Buku elektronik atau electronic books atau e-books secara sederhana bisa dilihat dalam bentuk segala teks yang tersaji dalam bentuk dokumen yang dibuat dengan wordprocessor, HTML atau XML. Secara lebih sempit dapat juga dikatakan bahwa buku elektronik adalah buku cetak yang diubah-bentuk menjadi elektronik untuk dibaca di layar monitor. Dalam hal ini, kita musti ingat bahwa buku elektronik terdiri dari dua hal: buku itu sendiri, dan alat bacanya (e-book readers). Ini memang perbedaan utama antara buku konvensional dan buku elektronik. Sebuah buku konvensional, tentu saja, sebuah buku; sementara sebuah buku elektronik adalah sebuah buku dan sebuah alatbaca. Lebih jauh lagi, buku elektronik juga mengandalkan Internet untuk penyebaran dan akses, membuatnya semakin berbeda dari buku konvensional. Sebagian buku elektronik hanya dapat dinikmati dengan sistem lisensi lewat Internet. Artinya, pembaca buku elektronik tidak sungguh-sungguh “memegang” buku itu secara fisik, melainkan mengaksesnya dalam kurun waktu tertentu 

Sejak kemunculannya, banyak orang menaruh harapan pada buku elektronik untuk meningkatkan kemudahan pemahaman dalam belajar-mengajar, sebab buku ini dapat memanfaatkan semua fasilitas komputer dan multimedia. Namun, sampai sekarang masih ada banyak kelemahan dalam hal tampilan di layar, selain juga ada hambatan dalam persoalan lisensi dan keterbatasan jumlah judul buku yang tersedia. Berbeda dari jurnal elektronik (e-journal), buku elektronik kurang populer bagi pengguna perpustakaan. Ada faktor teknis maupun non-teknis yang menyebabkan format buku elektronik lebih lambat terintegrasi ke dalam fasiltas perpustakaan digital.

Industri buku elektronik sendiri belumlah semapan buku konvensional, sehingga jaringan penerbit dan penyedia jasa (vendor) buku elektronik seringkali kurang responsif terhadap pembeli. Perpustakaan yang ingin mengembangkan koleksi buku elektronik seringkali harus mempelajari baik-baik kondisi industri ini sebelum memutuskan untuk mengoleksi. Persoalan tambah rumit karena banyak penyedia buku elektronik menggunakan model lisensi, dan kadang-kadang lisensi itu adalah untuk penggunaan perorangan, bukan untuk institusi. Berkaitan dengan lisensi ini, perpustakaan digital seringkali harus memperhatikan kemungkinan pemakaian secara bersama-sama (concurrent usage). Perpustakaan ingin memiliki bahan perpustakaan yang dapat dipakai bersama-sama, terutama kalau bahan itu berupa digital. Pengguna perpustakaan pun kini sudah berharap akan menggunakan sumberdaya digital tanpa pembatasan perorangan. Dalam kasus buku elektronik, seringkali penerbit bersikap terlalu protektif, terutama untuk buku teks, dan mereka juga kuatir bahwa akses lewat Internet akan mengurangi proteksi ini. Kesulitan akses juga sering muncul ketika satu buku dipakai secara bersama-sama oleh banyak orang.

Harga atau ongkos berlangganan buku elektronik masih termasuk mahal. Pengolola perpustakaan digital dianjurkan untuk memperhatikan kenyataan bahwa penyedia buku elektronik biasanya menggunakan sistem lisensi yang berlaku selama masa berlangganan, bukan lisensi untuk setiap judul. Lisensi ini biasanya adalah untuk penggunaan terbatas, dan pustakawan harus memperhitungkan manfaat berlangganan itu sebab seluruh koleksi yang dilanggan menjadi tertutup begitu kuota pemakai ini terpenuhi. Sebuah buku tercetak seringkali akhirnya menjadi lebih murah, sebab perpustakaan membelinya secara satuan dan tidak ada pembatasan tentang jumlah yang boleh memakainya. Walaupun tentu saja sebuah buku tercetak hanya dapat digunakan oleh satu orang setiap kalinya. Keputusan untuk mengembangkan koleksi buku elektronik harus selalu ditetapkan setelah pengelola perpustakaan digital membandingkan biaya pengadaan kedua jenis koleksi tersebut.

