Sumber : http://www.pemustaka.com/perbaikan-menuju-perpustakaan-ideal.html

Penulis: Susilo Indarti, SE

“Generasi sukses generasi membaca,” itulah sepenggal kalimat yang saya sempat dengar dari Dian Nitami saat saya menontonnya pada tayangan sebuah stasiun tv.  Kalimat itu menggambarkan betapa membaca akan begitu banyak merubah pola pikir orang.  Dari pola pikir sempit ke pola pikir yang jauh lebih maju.  Betapa membaca akan terus memotivasi banyak orang supaya sukses di bidangnya masing- masing.

Diperlukan upaya keras untuk bisa mendorong semua lapisan masyarakat manapun untuk meningkatkan budaya membacanya.  Salah satunya adalah dengan membangun atau menciptakan perpustakaan ideal.  Ya, perpustakaan ideal.  Untuk disebut sebagai salah satu perpustakaan ideal, maka sebuah perpustakaan yang dimaksud, tidak bisa mengabaikan aspek perbaikan pelayanan.

Dan itu mengingatkan saya pada kondisi perpustakaan universitas tempat saya kuliah selama kurang lebih lima tahun saya disana. Sepanjang yang saya tahu, disanalah perpustakaan idaman dan favorit saya.  Terlepas orang lain akan sependapat dengan saya atau tidak, secara umum sangatlah layak disebut sebagai perpustakaan ideal.  Secara garis besar dibawah ini akan saya ungkapkan alasan saya.

Saya paling suka pelayanannya, dari security (barisan atau lini paling depan yang saya jumpai), sudah menyambut saya dengan budaya senyumnya.  Bukan wajah angker yang sering saya lihat di perpustakaan lain. Yang kedua, arsitektur bangunannya.  Tidak terlalu besar.  Terdiri dari 3 lantai, masing- masing lantai memiliki meja dan tempat duduk yang terkesan luas terhadap rak- rak buku yang terpajang disekelilingnya.  Dengan kaca- kaca besar sebagai pemisah ruang satu dengan yang lain.  Dari segi penataan ruang sampai para petugas yang saya jumpai disana semakin membuat saya betah berlama- lama.  Begitu memasuki lantai dasar, kita bisa langsung melihat koleksinya dalam katalog buku yang masih manual. Locker tempat menyimpan barang juga terlihat rapi dan tersedia dalam jumlah yang cukup.

Saat terakhir saya disana, belum ada sistem komputerisasi yang sekarang banyak di pakai untuk memanage koleksi buku-bukunya.  Itupun sudah cukup membuat saya amat bersemangat hampir tiap hari datang ke sana. Suasana di dalam selalu bersih, udaranya segar, hampir tidak ada AC di ruangan manapun. Karena bangunan dilengkapi dengan jendela- jendela berukuran besar.

Bau khas tanah berasal dari tanaman yang basah, baru saja selesai disiram.  Bisa saya simpulkan tanaman terkesan terawat ditempatkan dalam ruangan dengan pot-potnya.  Itu semua adalah alasan saya yang membuat perpustakaan tersebut “unique and different” dibanding yang lain. Mereka sangat perhatian ke hal- hal yang detail.  Jarang saya temui petugas perpustakaan satu sama lain yang melakukan hal- hal kurang pas, seperti ngobrol ngalor- ngidul yang mengakibatkan konsentrasi baca pengunjung terganggu.

Untuk menyamakan persepsi yang penulis maksud di sini adalah kondisi perpustakaan di bawah pemerintah secara langsung, seperti perpustakaan daerah, dan perpustakaan provinsi.  Sehingga ketersediaan dana dalam menunjang langkah perbaikan pelayanan, tidak menjadi kendala yang berarti.

Bab II
Permasalahan

Menurut saya pribadi, perpustakaan tak sekedar bangunan dan koleksinya yang representatif, dan mengabaikan aspek penunjang lain, misalnya SDM (sumber daya manusia) yang bekerja di sana. Mulai dari security, tukang kebun, sampai petugas yang mengatur sirkulasi bukupun, harus memahami bahwa  mereka adalah faktor penting dalam lingkaran sebuah perpustakaan yang kelak siapapun akan menyebut perpustakaan tempat mereka bekerja itu, adalah perpustakaan ideal.

