Oleh : Wahid Nashihuddin SIP.

Sumber; Sebuah Kajian dan Wacana ISIPII PDII-LIPI, Bulan September 2010

http://pustaka1987.wordpress.com/2010/10/04/%E2%80%9Drebranding%E2%80%9D-perpustakaan-peningkatan-kualitas-layanan-dan-kompetensi-sdm/

Rebranding

Menurut istilah Rebranding berasal dari kata “re” yang berarti “kembali” dan “brand” yang berarti “cap atau merek”. Istilah rebranding lebih identik dengan “pemasaran” dari suatu produk. Sasaran dari rebranding ini adalah produk dan jasa layanan yang berorientasi pada hasil (out-put). Seperti halnya yang dijelaskan Wikipedia bahwa; Rebranding is the process by which a product or service developed with one brand, company or product line affiliation is marketed or distributed with a different identity”. Jadi, rebranding adalah sebuah proses pemasaran dari suatu jasa layanan  atau produk (out put) dengan suatu “brand” tertentu, dengan melalui  membangun kerjasama pemasaran atau distribusi produk tertentu identitas yang berbeda. Identitas yang berbeda bermakna ciri khas dari suatu produk yang diunggulkan. Misalnya layanan unggulan di lembaga Perpustakaan yaitu adanya jasa konsultan perpustakaan, konten jurnal, maupun kelompok peneliti di bidang pusdokinfo. Dengan adanya layanan unggulan berarti lembaga tersebut memiliki “brand” dan nama baik bisa memajukan  institusinya.

Apapun jenis produk yang di-rebranding, tujuan rebranding hanyalah untuk membuat citra baru dari sebuah produk agar tujuan dari sebuah produk diciptakan menemui tujuannya. Untuk dunia kepustakawanan, rebranding bisa berarti sebuah proses pengubahan citra sebuah institusi agar lebih dapat menarik lebih banyak lagi penggunan jasa layanan  di perpustakaan tersebut. “Brand” dari produk layanan inilah yang nantinya akan dikenal masyarakat luas. Bagi lembaga pengelola Pusdokinfo inilah peluang yang bagus untuk menununjukan “image” dari kualitas informasi yang dilayankan ke penggunanya. Selain itu, dengan rebrading layanan, citra perpustakaan akan lebih dikenal dan populer di mata masyarakat, baik kalangan akademisi, peneliti, maupun khalayak di tingkat nasional maupun internasional.

Kompetensi

Jika objek rebranding penekanannya pada hasi produk dan jasa layanan, maka kompetensi ini lebih mengarah pada kualitas dari kemampuan tenaganya (pustakawan). Terkait dengan kompetensi dikalangan pustakawan perlu diperhatikan karena memang pemakaian istilah “kompetensi” saat ini sedang popular dimana-mana, baik di lembaga swasta, pendidikan, maupun pemerintah. Dan “mau ga mau” pustakawan sebagai tenaga aktif yang menggerakan roda kegiatan perpustakaan harus meningkatkan kompetensi kepustakawanannya, apakah dari sisi teknis, personal, maupun organisasional. Sebagai contoh adanya ke-khasan profesi sebagai arsiparis, sepesialis subjek, kataloger, konsultan, research librarian, ataupun documen controller. Sehingga, setiap permasalahan yang ada diprofesi mereka, mereka tau bagaimana mencari solusinya.

Oleh karena itu, kompetensi ini harus dikembangkan sesuai dengan tuntutan perkembangan dunia kepustakawanan (pusdokinfo) dilembaganya secara berkelanjutan. Pustakawan diharapkan dapat memanfaatkan setiap peluang dan kesempatan sebaik-baiknya dalam kegiatan apapun terkait dengan acara masalah kepustakawanan, baik itu melalui talk show, diskusi panel, seminar, diklat dan training, kegitan karya tulis ilmiah, maupun sekalipun dalam pendidikan formal yang menunjang kariernya.

