Istilah fulltext dapat diterjemahkan sebagai “teks sepenuhnya”, merujuk ke suatu keadaan dalam koleksi digital yang mengandung seluruh teks, sebagai lawan dari hanya mengandung sebagian teks (misalnya, hanya mengandung abstrak atau data bibliografi). Secara teoritis dan dalam jargon bisnis, seringkali istilah fulltext dijadikan ukuran tentang kuantitas dan kualitas jasa pangkalan data. Artinya, sebuah pangkalan data fulltext selalu dianggap lebih menguntungkan bagi penggunanya. Dalam kenyataannya, muncul isyu tentang seberapa penuh atau seberapa menyeluruh sesungguhnya kandungan tekstual sebuah pangkalan data. Isyu ini terutama muncul ketika orang mulai melihat perbedaan kinerja dan kualitas layanan dari berbagai penyedia jurnal elektronik yang mengaku bahwa mereka menyediakan layanan fulltext.

Jika kita amati lebih seksama, para penyedia (vendor) belum tentu punya kesepakatan tentang apa yang dimaksud dengan kata full atau “sepenuhnya”. Jika sebuah jurnal diterbitkan dalam bentuk tercetak dan digital, maka pengertian “teks sepenuhnya” belum tentu adalah semua isi jurnal tercetak mulai dari sampul depan sampai sampul terakhir akan ada pula di bentuk digital” (atau biasa disebut dengan istilah cover-to-cover content). Pada banyak pangkalan data, ternyata ada bagian-bagian dari isi jurnal versi tercetak yang tidak muncul di versi fulltext digital. Misalnya, yang paling sering dihilangkan dari versi digital adalah iklan, pengumuman, catatan-catatan tentang legalitas, tulisan-tulisan pendek, dan bahkan juga gambar-gambar). Beberapa jurnal ilmiah berfungsi pula sebagai media komunikasi profesional, dan pengumuman-pengumuman tentang lowongan kerja atau kegiatan seminar seringkali hilang dari versi digital, dan ini sangat mengurangi fungsi komunikasi ilmiah dari jurnal yang bersangkutan.

Hal lain yang harus dicermati ketika berlangganan pangkalan data fulltext adalah koleksi arsipnya. Artinya, perhatikanlah bahwa di beberapa pangkalan data yang ditawarkan vendor, ada kecenderungan bahwa yang tersedia dalam bentuk teks sepenuhnya hanyalah artikel-artikel dari edisi 1990 ke atas. Seringkali, artikel dari edisi yang lebih tua, misalnya dari tahun 1970-an, hanya tersedia dalam bentuk abstrak. Kalau kita ingin mendapatkan fulltext-nya, maka akan ada biaya tambahan. Selain itu, perhatikan pula bahwa gambar atau grafik yang menjadi bagian dari sebuah artikel fulltext digital belum tentu sesuai dengan yang ada di bentuk tercetak. Kualitas gambar di versi digital mungkin saja tidak sebaik versi tercetak. Bahkan ada kemungkinan gambar tersebut hilang sama sekali dari versi digital, atau salah tempat. Ini biasanya terjadi pada pangkalan data teks yang perlu memayar dan mengubah teks cetak ke teks digital. Selalu saja ada kemungkinan kesalahan dan kehilangan data ketika sebuah artikel mengalami transformasi dan migrasi. Jika artikel tersebut terlahir dalam bentuk digital (born digital) maka kemungkinan itu dapat dihindari.

Beberapa jurnal mengandung artikel yang betul-betul memerlukan gambar berwarna dengan kualitas tinggi, misalnya gambar yang memperlihatkan organ tubuh di artikel ilmu kedokteran, atau gambar yang merinci permukaan Mars di artikel ilmu angkasa luar. Dalam versi digitalnya sangat besar kemungkinan bahwa gambar-gambar seperti ini terpaksa harus direduksi menjadi gambar hitam-putih atau grayscale sehingga kehilangan begitu banyak nilai informasinya. Belum lagi jika ada persoalan hak-cipta yang terpisah antara gambar dan artikel. Sebagian vendor terpaksa hanya menyediakan teks dan mengenakan biaya tambahan untuk permintaan akan gambar-gambar berkualitas tinggi.

