Oleh Th. Sri Rahayu Prihatmi (12 Oktober 1999/ FS)

Abstraksi

 Cerita rekaan (cerkan) tidak semua ceritanya mudah kita pahami. Ada yang relatif mudah kita pahami karena masih berada dalam tradisi realisme : menyajikan realitas sehari-hari, realitas yang terjangkau oleh logika umum, tapi ada yang sulit untuk mencernakan maknanya karena mungkin sifatnya absurd, surealis atau fantasi. Sebuah karya sastra apabila sudah diketahui maknanya maka fungsinya menjadi jelas.

Cerkan yang merongrong tradisi realisme di Indonesia dicontohkan dengan Kumpulan Cerpen Danarto : Godlob dan Adam Ma”rifat serta karya Putu Wijaya yaitu Novel Stasiun. Cerpen Danarto bukanlah lukisan tersamar dari dunia nyata melainkan justru menunjukkan sebuah dunia lain dengan logikanya sendiri yang menumbangkan logika sehari-hari. Demikian pula Novel Putu Wijaya. Peristiwa di dalammnya menunjukkan gagalnya pencarian diri yang merupakan sebuah permasalahn manusia modern.

Kumpulan karya Danarto membuat kita berpikir dan mempertimbangkan kembali apakah realitas itu, apakah kebenaran. Realitas di luar jangkauan logika biasa yang diramukan dalam karya, bukan pelarian melainkan justru pencerahan bagi pembacanya bagaimana jalan menuju kepada Tuhan. Sedangkan Karya Putu Wijaya membuat kita sadar bahwa tragedi keluputan pencarian diri, yang sebenarnya adalah tragedi kita semua. Sastra yang seperti itu tak pelak lagi akan sangat bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan khususnya ilmu sastra, karena akan melahirkan teori sastra yang baru juga bagi sosiologi, psikologi dan psikoanalisa, sejarah dan mungkin ilmu hukum.(RN)

 Kata kunci: cerita rekaan, tradisi realisme, makna dan fungsi karya sastra, Danarto, Putu Wijaya.

Full teks Pidato Pengukuhan Guru Besar dapat didownload di http://eprints.undip.ac.id/274/