Buku elektronik tentu saja adalah “anak” dari industri yang sudah dijungkirbalikkan oleh apa yang kita sebut sebagai “revolusi digital”. Tetapi setelah sekian lama dalam perjalanannya, buku elektronik belum mengalami apa yang dialami beberapa “anak” industri lainnya, yaitu fotografi, film, dan musik. Revolusi digital di bidang ini sangat luar biasa. Film dan musik digital mengubah semua hal, mulai dari sistem produksi, alat-alat kerja, sampai pola konsumsi dan bisnis. Lihat saja apa yang terjadi dengan kamera digital yang sekarang sudah berintegrasi dengan telepon genggam dan Internet. Demikian pula, lihatlah revolusi yang terjadi di dunia musik ketika compact disc (CD) dan situs Internet menggantikan piringan hitam dan pita kaset.

Dibandingkan dengan industri foto, film, dan musik, industri buku seperti tidak mengalami apa-apa. Buku tercetak masih beredar dan seperti tidak terpengaruh oleh kemunculan buku elektronik. Walaupun sebenarnya ada revolusi besar dalam proses pencetakan dan penerbitan buku yang memanfaatkan kemajuan teknologi informasi (mulai dari pengiriman naskah lewat surat elektronik, sampai penataan letak dengan desktop publishing, dan distribusi lewat Internet). Pengaruh teknologi lebih terlihat di penerbitan jurnal akademik dan ilmiah, atau juga akhir-akhir ini di penerbitan monograf ilmiah sebagaimana dilakukan penerbit besar semacam Oxford Scholarship Online. Namun, tidak seperti foto analog dan piringan hitam yang sudah nyaris punah digantikan saudara-saudara mereka yang berbentuk digital, jurnal dan monograf digital tak pernah sepenuhnya menghapuskan buku kertas dari muka bumi.

Pada awal 1990an para penerbit sempat menanamkan modal dan harapan kepada teknologi CD-ROM untuk memasarkan berbagai macam karya dalam bentuk multimedia, tetapi setelah satu dekade tampaknya “membaca CD” tidak pernah benar-benar populer, sampai sekarang ada yang lebih populer dari CD, yaitu Internet. Perhatian pun dialihkan ke medium baru ini dan banyak produsen menawarkan buku elektronik lewat Internet. Dukungan pemerintah seperti di Inggris dan Cina, ikut mendorong program “buku masuk Internet”, khususnya untuk buku pendidikan dan ilmu. Buku-buku jenis lain, seperti novel dan sastra, mungkin akan membutuhkan waktu untuk menjadi bacaan populer di Internet. Walaupun sebenarnya sudah mulai ada novel yang tersedia di Internet, dapat diambil untuk dibaca dengan alat khusus pembaca buku elektronik. Jumlah pembaca novel elektronik ini masih sangat kecil dibandingkan populasi besar pembaca novel kertas.
Image:Bukel.jpg 

Alat pembaca buku elektronik (e-book readers) belum pernah mencapai tingkatan penjualan massal, tetapi para pelaku industri tampaknya tak berhenti mencoba. Di tahun 2006, raksasa elektronik Sony melepas ke pasar sebuah alat baca yang mampu menyimpan sampai 8 judul di dalam memori (lihat gambar). Meniru gaya pemasaran karya brilyan Apple iTunes yang bekerja sama dengan industri buku, maka Sony juga membuat kesepakatan dengan penerbit besar untuk menjual buku lewat Internet. Sementara itu, berbagai eksperimen juga sedang terus dilakukan untuk membuat “kertas elektronik”, yakni lembaran-lembaran mirip kertas yang dapat menampilkan tulisan. Berbeda dari kertas buku biasa, lembaran-lembaran ini tidak akan mengandung tulisan yang tercetak secara permanen, melainkan berfungsi seperti layar menampilkan tulisan yang dibuat dan disimpan secara digital. Bentuknya akan seperti buku biasa, dapat dibawa ke mana-mana, termasuk ke tempat liburan dan ke toilet seperti yang sekarang dilakukan orang dengan buku biasa.

