Oleh : Irma U Aditirto

Sumber : http://pustakawan2009.wordpress.com/2009/03/09/perilaku-informasi-peneliti-masa-depan-1/

Apakah anda seorang pustakawan atau profesional informasi lain yang terus menerus ingin mengembangkan jasa layanan yang cocok bagi pengguna perpustakaan anda? Jadi anda sebab itu harus bisa mengantisipasi apa kiranya kebutuhan pengguna ini? Atau lebih dari itu, harus dapat memperkirakan seperti apa sosok pengguna tersebut dan seperti apa perilaku informasinya di masa yang akan datang? MungkinInformation behaviour of the researcher of the future, suatu laporan berisi hasil-hasil suatu studi yang dilaksanakan oleh Center for Information Behaviour and the Evaluation of Research (CIBER), suatu pusat penelitian yang bernaung di bawah Department of Information Studies, University College London, bermanfaat bagi anda.

Studi ini dilaksanakan untuk mengetahui :

Apakah, sebagai akibat transisi digital dan penciptaan sumber-sumber informasi digital yang berkelimpahan, anak muda, ‘generasi Google’, mencari dan meneliti isi (content) dengan cara-cara baru, dan apakah ini mungkin akan membentuk perilaku mereka sebagi peneliti dewasa nanti?

Apakah cara-cara baru meneliti isi (content) akan terbukti berbeda dari cara para peneliti dan ilmuwan sekarang melaksanakan pekerjaan mereka?

Hasil-hasilnya akan menjadi masukan yang sangat berharga bagi semua fihak yang terlibat dalam penyediaan jasa layanan informasi. Diharapkan bahwa masukan ini akan merangsang diskusi tentang masa depan perpustakaan di era Internet. Memang membuat prediksi tentang keadaan sepuluh tahun ke depan cukup berisiko, apalagi karena dunia perpustakaan saat ini sudah dilanda kecemasan karena isu ‘disintermediation‘. Tapi, studi ini menyatakan bahwa bagaimanapun juga “… it is possible to identify some powerful trends that seem very unlikely to be reversed.”

Proyek penelitian ini dibiayai oleh British Library (BL) dan Joint Information Systems Committee (JISC), dilaksanakan pada tahun 2007 (April – Oktober), dan dipublikasikan sebagai suatu briefing paperberjudul ” Information behaviour of the researcher of the future” pada tanggal 11 Januari 2008.

Isi laporan dibagi menjadi 4 bagian: (1) Setting the scene, (2) The Google generation, (3) Looking to the future: what might the information environment be like in 2017? (4) Challenges – Looking to the future: what are the implications for the ‘information experts’ – research libraries — policy makers — challenges for us all. Seluruhnya 35 halaman! Tetapi berbagai fihak memberi penilaian yang positif dan komentar seperti: ” … certainly worth a good old fashioned read-through.” Mudah-mudahan anda pun bersedia mencoba sekali-kali menekan dorongan untuk membaca dengan pola atau bentuk F, dan membaca seluruh laporan panjang ini. !

Tiap blogpost akan berisi satu bagian dari laporan ini.  Inilah bagian pertama.

Setting the scene (Latar belakang)

Apa tujuan studi ini?

Studi ini dilakukan atas permintaan British Library dan Joint Information Systems Committee (JISC) untuk mengidentifikasi bagaimana para peneliti spesialis masa depan, yang sekarang berusia sekolah atau pra-sekolah, kemungkinan besar akan mengakses dan berinteraksi dengan sumber-sumber digital dalam waktu lima hingga sepuluh tahun kedepan. Studi ini akan membantu jasa layanan perpustakaan dan informasi mengantisipasi dan memberi respons yang efektif terhadap perilaku yang baru atau yang sedang berkembang. Dalam laporan ini ‘generasi Google’ didefinisikan sebagai mereka yang lahir sesudah tahun 1993 dan yang hampir tidak ingat lagi, atau samasekali tidak ingat lagi, bagaimana kehidupan sebelum Web.

Secara garis besar tujuan studi ini adalah mengumpulkan dan mengevaluasi bukti-bukti yang tersedia untuk menetapkan:

Apakah, sebagai akibat transisi digital dan penciptaan sumber-sumber informasi digital yang berkelimpahan, anak muda, ‘generasi Google’, mencari dan meneliti isi (content) dengan cara-cara baru, dan apakah ini mungkin akan membentuk perilaku mereka sebagi peneliti dewasa nanti?

Apakah cara-cara baru meneliti isi (content) akan terbukti berbeda dari cara para peneliti dan ilmuwan sekarang melaksanakan pekerjaan mereka?

Untuk memberi informasi dan merangsang diskusi tentang masa depan perpustakaan di era Internet

Pertanyaan-pertanyaan ini secara strategis sangat penting, tetapi harus dikaji tanpa terpengaruh oleh perhatian berlebihan dari media pada fenomena ‘generasi Google’. Jadi perlu ada sikap yang cukup kritis. Berbagai julukan yang membingungkan diberikan pada generasi muda yang tumbuh dalam budaya yang didominasi Internet dan aneka jenis media: Net Generation, Digital Natives, Millenials, dan masih banyak julukan lain. Ada asumsi yang belum diuji bahwa generasi ini secara kualitatif ‘berbeda’ dari generasi-generasi sebelumnya: mereka punya bakat, sikap, harapan, yang beda. Dan bahkan juga punya ‘literasi’ komunikasi dan informasi (communication and information ‘literacies’ ) yang beda. Dan semua ini akan ikut ditransfer ke cara mereka menggunakan jasa perpustakaan dan informasi ketika mereka masuk perguruan tinggi dan berkarir sebagai peneliti.