Saat saya berkunjung ke perpustakaan-perpustakaan lain, saya otomatis menjadi sering membandingkan. Aspek apa saja yang membuat saya bisa menyebut perpustakaan x sebagai sebuah perpustakaan ideal.  Tak sekedar  memiliki bangunan yang representatif, koleksi buku yang lengkap, managemen dan sirkulasi koleksi yang bagus, serta jauh tak kalah pentingnya adalah orang- orang yang mampu bertanggung jawab terhadap tugasnya masing- masing.  Artinya SDM (sumber daya manusia) yang memanage sebuah perpustakaan ideal haruslah benar- benar profesional. Tak bekerja ala kadarnya.  Mereka harus selalu melakukan perbaikan pelayanan.

Bab III
Tujuan

Perbaikan pelayanan perpustakaan akan mendukung upaya menjadikan membaca sebagai sebuah kebutuhan bagi para pengunjung.  Banyak keuntungan yang bisa didapat dengan adanya perbaikan pelayanan perpustakaan antara lain untuk lebih luas mendukung proses belajar-mengajar, mengembangkan minat baca, menambah wawasan, sarana melakukan kajian penelitian sederhana, dan lain- lain.

Saya termasuk hobi membaca sejak saya duduk di bangku SD.  SD saya terletak di sebuah kota kecamatan.  Memiliki sebuah perpustakaan kecil, dengan koleksi buku yang terbatas.  Itupun kondisinya sangat memprihatinkan, kadang saya membaca buku yang saya sendiri tidak tahu judulnya, soalnya sampul bukunya sudah tidak ada, entah kemana.  Ada juga yang halaman buku tidak beraturan, ataupun akhir dari bab sebuah buku sudah terpisah, dari bab-bab sebelumnya.  Tapi, walau kondisinya begitu, perpustakaan SD saya itu cukup sanggup memuaskan kegilaan saya membaca pada saat itu.  Pada titik ini saya bisa mengambil kesimpulan, bahwa bagaimanapun kondisi sebuah perpustakaan pada awalnya yang paling prinsip adalah minat bacanya dulu.  Kalau minat bacanya sudah ada, keberadaan sebuah perpustakaan ideal akan lebih merespon minat baca orang, atau masyarakat.

Bab IV
Landasan Teori

A. Pengertian perpustakaan

Pengertian perpustakaan adalah kumpulan bahan informasi yang terdiri dari  bahan buku/book materials dan bahan non buku/non book materials yang disusun dengan sistem tertentu, dipersiapkan untuk diambil manfaatnya/pengertiannya, tidak untuk dimiliki sebagian maupun keseluruhannya.

Menurut Surat Edaran Bersama/SEB Mendikbud dan Kepala BAKN Nomor 53649/ MPK/ 1988 dan nomor : 15/SE/1988 Tentang Jabatan Fungsional Pustakawan antara lain disebutkan tentang pengertian perpustakaan.  Perpustakaan adalah lembaga, kantor atau unit kerja lain yang sekurang-kurangnya memiliki 1000 (seribu) judul bahan pustaka yang terdiri dari sekurang-kurangnya 2500 (dua ribu lima ratus) eksemplar/buah dan dibentuk dengan keputusan pejabat yang berwenang.

Dalam Undang- undang Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dijelaskan bahwa dalam proses pendidikan diperlukan unsur-unsur, meliputi peserta didik, pendidik dan tenaga kependidikan, teknisi, sistem pendidikan, serta sarana dan prasarana pendidikan.  Salah satu unsur penting dalam proses pendidikan, tetapi bukan satu-satunya adalah perpustakaan.

Dalam Konferensi Umum UNESCO telah mendeklarasikan Tahun Buku Internasional 1972 dengan tema “Buku Untuk Semua Orang”, menghimbau dan mengajak kepada siapa saja yang berkepentingan untuk melaksanakan prinsip-prinsip yang dinyatakan disana.  Seperti pada pasal VII yang berbunyi perpustakaan adalah sumber nasional bagi penyaluran informasi dan pengetahuan.