Pada tahun 2000, sebuah studi oleh University of California (Snowhill, 2001) menghasilkan kesimpulan bahwa walaupun buku elektronik punya potensi sangat besar untuk membantu dunia pendidikan, namun dunia akademik masih harus menghadapi beberapa isu penting. Walaupun penelitian itu sudah cukup lama, namun isunya sampai sekarang masih serupa dan belum banyak berubah, yaitu dalam hal: • Kandungan isi buku – Jumlah buku untuk mahasiswa yang tersedia di pasaran masih sangat kecil, dan belum mewakili semua disiplin ilmu. Pengembangan koleksi buku elektronik justru terhambat oleh sikap penerbit buku kertas yang konservatif, enggan mengalihkan hak cipta dan hak distribusi ke industri elektronik.

Penerbit cenderung ekstra hati-hati dalam soal pengalihan bentuk dari cetak ke digital, dan hanya topik-topik yang punya pasar sangat besar (misalnya topik tentang komputer dan bisnis) yang lebih cepat dialih-bentuk. Jumlah judul juga masih sedikit, karena pada umumnya industri masih bergantung pada pola alih-bentuk ini, belum sungguh-sungguh menghasilkan buku yang sejak awal sudah digital (born digital). Sementara itu, pihak sivitas akademika sebagai pengguna juga masih mengandalkan buku kertas untuk menjamin keaslian dan integritas kandungan informasi ilmiah. Mereka masih “curiga” bahwa teknologi digital akan mempermudah manipulasi dan plagiarisme. • Protokol/standar perangkat lunak dan keras – Dalam hal perangkat lunak, seringkali buku elektronik hanya tersedia dalam satu format formal yang terbatas untuk sistem tertentu (proprietary).

Untuk tampilan, sebagian besar menggunakan HTML, XML atau PDF. Industri buku elektronik masih sedang mengembangkan standar yang mencakup juga protokol transfer data dan metadata. Salah satu upaya ini sudah dilakukan oleh Open Ebook Forum (OEB) yang kini menjadi International Digital Publishing Forum (lihathttp://www.idpf.org/ ) dan sedang membuat berbagai standar, mulai dari Open Publication Structure, Open Packaging Structure, sampai Open Container Format. Di masa depan, buku elektronik yang memakai format XML dapat memakai akhiran “.epub” di belakang nama berkas. Dalam hal perangkat keras, tampaknya industri buku elektronik masih harus menunggu kehadiran alat baca yang benar-benar mudah dioperasikan, mudah dibawa-bawa (portable). Saat ini kebanyakan alat baca hanya dapat membaca isi yang dibuat untuk kepentingan alat tertentu, dan orang masih menunggu sampai saatnya ada alat baca yang dapat membaca semua jenis buku elektronik, dan ini tentunya akan terjadi jika protokol perangkat lunak sudah digunakan secara meluas oleh semua penerbit buku elektronik. 