Bagaimana studi ini dilaksanakan?

Tentu saja metode yang paling tepat untuk melaksanakan studi macam ini adalah studi longitudinal yang meliputi periode yang panjang yang mengikuti kelompok anak muda yang sama sepanjang masa pendidikan mereka, sebagai mahasiswa tingkat sarjana, dan karir awal sebagai peneliti, sebagai mahasiswa pasca-sarjana atau tingkat doktor. Namun, kerangka waktu studi ini tidak memungkinkannya. Maka Centre for Information Behavour and the Evaluation of Research (CIBER) mengembangkan suatu metodologi yang mencoba membuat suatu studilongitudinal dari literatur yang ada, digabungkan dengan data primer dari suatu studi yang mempelajari bagaimana orang sesungguhnya menggunakan situs web British Library dan JISC. Dengan teknik ‘deep log analysis‘ dibuat profil pengguna yang dapat mengungkapkan perbedaan dalam information behaviour antara kelompok-kelompok tertentu. Dalam hal ini yang ingin diketahui ialah apakah ada perbedaan antara cara anak sekolah dan orang dewasa menggunakan platform penelusuran yang sama. Apakah usia menimbulkan perbedaan yang signifikan? Seluruh materi pendukung studi ini serta hasil-hasil mendetil (berbentuk beberapa CIBER Work Package) bisa diakses lewat situs CIBER.

Apa ‘generasi Google’?

‘Google generation’ adalah sebutan populer yang mengacu ke suatu generasi anak muda yang lahir sesudah tahun 1993 dan tumbuh menjadi besar di suatu dunia yang didominasi oleh Internet.

Kebanyakan mahasiswa yang kini masuk perguruan tinggi dan universitas lebih muda dari komputer, dan lebih nyaman bekerja dengan keyboard ketimbang dengan buku catatan berspiral, dan lebih senang membaca dari layar komputer ketimbang dari kertas di tangan mereka. Konektivitas terus-menerus – dengan teman dan keluarga, setiap saat dan di setiap tempat — sangat penting.

Menurut Wikipedia, ‘Google generation’ mulai umum dipakai sebagai sebutan singkat untuk generasi yang langsung menuju Internet dan mesin pencari apabila ingin mengetahui sesuatu, dan mesin pencari paling populer bagi mereka adalah Google. Ini kontras sekali dengan generasi-generasi sebelumnya yang memperoleh pengetahuan lewat buku dan perpustakaan konvensional.

Dalam bagian lain dari laporan ini beberapa mitos dan realitas sekitar generasi Google akan dibahas, dan benar tidaknya mitos atau realitas tertentu akan dibeberkan.

Suatu survai global yang dilakukan oleh OCLC (Online Computer Library Center) menunjukkan bahwa ciri khas generasi Google adalah seperti ini:

  • 89% mahasiswa perguruan tinggi menggunakan mesin pencari sebagai langkah awal pencarian informasi (sedangkan hanya 2% mulai dari suatu situs web perpustakaan)
  • 93% puas atau sangat puas dengan pengalaman mereka ketika menggunakan mesin pencari (dibandingkan dengan 84% yang puas dengan penelusuran dengan bantuan pustakawan)
  • mesin pencari lebih cocok dengan gaya hidup mahasiswa daripada perpustakaan fisik atau online dan kecocokan itu ‘hampir sempurna’
  • mahasiswa masih menggunakan perpustakaan, tetapi semakin sedikit (dan membaca makin sedikit) sejak mereka mulai menggunakan sarana penelusuran Internet
  • bagi kelompok ini perpustakaan masih tetap diasosiasikan dengan buku, meskipun perpustakaan telah melakukan investasi besar-besaran untuk menambah sumber-sumber digital

Temuan ini, yang sangat konsisten dengan hasil penelitian CIBER terhadap perilaku informasi anak muda, harus direspons dengan sangat serius oleh para pustakawan dan penyedia jasa informasi lainnya. Dan, perlu pula dipikirkan masalah terkait lain yang lebih luas dan bisa berpengaruh besar, yaitu dampak negatif kemudahan mendapatkan informasi dan berlimpahnya informasi. Apakah ini akan merusak pemikiran kreatif dan independen?

Apa transisi digital dan bagaimana pengaruhnya pada perpustakaan?

Perubahan yang mahabesar sedang terjadi di dunia informasi. Perubahan ini mentransformasikan pengajaran, pembelajaran, komunikasi ilmiah, dan peran perpustakaan ‘tradisional’ sebagai penyedia jasa layanan penunjang penelitian. Banyak dari perubahan tersebut disebabkan oleh perkembangan teknologi dan semakin berlimpahnya isi (content) elektronik berkat penerbitan elektronik, proyek digitisasi besar-besaran, dan Internet. Volume informasi berupa full text yang dapat ditelusuri, dilihat-lihat dan dicetak sambil duduk dengan nyaman di perpustakaan sudah tak terbayangkan besarnya. Begitu pula pilihan yang tersedia: pengguna perpustakaan telah berubah menjadi konsumen informasi yang dalam sekejap dapat beralih dari mesin pencari komersial, ke situs jejaring sosial, wiki, daftar link ke situs terpilih dan jasa elektronik yang disediakan oleh perpustakaan untuk memenuhi kebutuhan akan informasi para pengguna.

