dapat mengajukan pertanyaan tentang berbagai hal (tentu saja “berbagai hal” ini terbatas pada lingkup subjek perpustakaan), kemudian komputer UNIVAC menjawab dalam bentuk tercetak.

Teknologi komputer juga mendorong kelahiran konsep pengatalogan bersama (shared cataloging). Dua orang pustakawan perguruan tinggi di Amerika Serikat, yaitu Ralph Parker dan Frederick G. Kilgour mengusulkan sebuah proposal pembangunan jaringan komputer yang memungkinkan pustakawan membuat satu katalog saja untuk setiap buku, lalu pustakawan lainnya tinggal menyalin katalog itu. Ide ini kemudian menjadi kenyataan ketika Kilgour memimpin Ohio College Library Center (OCLC) untuk mengubah perpustakaan kecil ini menjadi pusat bagi 1600 perpustakaan lainnya dalam pengatalogan. Ia pensiun tahun 1995, dan kini OCLC adalah sebuah lembaga internasional dengan 50 juta katalog digital. Pangkalan datanya menjadi tempat nyantol tak kurang dari 50.000 perpustakaan di seluruh dunia yang menyalin katalog OCLC untuk digunakan secara lokal.

Selain kelahiran MARC dan jaringan pengatalogan, tahun 1965 kita juga menyaksikan kiprah pustakawan lainnya, yaitu Roger Summit, yang bekerja untuk Lockheed Missile and Space Company dan badan ruang angkasa Amerika Serikat (NASA). Dari tangannya lah pada tahun 1969 lahir sebuah sistem temu-kembali terpasang (online retrieval system) yang diberi nama resmi NASA/RECON (Remote Console Information Retrieval System), tetapi oleh Summit sendiri diberi nama yang lebih populer, yaitu “Dialog”. Di saat yang sama, sebuah jaringan komputer bernama ARPANET dibangun oleh Advanced Research Projects Agency (ARPA) untuk menyambungkan empat universitas besar. Kita tahu, pada tahun 1970-an, ARPANET menjelma menjadi Internet ketika protokol TCP/IP ciptaan Bob Kahn dan Vint Cerf disepakati sebagai “bahasa internasional” untuk mesin-mesin komputer.

Sementara itu, di dunia perpustakaan dan informasi pada tahun 1972 berdirilah Dialog Information Retrieval Service milik Lockheed, sebuah perusahaan yang menjajakan pangkalan data terpasang (online) untuk para pelanggan yang tersambung lewat jaringan komputer. Perpustakaan adalah institusi pelanggan yang segera memanfaatkan jasa ini. Dua pangkalan data yang cepat sekali tumbuh adalah ERIC (Educational Resources Information Center) dan NTIS (National Technical Information Service). Sejak akhir 1970-an industri online database tumbuh pesat mengikuti pertumbuhan Internet. Kemajuan-kemajuan teknologi world wide web akhirnya “menyatukan” teknologi hypertext yang sebelumnya seolah-olah berdiri sendiri, dengan teknologi penyimpanan dan temu-kembali teks dalam jumlah besar. Jurnal elektronik bertumbuhan, jasa-jasa informasi komersial maupun gratis memenuhi Internet, dan kemudahan pencarian lewat search engine pun melengkapi fenomena ini. Sekarang, mungkin sudah sulit memisah-misahkan satu teknologi dari lainnya. Teknologi informasi dan telekomunikasi sudah terintegrasi; perpustakaan digital pun lahir serta berkembang di dalamnya.

Kalau sekarang orang-orang memakai istilah hypertext seringkali yang muncul adalah berbagai pengertian. Kathleen Gygi (1990: 282) melihat setidaknya ada dua kategori pengertian hypertext, yaitu kategori luas atau umum (diistilahkan sebagai “broad-spectrum”) yang dikelompokkannya dalam Grup I, dan kategori klinis (“more clinical variety”) di dalam Grup II. Menurut Gygi, pengertian yang ada di Grup I pada umumnya digunakan di media massa, iklan, dan terbitan-terbitan komersial, sementara pengertian di Grup II kebanyakan digunakan oleh jurnal ilmiah dan lingkungan akademik. Perbedaan antara Grup I dan Grup II dapat dilihat di daftar berikut:

Grup I
• Hypertext merupakan teknologi pengaitan (association) bukan pengindeksan.
• Hypertext adalah sebuah format penyajian ide secara tidak berurutan (nonsequential).
• Hypertext adalah alternatif bagi pendekatan tradisional dan garis-lurus (linear) dalam penyajian dan pengolahan informasi.
• Hypertext bersifat nonlinear dan berubah-ubah (dynamic).
• Dalam hypertext, isi-pernyataan tidak terikat oleh struktur dan pengorganisasian.