Dari segi penyediaan oleh perpustakaan, kehadiran alat baca ini akan benar-benar mengubah pengertian “buku” secara fisik dan akan muncul isu baru: apakah perpustakaan harus menyediakan alat baca itu, atau pembaca sendiri yang membawa alat baca seperti sekarang orang membawa laptop ke perpustakaan. 
• Hak cipta dan pemakaian – Digital Rights Management – Persoalan hak cipta merupakan salah satu isu yang cukup memusingkan para pengelola perpustakaan digital. Para produsen buku elektronik masih begitu kuatir tentang kemungkinan para pengguna menyalin, mencetak, dan mengambil bagian-bagian dari buku. Pada umumnya, buku elektronik juga tidak boleh dipinjamkan antar-perpustakaan seperti buku kertas, dan sebagian produsen melarang buku elektronik mereka digunakan di kelas. Untuk mengatur hak cipta dan hak pakai ini para produsen membuat Digital Righs Management Systems (DRMS). Upaya produsen dalam mengontrol penyebaran dan penggunaan buku elektronik akan mengubah beberapa praktik di dunia perpustakaan yang selama ini menggunakan buku kertas. Tradisi meminjamkan koleksi akan perlu ditinjau kembali, dan mungkin akan ada pola baru untuk “meminjamkan isi buku” (dalam bentuk teks digital), tanpa meminjamkan keseluruhan buku elektronik.
• Akses – Selain persoalan interoperability dan hak cipta atau kepemilikan sebagaimana diuraikan di atas, ada isu tentang kemudahan akses oleh pengguna. Jika buku elektronik disediakan di portal universitas, para sivitas akademika akan berharap dapat memakai buku tersebut secara bersama-sama, seperti layaknya membaca dan mengambil berkas jurnal elektronik. 
• Penyimpanan atau pengarsipan – Pada dasarnya, setiap perpustakaan universitas harus menambah terus koleksi yang akan membantu penyelenggaraan penelitian di lembaga itu, sekaligus juga harus menjadi arsip bagi semua koleksi penelitian. Untuk buku kertas, tentu buku yang dikoleksi dan yang diarsip adalah benda itu-itu juga. Untuk buku elektronik masalahnya jadi berbeda, sebab sebagian perpustakaan digital di kampus-kampus cenderung berlangganan akses ke buku elektronik, dan belum tentu punya akses lagi setelah masa langganannya habis. Pengelola perpustakaan digital di tingkat universitas seringkali harus memastikan dan bernegosiasi dengan penjaja buku elektronik agar dapat punya akses selamanya (perpetual access) terhadap koleksi tertentu yang dianggap penting bagi kegiatan penelitian.
• Hak pribadi (privacy) – Ada penjaja buku elektronik yang menyimpan data para pembaca atau pengunjung situs mereka untuk mencatat secara rinci perilaku mereka dalam membaca. Ini sebenarnya pelanggaran hak pribadi dan pihak perpustakaan digital di universitas berkewajiban mengingatkan sivitas akademika untuk menggunakan proses authentikasi akses dari portal perpustakaan. 
• Fasilitas tambahan – Ada banyak harapan tentang kelebihan yang ditawarkan buku elektronik dibandingkan buku kertas. Misalnya, buku elektronik dapat mengandung pesan multi-media, fasilitas pencarian teks, pembuatan sitasi, pengaitan (linking) antar buku, dan sebagainya. Pengelola perpustakaan digital perlu kemampuan untuk menilai kualitas fasilitas tambahan ini kalau memang ingin memberikan nilai tambah bagi koleksi buku elektronik.
• Pasar dan harga – Model bisnis penjaja buku elektronik pada umumnya ingin melibatkan perpustakaan sebagai semacam perantara dengan pembaca, namun kurang terlalu jelas apakah perpustakaan memang bagian dari bisnis itu. Pada awal tahun 200an hanya ada sedikit penjaja (misalnya netLibrary) yang menawarkan buku-buku elektronik khusus untuk akademik. Para penerbit pada umumnya bertindak hati-hati untuk masuk ke industri buku elektronik. Beberapa penebit yang biasa menyalurkan buku ke perpustakaan juga tidak terburu-buru pindah ke industri baru ini. 
Saat ini, sudah semakin banyak “pemain”, termasuk Amazon (toko buku pertama di Internet), Google, dan Microsoft. Tawaran yang tersedia pun mulai beragam, mulai dari print on demand (sesuai pesanan), berlanganan bulanan untuk mengakses seluruh koleksi, atau gratis membaca seluruh koleksi dan hanya membayar jika mencetak atau mengambil koleksi untuk dipindahkan ke komputer sendiri. Sistem pembayarannya pun mulai beragam. Ada yang menawarkan sekali bayar untuk akses selamanya (perpetual access) lewat Internet, tetapi juga ada yang menawarkan berlanganan tahunan dan mendapatkan hak kepemilikan. Biasanya, ada pula tawaran-tawaran khusus untuk perpustakaan dan pusat informasi sehingga akses ke koleksi dapat dibagi-bagi ke para pengguna. Di Indonesia, Penerbit Mizan mengaku sebagai penerbit buku elektronik pertama pada tahun 2001. Judulnya adalah Wasiat Sufi Imam Khomeini kepada Putranya Ahmad Khomeini dan tersedia gratis di situs mereka. Minat pada buku ini tampak besar karena selain gratis juga isinya dianggap mudah dimengerti sebagai bacaan populer. Dalam perkembangan selanjutnya, belum terlihat ada pertumbuhan minat masyarakat pada buku elektronik Indonesia sehingga aktivitas dalam industri ini tidak terlalu marak. Beberapa pengusaha mencoba menggabungkan buku elektronik dengan bisnis toko buku di Internet, meniru Amazon. Misalnya, E-Book Centro (http://ebook-centro.com/index.php ). Belum terlihat pertumbuhan bisnis ini, dan setidaknya satu bisnis yang pada awalnya menawarkan 30 ribu buku (Sanur Online) kini sulit ditemukan di Internet.