Tantangan yang dihadapi perpustakaan riset (research libraries) dalam lingkungan digital sungguh besar sekali. Sebagai pemilik dan pengelola koleksi bahan tercetak perpustakaan ini harus mengubah falsafah dasarnya. Koleksi buku yang besar tampaknya mulai semakin mubazir ketika pengguna berpaling dari perpustakaan sebagai suatu ruang fisik. Perpustakaan riset terpaksa menyesuaikan diri dengan suatu realitas baru, yaitu keharusan berkompetisi untuk mendapatkan perhatian dari kelompok-kelompok pengguna, khususnya pengguna muda, yang menghendaki content yang dinamis, interaktif dan bisa diberi sentuhan pribadi, content yang bisa bersaing dengan Facebook dan sejenisnya.

Implikasi pergeseran dari perpustakaan sebagai ruang fisik ke perpustakaan sebagai lingkungan digital virtual amat besar dan luas, serta berpotensi mengacau-balaukan segala-gala. Pengguna perpustakaan menuntut akses 24/7, jawaban yang muncul dengan segera, dan semakin lama mencari ‘jawaban’ alih-alih suatu format seperti monograf atau artikel jurnal. Maka mereka scan, flick and ‘power browse’ dan sekaligus mengembangkan bentuk-bentuk membaca onlineyang baru, yang belum sepenuhnya dikenal dan dimengerti.

Perubahan pada perilaku pencarian informasi akibat pilihan-pilihan digital, akses tanpa batas waktu (24/7), disintermediasi (hilangnya perantara), dan mesin pencari yang hebat, bukan saja terlihat pada para mahasiswa. Perubahan yang sama telah terjadi pada guru besar, dosen, dan praktisi. Semuanya menunjukkan perilaku yang sama.

Perpustakaan riset juga harus belajar bagaimana mengelola dengan baik suatu dunia sumber informasi yang berubah terus, yang mencakup bahan berupa publikasi formal, publikasi pribadi dan bahan yang tidak dipublikasikan, model bisnis dan lisensi baru, baik yang berformat kertas maupun digital. Tantangan ini mahabesar.

Bagaimana perilaku pengguna di perpustakaan virtual sekarang?

Para pustakawan merasa cemas, dan ini tidaklah mengherankan. Dunia kini adalah dunia informasi digital yang ditandai oleh: pilihan yang luar biasa banyaknya, akses mudah, tersedia sarana yang mudah digunakan. Peran tradisional pustakawan sebagai perantara (intermediaries) yang membantu pengguna menggunakan sistem perpustakaan yang besar dan kompleks, mendapat ancaman dari jasa layanan seperti Google, yang tampaknya menawarkan pilihan informasi yang tak terbatas dan tidak melibatkan perpustakaan.

Sebetulnya, perpustakaan riset menyediakan aneka ragam content yang sangat bagus dan bermanfaat bagi para pengguna, tapi sayangnyacontent ini harus diakses lewat sistem-sistem yang tidak begitu mudah dan intuitif seperti mesin pencari. Jadi pustakawan harus berupaya lebih memahami bagaimana orang sesungguhnya berperilaku dalam lingkungan perpustakaan virtual dan menggunakan content yang mahal itu. Tanpa upaya ini, ada bahaya bahwa pustakawan (dan profesi pustakawan) akan lenyap.

Penelitian paling mutakhir dari CIBER menunjukkan bahwa mungkin sekali e-books akan menjadi kisah sukses berikut. Permintaan bisa spektakuler sebab populasi siswa sangat besar, dan mereka lapar akancontent yang sudah disarikan.

Semua bukti yang telah ada menunjukkan bahwa orang berperilaku berbeda-beda ketika menggunakan sumber-sumber informasi elektronik. Ini diketahui karena perilaku mereka terekam dengan sangat mendetil dalam bentuk rekaman jejak di komputer (computer log trails). CIBER sudah lebih dari lima tahun mempelajari bukti digital yang ditinggalkan jutaan ilmuwan ketika mereka menelusur pangkalan data elektronik, koleksi buku elektronik dan research gateways. Apa yang ditemukan oleh CIBER sangat besar relevansinya bagi pustakawan.

Secara umum, bentuk perilaku pencarian informasi yang baru ini dapat dikatakan mempunyai ciri berikut: horisontal, meloncat-loncat, mengecek cepat, melihat. Pengguna tidak setia, beraneka ragam dan sulit diprediksi, bisa gonta-ganti mendadak. Jelas sekali bahwa perilaku macam ini menjadi tantangan besar untuk perpustakaan yang masih berpegang pada paradigma hardcopy (buku, bahan cetak lain, berbagai informasi rekam berwujud fisik). Perpustakaan harus lebih giat memonitor perilaku pencarian informasi para pengguna dengan cara yang tepat, agar bisa menyusun respons yang sesuai.

Ciri utama perilaku pencarian informasi di perpustakaan virtual adalah:

Pencarian informasi secara horisontal. Ini adalah semacam kegiatan ‘skimming‘, melihat-lihat cepat. Hanya satu dua halaman dari suatu situs akademik dilihat, lalu loncat keluar, meninggalkan situs, dan mungkin tidak pernah kembali lagi. Angka-angka cukup berbicara: Sekitar 60% pengguna jurnal elektronik tidak melihat lebih dari 3 halaman, dan mayoritas (hingga 65%) tidak pernah kembali.

