Oleh: Dra Yuniwati BYPMYRR, S.Sos., M.Si

Sumber : http://yuni_yuven.blog.undip.ac.id/2012/05/09/pustakawan-dan-kemampuan-literate-knowledge/

Pada dasarnya pustakawan tidak hanya mengurusi buku atau jenis bahan perpustakaan lain tetapi juga mengelola informasi yang ada di dalam bahan perpustakaan tersebut dalam rangka memenuhi kebutuhan pemustaka. Oleh karena itu memahami dan menguasai literatur sebagai bagaian dari literate knowledge perlu di miliki para pustakawan.

Pustakawan sebagai pengelola informasi dituntut untuk siap dan sigap dalam memberikan layanan kepada pemustaka dalam mendapatkan informasi melalui koleksi perpustakaan baik secara manual maupun dengan memanfaatkan ICT yang ada, salah satunya adalah dengan memiliki atau menguasai literasi informasi.

Yang dimaksud dengan information literacy is knowing when and why you need information, where to find it, and how to evaluate, use and communucate it in an ethical manner. Artinya seseorang diharapkan mengetahui kapan informasi diperlukan, kemana menemukannya atau mendapatkannya dan bagaimana mengevaluasi dan mengomunikasikannya secara etis. Caul menyatakan bahwa Literasi informasi sebagai pemahaman dan kemampuan seseorang untuk menyadari kapan informasi diperlukan, menemukan, mengevaluasi dan menggunakannya secara efektif. ALA (American Library Association menyatakan bahwa “to be information literate, a person must be able to recognize when information is needed information. Producing such a citizenry will require that schools and colleges appreciate and integrate the concept of leadership role in equipping individuals and institutions to take advantage of the opportunaties inherrent within the information society.

Dengan demikian jelas bahwa sebagai penyedia informasi pustakawan harus bisa mengelola informasi yang ada, mengemasnya dan menyebarluaskan sesuai dengan kebutuhan pemustaka yang beraneka ragam.

Unsur Penunjang

Dalam melakukan literasi informasi terdapat beberapa unsur yang harus tersedia pertama koleksi perpustakaan yang bervariasi dan terkini artinya bahwa koleksi yang sejenis hanya dapat menyediakan informasi kepada pemustaka yang memiliki kebutuhan sama, namun karena hetoregenitas  pemustaka dan multi subyek  bidang kegiatannya sehingga diperlukan beragam koleksi perpustakaan. Kedua adanya koleksi perpustakaan yang menunjang kurikulum artinya bahwa koleksi yang tersedia sesuai atau disesuaikan dengan kurikulum untuk dunia pendidikan karena kurikulum yang berlaku memerlukan bahan informasi yang dapat disediakan oleh perpustakaan. Adapun untuk jenis perpustakaan umum lebih beragam sesuai dengan kebutuhan masyarakat lokal. Contoh untuk masyarakat pesisir diperlukan koleksi perpustakaan berkisar tentang peningkatan taraf hidup dan kecerdasan masyarakat pesisir, sedangkan untuk masyarakat pegunungan maka disesuaikan dengan kebutuhan peningkatan hidup dan kecerdasan wilayah pegunungan.

Ketiga harus tersedia program pengenalan perpustakaan seperti bimbingan pemakai (user education / user instruction), hal ini perlu untuk mengarahkan pemustaka dalam memanfaatkan bahan perpustakaan. Seperti diketahui bahwa pengetahuan how to use library or how to use collection masih sangat terbatas. Contoh beberapa kali penulis menemui pemustaka yang masih menanyakan manfaat dari alat bantu penelusuran untuk bisa memperoleh informasi yang tepat dan akurat. Banyaknya sarana penyedia informasi perlu disikapi dengan pengetahuan dan ketrampilan pemilihan sarana tersebut.

Keempat adalah pengembangan program kolaborasi atau kerjasama dengan berbagai pihak terkait yang membutuhkan informasi. Dalam dunia pendidikan tinggi kolaborasi antara dosen, mahasiswa dan pustakawan saya sebut sebagai triangle strategic dalam menunjang keberhasilan proses pembelajaran perguruan tinggi baik dalam competemcies based learning atau problem based learning.