Sementara itu, penyedia-penyedia buku elektronik gratis juga semakin banyak. Salah satu proyek terkenal untuk menyediakan buku elektronik ini adalah Project Gutenberg yang didirikan tahun 1971 oleh Michael Hart; seorang yang percaya bahwa karya-karya terkenal dunia akan lebih bermanfaat untuk umat manusia jika tersedia secara gratis. Proyek ini sekarang melibatkan sukarelawan untuk terus menambah koleksinya. Berbagai situs kemudian mengikuti jejak proyek ini. Untuk contoh saja, daftar situs berikut ini menawarkan berbagai buku elektronik (mohon terus dicek keberadaannya, karena mungkin saja situs sudah pindah alamat): • Abacci Books (http://www.abacci.com/books/ ). Menyediakan berbagai buku elektronik yang sebagiannya diambil dari Project Gutenberg, digabungkan dengan berbagai resensi buku dan link ke Amazon. • Alex Catalogue (http://www.infomotions.com/alex/ ). Menawarkan literatur filsafat yang sudah jadi bagian dari milik umum (public domain) • Blackmask Online (http://www.blackmask.com/ ). Menawarkan berbagai jenis buku, termasuk buku-buku sastra dan fiksi. • Manybooks (http://www.manybooks.net/ ). Menyediakan berbagai teks dari Project Guttenberg dan juga menawarkan fasilitas mengambil koleksi untuk PDA (iPod). • The Multi-Repository Mathematics (http://www.hti.umich.edu/m/mathall/ ) sebagaimana namanya menyediakan koleksi tentang matematik, terutama yang punya nilai historis. • National Academies Press (http://www.nap.edu/ ). Menyediakan laporan-laporan ilmiah dari lembaga-lembaga ilmu pengetahuan Amerika Serikat, yaitu National Academy of Sciences, National Academy of Engineering, Institute of Medicine dan the National Research Council. • The Online Books Page (http://digital.library.upenn.edu/books/ ). Didirikan tahun 1993 dan dituanrumahi oleh University Of Pennsylvania. • Potto Project (http://www.potto.org/). Proyek yang dimulai oleh Dr. Genick Bar-Meir dan kawan-kawannya untuk mengembangkan buku teks dan perangkat lunak gratis bagi mahasiwa. Potto Project bekerja berdasarkan apa yang disebut open content license (lihat pembahasannya dalam konteks Open Access). • Read Print (http://www.readprint.com/ ). Menyediakan buku-buku sejarah dan karya sastra Barat. Terlepas dari berbagai kelemahannya, kelebihan dari buku elektronik yang dilanggan lewat perusahaan penyedia (misalnya netLibrary, Books 24×7, Questia, dan Ebrary untuk menyebut beberapa nama) tentu juga memikat pustakawan maupun pengguna. Sudah pasti, buku elektronik mengurangi kebutuhan akan ruang penyimpanan, nyaris tidak membutuhkan ongkos untuk perbaikan fisik buku, mempermudah dan menurunkan ongkos tukar-menukar koleksi, menghilangkan kebutuhan mengembangkan sistem pengamanan dari pencurian buku, dan sangat cocok untuk sistem belajar tersebar atau sistem belajar jarak jauh.