Navigasi. Pengunjung perpustakaan virtual menghabiskan banyak waktu cuma untuk cari tahu bagaimana mencari. Waktu yang habis hanya untuk bernavigasi, sama dengan waktu yang dihabiskan untuk melihat apa yang kemudian ditemukan.

Melihat saja. Rata-rata waktu yang dihabiskan pengguna untuk melihat situs e-book dan e-journal sangat singkat. Lazimnya empat dan delapan menit masing-masing. Jelas sekali pengguna yang online tidak membaca dalam arti tradisional. Ada tanda-tanda bahwa ‘membaca’ model baru sedang muncul. Pengguna melakukan browsing horisontal dengan tujuan mendapat hasil secepat mungkin, yakni dengan melihat judul, halaman isi dan abstrak. Bisa dikatakan bahwa mereka seakan-akan aktifonline karena mau menghindar dari keharusan membaca dalam arti tradisional.

Rajin menyimpan. Pengguna dari kalangan akademik mempunyai naluri konsumen yang tinggi. Penelitian menunjukkan bahwa bagaikansquirrel (sejenis bajing yang selalu sibuk mengumpulkan kacang dan biji-bijian) mereka rajin mengumpulkan dan menyimpan informasi dalam bentuk unduhan (downloads), khususnya jika ada tawaran gratis. Tapi tidak ada bukti nyata sejauh mana unduhan itu memang dibaca.

Aneka ragam pencari informasi. Analisis rekaman kegiatan pengguna yang sedang online mengungkapkan bahwa pengguna dan perilakunya sangat beragam. Variabelnya antara lain: lokasi geografis, gender, jenis universitas, status. Tidak ada satu model yang pas untuk semua orang.

Pencari informasi melakukan verifikasi. Pengguna sendiri mengevaluasi otoritas dan kredibilitas dalam waktu beberapa detik dengan cari-cari disana-sini dan cek ulang dengan melihat situs berbeda-beda dan mengandalkan nama favorit (misalnya Google)

Tingkat keyakinan: Sangat tinggi

(Di mana relevan, team peneliti memberi catatan yang menunjukkan tingkat keyakinan atau level of confidence mereka terhadap temuan studi, berdasarkan evaluasi literatur dan bukti-bukti lain)

 

Generasi Google: Apa yang kita ketahui tentang perilaku informasi anak muda?
Penelitian tentang bagaimana anak-anak dan anak muda menjadi trampil dalam menggunakan internet dan sarana pencarian lain masih kurang lengkap, bersifat sepotong-potong. Tetapi ada beberapa tema yang mulai muncul:
• literasi informasi anak muda tidak bertambah baik meskipun akses ke teknologi semakin meluas. Tampaknya mereka trampil menggunakan komputer, namun sebetulnya ketrampilan ini menutupi beberapa masalah yang cukup merisaukan
• penelitian menunjukkan bahwa cepatnya anak muda menelusur menandakan bahwa cuma sedikit waktu dipakai untuk mengevaluasi informasi, baik dari segi relevansi, keakuratan, atau otoritas
• anak muda kurang memahami apa kebutuhan informasi mereka sendiri, sehingga mereka sulit mengembangkan strategi penelusuran efektif
• sebagai akibatnya, mereka lebih suka mengungkapkan kebutuhan mereka dengan menggunakan bahasa alamiah, ketimbang mencari kata kunci yang lebih efektif
• dihadapkan dengan daftar panjang hasil-hasil penelusuran (search hits), anak muda merasa kesulitan menilai relevansi materi yang ditemukan, dan sering mencetak saja berhalaman-halaman tanpa melihat dan memilah dulu

Semua hal di atas berlaku untuk penggunaan internet saat ini oleh anak muda, maupun penggunaan sistem online dan CD-ROM ketika baru saja muncul, oleh satu generasi sebelum generasi Google ini. Tidak ada bukti langsung bahwa literasi informasi anak muda kini lebih baik ataupun lebih buruk daripada dulu. Tetapi, penggunaan mesin pencari terkenal dengan gencar menimbulkan beberapa masalah lain:

• anak muda punya peta mental yang kurang matang dari hakekat internet, dan sering tidak memahami bahwa internet adalah jejaring kumpulan sumber-sumber informasi yang berasal dari penyedia (provider) yang berbeda-beda
• konsekuensinya, mesin pencari, bisa Yahoo atau Google, menjadi nama utama yang mereka asosiasikan dengan Internet
• banyak anak muda menganggap sumber-sumber informasi yang disponsori perpustakaan tidak intuitif, sulit digunakan, dan sebab itu lebih suka menggunakan Google atau Yahoo, sebab mesin pencari ini terasa lebih akrab, lebih membantu memenuhi kebutuhan

Pertanyaan yang sangat besar yang dikemukakan diatas, ialah apakah, dan sejauh mana, perilaku, sikap dan preferensi anak muda generasi Google akan tetap sama, juga ketika mereka tumbuh dan sebagian di antaranya menjadi akademisi dan ilmuwan. Pertanyaan ini tidak mungkin dijawab dengan langsung sebab tidak ada studi longitudinal yang mempelajari perilaku satu kelompok mulai dari masa anak muda hingga masa dewasa.

Generasi Google: Bagaimana anak muda saat ini berperilaku di perpustakaan virtual?
Ini merupakan suatu peringatan yang kuat bahwa kebutuhan informasi seseorang berbeda pada saat berbeda dalam kehidupannya. Studi terkontrol yang secara sistematis menjelaskan faktor usia dan perilaku pencarian informasi masih sangat langka. Oleh sebab itu ada banyak informasi keliru dan spekulasi tentang perilaku anak muda di dunia maya.