Kompetensi itu sebaiknya juga dapat terukur dan diukur. Terukur maksudnya ada standar kompetensinya (sesuai visi dan misi, kualitas SDM, serta kebijakan birokrasinya). Sedangkan, dapat diukur maksudnya ada instrumen, objek, team pelaksana, dan sistem pengukuran yang jelas; metode apa, indikator mana, dan apa targetnya? Sebagai contoh pengukuran kompetensi pustakawan itu yaitu;

  1. Setiap service terukur nilainya. Pustakawan tidak bisa menilai service itu baik, jika yang menjadi ukurannya adalah nilai yang tinggi bagi lembaganya, tetapi baik itu jika nilai service itu memiliki nilain yang tinggi bagi pengguna (semua nilai ada impact positif bagi penggunanya). karena setiap sesuatu ada impact-nya, tentunya dengan layanan yang baik, perpustakaan akan mendapat “fee” dan penghargaan atas prestasinya.
  2. Dari segi teknis, Pustakawan hendaknya tahu apa yang harus ia dikerjakaan berdasarkan tugas yang diembannya (professional di bidangnya). Tujuanya agar dapat bertanggung jawab kepada stock holder, masyarakat dan pemerintah
  3. Dari segi manajemen, adanya monitoring kinerja berorienstasi hasil (jangan voluntary)
  4. Staffing—adanya pembagian kerja (job description) yang jelas sesuai kompetensinya masing2 (mulai dari level tingkat rendah sampai ke tingkat manajemen). cara ini akan melahirkan adanya spesialisasi pekerjaan, apakah itu sebagai pengentri data, analis, humas (antar bok/barang), koordinator, maupun pada posisi manajer.
  5. Mengetahui office politic, yang ditujukan kepada pembuat kebijakan (pimpinan/manajer) dalam mensukseskan target capaian sesuai dengan apa yang sudah diprogramkan.

Wacana; Implementasi Rebranding dari Kompetensi SDM di Perpustakaan

Di lembaga pengelola pusdokinfo, termasuk salah satunya perpustakaan, saat ini sudah memiliki pandangan dari konsep apa yang disebut“rebranding”. Tentunya implemetasinya akan diarahkan pada peningkatan mutu layanan dan produk informasinya. Namun, rebranding-isasi tidaklah mudah dan butuh proses/waktu yang cukup panjang. Masalahnya pada urusan Birokrasinya. Si pembuat kebijakan/Pimpinan perpustakaan kadang merasa takut bila nanti penerapan konsep ini di institusinya akan gagal.”Takut mencoba untuk memulai sesuatu yang baru”. Pertanyaannya adalah Mengapa demikian dan Kira-kira apa yang ditakutkan? Janganlah berpatokan pada How to do? tetapi “Why to do?  Jadi, dengan pertanyaan tersebut kita bisa evaluasi dari potensi yang dapat kita kerjakan.  Dan rebranding ini harus dijalankan oleh perpustakaan  agar nantinya fungsi dan peran lembaga ini tidak ditinggalkan penggunanya..sesuatu hal yang ironis bukan?

Rebranding dapat terwujud jika kemauan dan keteladanan dari jiwa optimisme pimpinan. Ada visi dan misi yang mengarah ke situ. Selain itu juga itu, serta adanya dukungan dari kompetensi SDM yang berkualitas dan profesional, dalam hal ini para pustakawan dan Sarjana Ilmu Perpustakaan dan Informasi (SIPI). Bagaimana suatu jasa dan produk layanan perpustakaan itu bisa dikenal orang lain, padahal lembaga ini tidak memasarkannya produknya?Bagaimana pengguna bisa merasakan puas bila dalam memberikan layanan informasinya, para pustakawannya tidak berkompeten dalam bidangnya?