Grup II
• Hypermedia adalah sebuah cara mengembangkan sistem representasi dan manajemen informasi di dalam sebuah jaringan noktah (nodes) yang saling terhubung melalui kaitan-kaitan (links).
• Hypertext adalah : (1) sebentuk dokumen elektronik, (2) sebuah pendekatan dalam manajemen informasi yang memanfaatkan teknologi penyimpanan data di dalam sebuah jaringan yang mengandung berbagai noktah dan kaitan. Fasilitas ini kemudian dimanfaatkan melalui perawak alias browsers interaktif dan dimanipulasi dengan sebuah alat penyunting (editor).
• Hypertext mengandung sebuah teknik pengelolaan informasi tekstual dengan cara yang rumit dan non-linear untuk membantu manusia menjelajahi sekumpulan pengetahuan yang amat besar. Secara konseptual, sebuah pangkalan data hypertext dapat dilihat sebagai sebuah bentuk grafis terarah (directed graph) di mana setiap noktah grafis adalah sekeping teks dan setiap tepian-tepian dari noktah itu terhubung dengan kepingan teks lainnya. Lalu ada sebuah antarmuka (interface) yang memungkinkan pengguna teks untuk memanfaatkan teks tersebut, mengarahkan “perjalanan”-nya di dalam jaringan teks dengan berpindah-pindah teks melalui berbagai kaitan yang tersedia. Juga terdapat berbagai jendela (windows) yang terhubung ke berbagai objek di dalam pangkalan data. Antara satu objek dengan yang lainnya terdapat kaitan-kaitan, baik secara grafis maupun sebagai butiran penunjuk (pointers).
Dari kedua kelompok pengertian, dan terutama dari kelompok pengertian di Grup II, terlihat bahwa hypertext setidaknya mengandung 3 unsur dan konsep penting. Pertama adalah konsep tentang noktah (nodes) sebagai sebuah unit yang bermakna (semantic unit) baik berupa teks sepenuhnya maupun multimedia. Kedua, noktah-noktah ini saling berhubungan lewat kaitan (links), sedemikian rupa sehingga orang dapat berpindah-pindah noktah secara cepat. Ketiga, sebuah perangkat antarmuka yang bersifat interaktif dan dinamis digunakan seseorang untuk menjelajah jaringan informasi dengan cara dan pola yang ditetapkannya sendiri.

Hypertext tentu saja juga adalah teknologi elektronik dan digital, sehingga unsur ketiga di atas amat penting untuk dipahami. Antarmuka yang interaktif dan dinamis ini tidak ada di teknologi cetak. Dua unsur lainnya masih mungkin ada di teknologi cetak, karena pada dasarnya setiap teks memiliki kepingan-kepingan yang saling berhubungan, seperti sebuah buku yang terdiri dari berbagai bab dan bagian yang saling berhubungan dan saling merujuk. Demikian pula, semua teks pada dasarnya mengandung upaya pengaitan (asosiasi), terutama karena semua manusia selalu melakukan asosiasi di pikirannya ketika sedang membaca. Teknologi hypertext berbeda dari teknologi teks lainnya karena asosiasi dan pengaitan ini tersedia dan tercipta lewat antarmuka manusia-komputer. Dengan teknologi Internet, asosiasi yang amat rumit ini menjadi sekaligus amat luas, menciptakan koneksi yang terbuka (open ended) sebab setiap manusia boleh memilih hendak mengaitkan satu hal dengan hal lainnya, tanpa harus mengikuti hirarki tertentu yang sudah ada sebelumnya. Di sinilah unsur antarmuka yang interaktif dan dinamis menegaskan perbedaan hypertext dari teknologi teks lainnya.
________________________________________
[1] Saat ini, walaupun hypertext lebih sering dikaitkan dengan teks elektronik, namun ide dasarnya dapat diberlakukan untuk segala jenis teks. Hypertext dapat dilihat sebagai cara menyajikan teks yang sebagian besar bersifat linear (mengikuti “garis” dari awal ke akhir), tetapi juga tidak harus selalu begitu. Lebih penting dalam ide dasar hypertext adalah adanya kemungkinan teks ini disaling-kaitkan dengan teks-teks lain, sedemikian rupa sehingga sebenarnya tidak sungguh-sungguh ada awal dan akhir yang mengikuti garis lurus. Pembaca boleh “melompat” dari satu teks ke teks lainnya semau dia. Untuk memungkinkan hal ini, maka biasanya sebuah hypertext tidak hanya berisi serangkaian kata, namun juga sebuah noktah atau titik-tolak (node) yang berfungsi sebagai pengait (link) ke teks lain. Setelah muncul teknologi untuk menyajikan berbagai format dan media di layar komputer, maka noktah dan pengait ini memungkinkan terciptanya hypermedia dan akhirnya sebuah jaring raksasa yang kita sebut Web atau Internet.