Salah satu pijakan studi ini adalah suatu analisis deep log yang membandingkan perilaku informasi dengan kisaran usia yang lebar. Semuanya menggunakan platform untuk menelusur yang sama: British Library Learning, suatu layanan ditujukan pada siswa dan guru sekolah dasar, dan Intute, suatu layanan JISC yang ditujukan pada komunitas perguruan tinggi dan sesudahnya.

Hasil-hasil terpenting dari analisis ini adalah:

• Kedua jasa layanan sangat populer, baik di Inggris maupun diluarnya, sangat banyak digunakan. Ada kesan kuat bahwa jasa layanan ini punya content yang dinilai tinggi oleh siswa dan guru mereka
• Popularitas kedua situs memberi kesan bahwa situs ini terkenal dan digemari baik di Inggris maupun di luarnya.
• Mayoritas pengunjung kedua situs berkunjung sebab diarahkan oleh mesin pencari, dan penelusuran dilakukan lebih banyak di rumah daripada di sekolah atau universitas.
• Kira-kira 40% dari pengguna mesin pencari dari sekolah menemukan British Library Learning ketika sedang mencari gambar, yang menunjukkan bahwa penelusuran tipe ini disukai
• Mereka yang sampai ke situs British Library Learning lewat link dari blog merupakan minoritas kecil dan terutama dari Amerika. Belum ada bukti bahwa jejaring sosial sudah lazim digunakan oleh situs-situs perpustakaan

Para pelajar tampak menggunakan sarana yang tidak menuntut ketrampilan tinggi: mereka puas dengan bentuk penelusuran yang sangat sederhana atau dasar. Hasil dari deep log analysis CIBER konsisten dengan apa yang ada dalam literatur perilaku informasi dan observasi atau survai lain. Contoh misalnya: studi berupa observasi menunjukkan bahwa anak muda (terutama yang laki-laki) men-scan halaman onlinesangat cepat, sering klik hyperlink, dan kurang membaca dengan berurut. Pengguna jarang menggunakan fasilitas penelusuran yang lebih kompleks, karena berasumsi bahwa mesin pencari ‘memahami’ pertanyaan mereka. Mereka cenderung berpindah cepat-cepat dari satu halaman ke halaman lain. Mereka kurang membaca dan mencerna informasi, dan mengalami kesulitan menilai apakah halaman yang ditemukan relevan atau tidak.

Menilai relevansi, khususnya bagi anak-anak, sulit sekali. Anak-anak cenderung hanya melihat apakah kata cariannya ada (harus presis sama) atau tidak . Ada berarti relevan, tidak ada berarti tidak relevan. Maka banyak dokumen yang sebenarnya relevan diabaikan, dan penelusuran diulang. Pencarian informasi diakhiri ketika beberapa dokumen ditemukan dan dicetak, sedangkan isi dokumen kurang diperhatikan.

Literatur juga menunjukkan bahwa banyak karakteristik sebetulnya sudah ada sebelum zaman Web, sehingga tidak bisa dikaitkan dengan Internet sebagai sesuatu yang baru total. Dalam literatur hampir tidak ditemukan pembahasan tentang pergeseran yang meliputi satu generasi secara keseluruhan. Misalnya, bahwa generasi Google secara fundamental ‘beda’ dengan generasi sebelumnya. Tentu saja ini sulit diinterpretasi sebab tidak ada studi longitudinal yang bisa mendukung pendapat seperti ini. Sebaliknya, literatur memperlihatkan bahwa ada perbedaan besar antara anak dan remaja. Anak kecil belum mengembangkan ketrampilan kognitif dan motorik untuk menjadi penelusur efektif. Sesudah usia 11 tahun tidak terlihat perbedaan besar lagi antara anak dan orang dewasa muda. Tapi penelitian CIBER memperlihatkan bahwa pencarian gambar (lewat Yahoo dan Google) sangat populer antara anak, dan mungkin inilah betul-betul suatu perbedaan dalam perilaku informasi.

Generasi Google: Fenomena ‘social networking’ – apakah penting?
Munculnya situs web sosial (social websites) mengubah sifat fundamental WWW: kita pindah dari suatu Internet yang dibangun oleh beberapa ribu pengarang ke Web yang dibangun oleh jutaan orang. Bagi pustakawan dan penerbit fenomena social networking sangat menarik karena social networking ini bagian dari suatu tren yang lebih luas: pengguna mencipta dan mempublikasikan content, dan dengan demikian membuat kabur perbedaan antara produser informasi dan konsumen informasi. Ini menjadi fenomena yang berdampak pada seluruh masyarakat.

Banyak pustakawan telah mulai bereksperimen dengan social softwarekarena ingin mendekatkan diri pada pengguna. Tetapi mereka menghadapi suatu masalah. Meskipun perpustakaan khusus menghabiskan dana jutaan pound untuk memberikan akses langsung dari desktop pengguna ke pangkalan data berisi content elektronik yang mahal (jurnal, monograf, dsb.) pengguna pada umumnya tidak mengetahui ini. Mereka tidak tahu bahwa perpustakaanlah yang menyediakannya, atau mereka mendapatkannya (menemukannya) lewat Google, dan berasumsi content itu gratis. Perpustakaan makin lama makin terjepit: penerbit atau mesin pencari dianggap telah berjasa, sedangkan perpustakaan yang harus membayar biaya penyediaan content.