Dari segi akademik, selama ini Ilmu Perpustakaan dan Informasi (IPI) belum jelas kemana arah tujuannya, mau kemana sasarannya; apakah cuma mengkaji perpustakaan saja (sekedar penjaga dan penata buku) atau sekedar jasa layanan, yang tentunya lembaga ini akan beralih fungsi sebagai museum atau laboratorium saja. Selain Itu, para SIPI dan pustakawan juga banyak yang belum menghayati apa ilmu tersebut sehingga terkesan kaku dan kurang berkembang dimasyarakat. Sikap aktif dan kreatif adalah modal utama para pustakawan untuk merubah citra lembaganya. Baik melalui diskusi, seminar, karya ilmiah, maupun menjadi narasumber di berbagai media.

Yang menjadi masalah baru adalah para pustakawan cukup sulit untuk diajak be kerja sama secara kolegial, dan maunya bekerja individual. Inilah yang harus dibenahi, baik sistem maupun manajemennya. Sejauh mana perkembangan perpustakaannya, tambah baik atau sebaliknya? Inilah perlunya mengembalikan “brand” dan citra layanan di mata masyarakat. Dalam hal ini,  sudah menjadi tanggung jawab kita semua sebagai para pustakawan, sarjana dan petugas  pengelola lembaga pusdokinfo lainnya untuk memulihkan kualitas layanannya yang lebih baik. Ideal bagi kita, dan juga ideal bagi pengguna.

Terkait dengan hal tersebut, ada beberapa upaya yang bisa dilakukan untuk meningkatkan “brand” dan kompetensi SDM antara lain:

  1. Optimalisasi Peran Kelompok Fungsional dalam meningkatkan produktifitas dan profesionalitas para pustakawannya. Caranya dengan membuat klinik atau wadah bagi para sarjana IPI untuk berdiskusi/sharing dalam rangka mengembangkan minat dan bakat keilmuannya,  misalnya membentuk kelompok spesialist dibidang kepustakawanan, baik itu konsultan, sepesialis subjek,  kataloger, maupun pengembang jaringan perpustakaan.
  2. Mengemas ulang konten dokumentasi dan informasi lokal lembaga, khususnya koleksi “local content” yang menjadi layanan unggulannya. Tujuannya untuk memperkaya jenis koleksi yang dikelolanya.
  3. Pustakawan atau para sarjana IPI harus salin bekerjasama secara kolegial dengan mengenyampingkan ego-nya masing-masing. Maksudnya adalah mereka bekerja bukan untuk mengembangkan keahlian dan ketrampilannya secara individu, melainkan untuk saling berbagi pengalaman dan pengetahuan dengan rekan kerjanya. Jadi, Rasa Profesionalitas itu harus dimiliki oleh setiap individu yang bertugas dilembaga pusdokinfo.
  4. Memfasilitasi wadah diskusi diantara para sarjana IPI, calon pustakawan (mahasiswa IPI), maupun  para alumni pustakawan baik dilingkungan internal maupun eksternal untuk berbagi pengetahuan sesuai pengalaman mereka masing-masing. Dengan asumsi bahwa citra PDII sebagai Kiblatnya Pengetahuan Kepustakawanan akan kembali lagi dan hal inilah yang menjadikan lembaga kita akan dikenal orang lain.
  5. Siap dan berani “Publish” untuk bersaing dari setiap jasa layanan dan produk yang diunggulkan. Karena rebranding ini biasanya harus memiliki kekhasan dari suatu ciri produk yang dilayankan.

Bagaimana dengan “brand” dan kompetensi SDM di perpustakaan anda?apakah model rebranding ini bisa diterapkan atau tidak, itu kembali ke diri kita para pimpinan, pustakawan dan Sarjana IPI? Solusinya adalah Mari kita perkuat jalinan kerjasama dan buatlah visi yang jelas terhadap program itu. Dengan kata lain, bila sekarang “brand” perpustakaan itu hanya “Jasa”, mulailah beralih pada “produk”,sesuai dengan identitas dan kemampuannya masing-masing.