Memang selama ini pustakawan terkesan masih menjadi pegawai nomor sekian di lingkungan pendidikan tinggi kalau tidak mau disebut masih di pandang sebelah mata. Keberadaan dan peranan yang tidak nyata terlihat hasil atau out come nya menjadi persoalan yang perlu disikapi dengan arif. Oleh karena itu perlu kerjasama dengan para pengajar (dosen) dan juga peneliti) dalam penyediaan materi ajar dan penelitian serta kerjasama dengan  mahasiswa dalam penyediaan materi / informasi belajar dan pengayaan. Kolaborasi dapat terwujud dengan komunikasi antar ketiganya.

Unsur keempat menjadi sangat terlihat nyata dalam pengembangan layanan berbasis web yang dikembangkan oleh perguruan tinggi melalui layanan IR (Institutional Repository) yang merupakan bentuk eprint dari hasil karya ilmiah suatu lembaga perguruan tinggi. Sebagai local content dalam istilah kepustakawanan menjadi produk unggulan dalam rangka meningkatkan institusi ke world university.

Repositori

IR (Institutional Repository) merupakan bentuk e-print dari hasil karya ilmiah seperti e-book, e-jurnal sebagai local content yang dapat diakses melalui internet. Kemudahan mendapatkan informasi oleh pemustaka  menyebabkan repository sebagai produk unggulan karena sebagian besar dapat di akses full tex, sedang beberapa dapat diakses abstraksinya dan untuk memperoleh full texnya relatif mudah.

Persoalannya pernahkah terpikir oleh mereka yang mengunduh repositori bagaimana proses penyediaannya ?.  penulis tidak akan membahasnya sekarang namun ingin menyatakan bahwa peran pustakawan sebagai pengelola informasi.

Sebagai the preservation of knowledge dan information resources maka perpustakaan masih layak dan relevan kalau boleh dibilang tetap significant kehadirannya sebagai the heart of university. Bahkan selanjutnya bisa penulis kemukakan perpustakaan menjadi salah satu indikator dan cermin institusinya, karena baik dan buruknya, cantik dan jeleknya institusi bisa dilihat dari perpustakaanya, dalam hal ini termasuk tampilan di webnya.

Literasi Informasi vs peningkatan kemampuan diri

Peran pustakawan dalam mengelola informasi tersebut menjadi tanggungjawab yang tidak ringan sehingga kemampuan literasi informasi dan literate knowledge perlu di tingkatkan setiap saat.  Harapan yang muncul adalah dengan menguasai literasi informasi maka akan meningkatkan kemampuan diri dalam mengembangkan minat, ketrampilan dan kepercayaan diri dalam menulis mengenai pekerjaan dan pengetahuan di bidang kepustakawanan dan informasi; menghasilkan karya tulis dalam berbagai bentuk, terutama yang dapat meningkatkan profesionalismenya.dan mengidentifikasi dan mengumpulkan tulisan yang dapat dikembangkan lebih lanjut dan disebarluaskan melalui berbagai media (blog, majalah internal, jurnal, dsb). Semoga ****

DAFTAR BACAAN

American  Library Association. Information Literacy Competency Standards for Higher Education” 6 Februari 2008. (online)

Aruan, Dora. 2008. Literasi Informasi: apa dan mengapa. Dipresentasikan dalam acara IWIL APISI, IFLA dan ALP. Bogor: APISI

Bahan Ajar Literasi Informasi, Kemendiknas, 2010

Diao Ai Lien. 2010. Literasi Informasi: 7 langkah Knowledge Mnagement. 2010. Jakarta: Penerbitan Universitas Atmajaya.

Umi Proboyekti, Internet Sebagai Pendukung Literasi Informasi.  Dipresentasikan dalam seminar Peran Pustakawan dalam Mengembangkan Literasi Informasi pada era Globalisasi. Yogyakarta: Perpustakaan Univ. Atma Jaya, 12 Februari 2008.