Beberapa pustakawan progresif mulai menghadirkan perpustakaan diMySpace dan Facebook dengan menciptakan profil perpustakaan. Saat ini masih terlalu awal untuk mengetahui apakah inisiatif seperti ini akan membuahkan hasil bagus atau tidak. Bahkan upaya seperti ini malahan bisa punya efek yang berlawanan dari yang diharapkan. Bisa saja pengguna muda mengganggap bahwa perpustakaan mulai memasuki wilayah mereka, dan itu menimbulkan resistensi. Pada tahun 2007 misalnya, OCLC mengadakan suatu survai untuk mengetahui apakah mahasiswa dan masyarakat umum berminat berpartisipasi dalam beberapa kegiatan social networking atau mengisi community site yang dibangun oleh perpustakaan. Respons sangat mengecewakan: kebanyakan mahasiswa menyatakan bahwa mereka tidak berminat. Meski masih terlalu awal untuk menarik kesimpulan definitif, survai ini dan survai serupa cenderung menunjukkan bahwa social software dansocial networking belum, atau tidak sangat bermanfaat dalam upaya untuk lebih mendekati atau merangkul pengguna dalam lingkungan informasi yang semakin dis-intermediated, yaitu lingkungan tanpa perantara, tanpa pustakawan.

Ada banyak contoh dari eksperimen yang dilakukan perpustakaan dengan berbagai teknologi Web 2.0, misalnya memperkaya entri katalog dengan review dan rating yang dibuat pengguna. Tapi sekali lagi, masih terlalu awal untuk menilai efektivitasnya. Yang sudah jelas adalah bahwasocial networking sangat penting, dan pustakawan harus giat memantau perkembangannya.

Pandangan CIBER adalah bahwa isu yang harus diwaspadai adalah perkembangan buku elektronik (e-book), bukan social networking. Perpustakaan harus terus bereksperimen, dan khususnya memantau contoh-contoh pemanfaatan social networking dalam bisnis (misalnya untuk pemasaran) dan penyebaran bahan ajar online.

Generasi Google: mitos atau realitas?
Ada banyak hal yang dikatakan tentang generasi Google di media populer yang tidak sesuai dengan bukti nyata. Dalam bagian ini team peneliti CIBER mencoba menilai pendapat-pendapat ini: mana cuma mitos, mana realitas? Diakui juga oleh team ini bahwa penilaian mereka dibuat berdasarkan bukti yang masih kurang banyak. Beberapa pendapat dikutip di bawah ini, disertai pendapat team peneliti:

Generasi Google lebih kompeten dengan teknologi.
Secara umum benar, tapi pengguna yang lebih tua mengejar ketertinggalan mereka dengan cepat. Dan kebanyakan anak muda cenderung menggunakan aplikasi yang lebih sederhana dan lebih sedikit jenis program.

Generasi Google menaruh harapan tinggi pada ICT
Mungkin benar, karena kita sekarang hidup dalam budaya web global yang didominasi oleh beberapa nama besar. Harapan ini relatif saja, tidak khas untuk anak muda, karena kita semuanya sekarang menjadi konsumen informasi.

Generasi Google lebih menyukai sistem interaktif dan tidak mau hanya menjadi konsumen informasi pasif 
Secara umum benar, seperti terungkap oleh pola konsumsi media anak muda. Media pasif seperti televisi dan surat kabar kurang digemari.

Generasi Google melakukan multitasking dalam semua aspek kehidupan mereka
Masih terbuka (tidak atau belum bisa memberikan pendapat pasti), sebab tidak ada bukti konkrit. Tapi, mereka sejak kecil terekspos pada mediaonline dan ini bisa jadi mengembangkan ketrampilan untuk melakukan beberapa kegiatan secara berbarengan (parallel processing). Pertanyaan yang lebih penting ialah apakah kemampuan memproses secara berurutan, yang perlu untuk membaca terfokus, ikut pula dikembangkan

Generasi Google terbiasa dengan entertainment dan sebab itu juga mengharapkan unsur ini ada dalam pengalaman belajar mereka di universitas.
Masih terbuka. Media informasi harus menarik. Jika tidak, maka tidak akan dilihat atau digunakan. Team agak cemas melihat besarnya minat untuk menggunakan permainan (game technologies) untuk membuat proses belajar dan kunjungan perpustakaan lebih menarik. Ketika 20 – 30 tahun yang lalu siaran berita mulai menggunakan teknik-teknik pertunjukan hiburan, pemirsa lebih tertarik, tapi penelitian menunjukkan bahwa penyerapan informasi justru terhambat.

Generasi Google lebih suka dengan informasi visual ketimbang tekstual
Benar, tetapi dengan beberapa catatan. Teks masih tetap penting. Sewaktu teknologi semakin bagus dan biaya turun, video links nanti akan menggantikan teks dalam konteks berjejaring sosial. Namun, untuk antar muka jasa perpustakaan (library interfaces) multimedia ternyata cepat kehilangan daya tariknya. Hanya menarik saat masih baru.

Generasi Google tidak sabar dan menghendaki hasil cepatkebutuhan informasi mereka harus dipenuhi dengan segera.
Tidak benar. Tidak ada bukti nyata bahwa anak muda lebih tidak sabar dalam hal ini. Harus diingat bahwa kelompok-kelompok yang lebih tua masih ingat pengalaman-pengalaman mereka pada masa pra-digital, sedangkan generasi lebih muda tidak.