Faktor lain yang tak kalah penting kalau kita membandingkan versi tercetak dan versi digital dari sebuah jurnal atau majalah, adalah tata letak dan pewarnaan. Seringkali, tata letak dan warna di versi tercetak memegang peranan penting sebagai penegas pesan yang terkandung dalam sebuah artikel. Beberapa informasi penting juga sering ditampilkan di lokasi di luar artikel utama. Misalnya:
• Headword: kata-kata yang tampil di atas judul utama sebuah artikel. Di sini mungkin ada keterangan tentang nama rubrik, sebuah cuplikan dari isi artikel (dikenal dengan cather atau blurb), atau sebuah kutipan.
• Sidebar: biasanya berisi keterangan tambahan tentang artikel utama. Terkadang ada keterangan tentang penulis, penjelasan tentang tabel dan grafik, informasi tambahan tentang sebuah produk, daftar istilah, atau keterangan pendek lainnya.
Untuk mempertahankan fitur yang punya fungsi-fungsi khusus di atas, versi digital seringkali harus persis seperti versi tercetak, sehingga dipayar dan disajikan sebagai citra (image), bukan sebagai teks sepenuhnya. Selain itu, tata letak di versi tercetak juga menentukan tempat sebuah artikel dalam serangkaian artikel yang bertema serupa. Ketika sebuah artikel diubah menjadi digital dan dimasukkan ke dalam pangkalan data, maka artikel itu berdiri sendiri. Artinya, sangat besar kemungkinan artikel itu akhirnya kehilangan konteksnya.

Sebagaimana semua bahan digital yang tersimpan dalam sebuah pangkalan data, teks jurnal juga memerlukan pengindeksan yang baik agar dapat ditemukan kembali. Kondisi fulltext menimbulkan persoalan dalam temu kembali jika pengguna berharap akan dapat menggunakan semua bagian teks sebagai titik akses. Artinya, pengguna berharap dapat menggunakan istilah di semua bagian teks, bukan yang hanya terdapat di judul, kata kunci, atau subjek. Kalau sistem pengindeksan tidak memadai, maka besar kemungkinan kata-kata penting yang terdapat di fitur-fitur tertentu seperti headword dan sidebar di atas, tidak dapat dijadikan titik akses. Di terbitan berseri yang berkaitan dengan bisnis dan manajemen, seringkali profil perusahaan (company profiles) tidak diindeks karena dalam versi tercetaknya informasi ini diletakkan di luar tubuh artikel utama. Ketika diubah menjadi versi digital, informasi ini dihilangkan atau dimuat tetapi tidak diindeks.
Seringkali pula teks di dalam grafik atau tabel memiliki makna penting dan unik bagi sebuah artikel, tetapi jika tabelnya dihilangkan maka hilang pula kesempatan bagi pengguna untuk mengakses lewat teks yang penting dan unik tersebut. Atau, kalaupun versi digital mengandung grafik dan tabel sesuai aslinya dalam bentuk tercetak, namun isi dari grafik atau tabel itu tidak diindeks. Jadi, sama saja dengan mengatakan bahwa artikel yang bersangkutan tidak dapat ditemukan lewat kata-kata yang ada di grafik dan tabelnya.

Paling sulit untuk diindeks adalah konteks yang ‘mengikat’ beberapa artikel menjadi satu. Jika digunakan pengindeksan otomatis, sangat mungkin informasi yang mengandung konteks bagi sebuah artikel tidak akan terindeks secara benar. Jika digunakan pengindeksan manual oleh manusia, kualitas indeks mungkin meningkat, tetapi kecepatan pengindeksan harus dikorbankan. Harus ada sistem pengindeksan yang mampu mengenali konteks sebuah artikel, dan penggunaan metadata atau sistem pengelompokkan (clustering) mungkin dapat membantu. Ini tentu saja tidak menjawab seluruh persoalan, sehingga para pengelola perpustakaan digital harus dapat menjelaskan bahwa fulltext atau ‘teks sepenuhnya’ bukan berarti bahwa ‘semua yang ada di versi tercetak akan ada di versi digital. Biar bagaimana pun, versi digital punya perbedaan karakter dan kekurangan dibandingkan versi tercetak. Pustakawan harus dapat memahami ini untuk mengurangi kekecewaan pengguna yang sudah terlanjur menanggap bahwa segala sesuatu yang sudah diubah menjadi digital pasti akan menambah efisiensi dan efektivitas pencarian.