Generasi Google menganggap sesamanya (kelompok usia mereka sendiri) lebih bisa dipercaya sebagai sumber informasi daripada tokoh-tokoh yang lebih dewasa
Setelah dibanding-bandingkan, Team merasa ini suatu mitos. Penelitian untuk mengetahui sumber-sumber informasi yang disukai dan dihargai oleh anak-anak disekolah menengah menunjukkan bahwa guru, anggota keluarga, dan buku teks lebih diandalkan ketimbang Internet.

Generasi Google ingin terkoneksi dengan Web terus menerus 
Team tidak yakin bahwa ini suatu karakteristik khas generasi Google. Penelitian baru-baru ini menunjukkan bahwa kelompok usia di atas 65 lebih lama online (per minggu empat jam) daripada kelompok 18 – 24-an. Team menduga bahwa faktor yang lebih penting daripada generasi adalah kepribadian dan latar belakang.

Generasi Google adalah generasi ‘cut-and-paste’
Ini benar, ada banyak bukti dan plagiarisme adalah masalah yang serius.

Generasi Google jadi trampil berkomputer dengan cara coba-coba dan langsung bisa
Ini suatu mitos. Anggapan populer adalah bahwa para remaja generasi Google sudah asyik main-main dengan gadget baru saat orang tua mereka masih membaca manualnya. Kenyataan justru kebalikannya.

Generasi Google lebih menyukai informasi dalam bentuk potongan-potongan yang dapat dicerna dengan mudah, ketimbang teks lengkap.
Ini mitos. Studi rekam jejak komputer menunjukkan bahwa semuanya, mulai dari mahasiswa S1 hingga profesor, ketika di perpustakaan digital, sangat cenderung berperilaku dangkal, horisontal, berpindah-pindah cepat. Semuanya tampaknya punya kebiasaan melakukan browsing cepat, melihat sepintas. Di kalangan peneliti yang lebih tua abstrak sangat populer. Masyarakat mulai cepat puas dengan yang gampang saja dan mengabaikan mutu.

Generasi Google pintar sekali menelusur
Ini mitos yang berbahaya. Memiliki literasi digital tidak berarti memiliki literasi informasi. Literatur 25 tahun terakhir tidak menampakkan perbaikan (atau kemunduran) ketrampilan mencari dan menggunakan informasi pada anak muda.

Generasi Google mengira bahwa semuanya ada di Web (dan gratis)
Belum pasti. Ada banyak cerita dan berita bahwa ini benar bagi kelompok besar anak muda, tetapi belum ada penelitian yang mendalam. Sebaliknya, ada banyak bukti bahwa anak muda tidak tahu menahu akan adanya content yang disponsori oleh perpustakaan, atau setidak-tidaknya segan memanfaatkannya. Ini merupakan masalah perpustakaan, bukan kesalahan pada anak muda.

Generasi Google tidak menghormati milik intelektual
Hanya benar sebagian. Hasil survai tertentu menunjukkan bahwa baik orang dewasa maupun anak (usia 12-15) punya kesadaran dan pemahaman yang tinggi terhadap prinsip-prinsip dasar milik intelektual, tapi anak muda merasa bahwa peraturan hak cipta tidak fair dan tidak adil. Jika respek untuk hak cipta hilang, dampaknya bagi perpustakaan dan industri informasi sangat serius.

Generasi Google: Apa yang sesungguhnya kita ketahui tentang generasi Google? 
Sebenarnya, kita semuanya generasi Google sekarang. Demografi Internet dan konsumsi media mengikis habis perbedaan antar generasi yang katanya ada selama ini. Bukti-bukti nyata menunjukkan bahwa orang dari semua kelompok usia makin lama makin banyak menggunakan Internet dan Web 2.0 untuk berbagai keperluan. Mereka yang muda (bukan saja generasi Google tapi juga generasi sebelumnya, generasi Y) mungkin yang pertama-tama giat berinternet, tapi pengguna lebih tua mulai sama giatnya sekarang. Mereka ini dijuluki Silver Surfers. Maka dalam banyak hal label atau julukan Google generation menjadi kurang tepat.

Suatu survai yang dilakukan pada tahun 2007 oleh Synovate mengungkapkan bahwa hanya 27% dari remaja di Inggris bisa dikatakan mempunyai minat mendalam dan ketrampilan teknologi informasi yang menjadi ciri dari label generasi Google. Mayoritas (57%) menggunakan teknologi yang relatif rendah tingkatannya untuk keperluan komunikasi dan hiburan, dan ada pula sekelompok remaja yang tidak suka dengan teknologi dan kalau bisa tidak mau memakainya. Jadi jelas bahwa pembagian berdasarkan kelompok usia atau generasi amat sulit.
Apakah ketrampilan informasi (information skills) tradisional dari anak muda benar-benar rendah? Inipun masih kurang diketahui secara pasti, namun kita harus secepatnya mencari tahu kondisi sebenarnya, sebab pendidikan zaman sekarang semakin berciri self-directed learning.
Kesimpulan menyeluruh dari team peneliti ialah bahwa pengaruh ICT pada anak muda terlalu dibesarkan, sedangkan dampaknya pada generasi lebih tua kurang diperhatikan. Perlu diupayakan pandangan yang lebih berimbang.

Generasi Google: Di manakah letak kesenjangan ketrampilan?
Ada banyak sekali tulisan dan pernyataan tentang betapa trampilnya anak menggunakan sumber-sumber elektronik. Ada pula klaim bahwa anak muda menggunakan Internet lebih kreatif dan lebih piawai daripada guru atau orang tua mereka. Pendek kata, mereka ‘technology savvy’. Inilah persepsi populer tentang anak muda dan teknologi informasi. Tapi tidak ada bukti dalam literatur ilmiah bahwa anak muda benar-benar penelusur trampil. Berbagai studi lama misalnya, melaporkan bahwa penelusur muda sering tampak kesulitan memilih istilah carian (search terms) yang cocok. Ada banyak anak muda yang menggunakan frase atau kalimat lengkap, misalnya: “What are the three most common crimes in California?”

Dalam literatur tentang literasi informasi sering dibahas mengapa menelusur sulit. Untuk bisa memanfaatkan sarana temu kembali Internet dengan efektif, penelusur perlu memiliki suatu peta mental yang lengkap. Diperlukan pemahaman bagaimana sistem temu kembali bekerja, bagaimana informasi direpresentasikan dalam pangkalan data bibliografi atau berteks lengkap, ditambah dengan sedikit wawasan tentang dunia informasi, juga tentang bagaimana ejaan, tatabahasa, dan struktur kalimat membantu menjadikan penelusuran lebih efektif. Banyak anak (dibawah 13 tahun) dan orang dewasa yang lebih tua (46 dan di atasnya) sering tidak mampu menyusun penelusuran yang efektif dan mengevaluasi hasilnya. Dalam kasus anak, ini untuk sebagian besar terjadi karena kurangnya pengetahuan mereka tentang jenis content yang ada dalam situs tertentu, dan susahnya memahami bagaimana mesin pencari bekerja, kesulitan beralih dari bahasa alamiah (natural language) ke bahasa untuk pertanyaan (search queries), kurang mempertimbangkan sinonim dan alternatif-alternatif lain. Dalam kasus generasi lebih tua, masalah utama ialah bahwa banyak di antara mereka tidak, atau belum, bisa membayangkan bagaimana Internet bekerja.

Masalah kedua adalah masalah evaluasi informasi. Anak muda kurang mengetahui cara tepat mengevaluasi sumber informasi elektronik, atau samasekali tidak mengevaluasi. Cepatnya anak muda menelusur web menunjukkan bahwa hampir tidak ada waktu yang dipakai untuk mengevaluasi informasi, baik dari aspek relevansi, keakuratan, atau otoritas. Ada studi yang menemukan bahwa banyak remaja mengira bahwa apabila suatu situs diindeks oleh Yahoo, itu berarti situs tersebut terjamin otoritasnya.

Temuan yang paling signifikan dari studi CIBER ini adalah bahwa guru yang diwawancarai adalah guru yang information literate, namun tidak terjadi transfer sikap dan ketrampilan informasi (information skills) mereka pada siswa mereka.

Di Inggris hanya ada sedikit penelitian yang mempelajari ketrampilan informasi anak muda yang masuk perguruan tinggi atau sudah di perguruan tinggi. Hal ini menandai kurangnya dukungan strategis dari pemerintah pada program-program literasi informasi. Gambaran yang lebih lengkap tersedia dari situasi di Amerika Serikat. Tapi gambaran ini tidak menggembirakan: banyak sekali mahasiswa baru rendah sekali tingkat literasi informasinya, tapi tinggi sekali tingkat kecemasanya apabila perlu ke perpustakaan. Dan seperti sudah bisa diperkirakan, ketrampilan informasi punya korelasi positif dengan hasil tes standar untuk masuk universitas, dan nilai-nilai selama masa studi.

Ada dua pesan penting yang muncul dari penelitian akhir-akhir ini di Amerika Serikat. Jika mahasiswa yang berada di kelompok 25% teratas dan mahasiswa kelompok 25%paling bawah (dikelompokkan menurut ketrampilan literasi informasi) dibandingkan, maka ternyata bahwa kelompok 25% teratas lebih banyak terekspos pada ketrampilan perpustakaan dasar lewat orang tua, perpustakaan sekolah, perpustakaan kelas atau perpustakaan umum ketika mereka masih muda. Tampaknya suatu kesenjangan baru sedang muncul di Amerika Serikat. Mahasiswa dengan bekal ketrampilan informasi yang lebih baik memperoleh nilai yang lebih baik. Penelitian menunjukkan bahwa bagi mereka di bagian bawah spektrum ketrampilan informasi upaya perbaikan pada usia mereka berada di universitas, sudah terlambat. Mahasiswa kategori ini sudah memiliki perilaku yang sulit diubah: mereka sudah terbiasa untuk puas saja dengan Google.
Masalahnya ialah bahwa mahasiswa ini tidak sadar bahwa mereka punya problem: ada kesenjangan antara performa mereka pada tes ketrampilan informasi dengan penilaian mereka terhadap diri mereka sendiri dalam hal ketrampilan informasi. Temuan studi-studi ini menimbulkan keraguan: apakah perguruan tinggi dapat mengembangkan ketrampilan penelusuran generasi Google hingga mencapai tingkat yang sesuai dengan tuntutan pendidikan tinggi dan penelitian? Kesimpulan paling penting ialah: ketrampilan informasi harus dikembangkan pada usia formatif di sekolah dan program remedial literasi informasi pada tingkat universitas tidak akan efektif. Pertanyaan yang besar adalah: sebaiknya seperti apa pelatihan ini? Mungkin harus mengikuti arus saja, dan membantu anak menjadi konsumen informasi yang lebih efektif?