Bab V
Pembahasan

Agar perpustakaan bisa melakukan fungsinya secara maksimal, dalam rangka perbaikan pelayanannya difokuskan pada hal- hal dibawah ini :

  • tersedianya dana secara rutin
  • struktur organisasi yang jelas dalam sebuah perpustakaan, sehingga masing- masing elemen bisa menjalankan tugas dan wewenangnya dengan baik.
  • pembinaan tenaga pengelola perpustakaan secara berkala sehingga makin banyak yang berpendidikan ilmu perpustakaan. Meningkatkan status dan kinerja mereka dalam pengelolaan perpustakaan secara teknis maupun manajerial.
  • peningkatan kesejahteraan sesuai dengan tingkat kesulitan dan beban kerja tenaga pengelola perpustakaan
  • koleksi buku yang terus- menerus berkembang atau pengadaan (sirkulasi) koleksi, meliputi pengadaan peminjaman, pengembalian, penagihan, dan sanksi.  Untuk pengadaan koleksi ini hendaknya disesuaikan dengan tingkat pendidikan, selera dan etika masyarakat setempat.
  • kebutuhan dan penataan ruangan  dan pemilihan meubeler yang tepat.  Adanya kenyamanan udara, yaitu mengupayakan agar peredaran udara dalam ruangan itu cukup, serta kenyamanan cahaya, supaya cahaya dalam suatu ruangan cukup misalnya cahaya alami (dari jendela- jendela besar yang ada) dan cahaya buatan. Pada saat ini hendaknya diminimalkan pemakaian listrik sebagai sumber cahaya buatan.
  • pengolahan bahan pustaka, yakni kegiatan mengolah berbagai macam bahan koleksi yang diterima perpustakaan, berupa bahan non kertas/non cetak (disket, kaset, piringan hitam), maupun berupa buku, majalah, buletin, laporan, skripsi/ tesis, penerbitan pemerintah, surat kabar, atlas, manuskrip dan lain sebagainya, agar dalam keadaan siap untuk  :

–          diatur pada tempat- tempat tertentu

–          disusun secara sistematis sesuai dengan sistem yang berlaku

–          dipergunakan oleh siapa saja yang memerlukan (para pengunjung perpustakaan)

Dengan begitu selanjutnya perpustakaan dalam melayani peminjaman dan pengembalian setiap koleksinya dapat berjalan dengan lancar dan tertib.  Untuk itu harus ada peraturan tertulis yang meliputi :

1.  sistem keanggotaan

2.  hak dan kewajiban anggota

3.  waktu pinjam (penentuan waktu lama pinjam)

4.  sanksi

5. waktu pelayanan (agar pengunjung perpustakaan mengetahui persis jam- jam pelayanan)

  • Laporan (statistik ) perpustakaan

Adanya statistik yang baik supaya diketahui perkembangan perpustakaan.  Statistik ini dapat dibuat untuk mengetahui jumlah pengunjung, peminjaman, pengembalian dan sebagainya.

  • Pelayanan informasi

Setiap orang yang datang kesana akan mendapatkan nilai tambah yang tak akan dijumpai di tempat lain, misalnya bisa free wifi dan memanfaatkan fasilitas internet yang ada. Misalnya, saya pribadi mendapat informasi lomba penulisan artikel ini dari papan informasi perpustakaan propinsi.

  • Melaksanakan kegiatan lomba secara berkala, dalam rangka menghidupkan suasana perpustakaan sendiri sebagai lembaga yang mendukung meningkatnya minat baca.  Misalnya, lomba resensi buku, mading dan lain sebagainya.
  • Memiliki armada perpustakaan keliling, hal ini untuk menjangkau lapisan masyarakat dan pembaca yang tinggal jauh dari pusat kota, atau pembaca yang tidak memiliki akses untuk selalu pergi ke perpustakaan.
  • Koperasi dan kantin, yang bisa melayani keperluan pengunjung perpustakaan lewat pelayanan fotocopy, makanan dan minuman yang menunjang keberadaan para pengunjung selama berada di sana.

 

BabVI
Kesimpulan dan Saran

Aspek perbaikan pelayanan, tidak bisa diabaikan dalam rangka mewujudkan sebuah perpustakaan untuk disebut sebagai perpustakaan ideal.  Untuk menuju ke sana, menjadi sangat penting bila aspek- aspek yang telah disebutkan diatas  menjadi fokus perhatian yang harus dilakukan secara serius.

Untuk mengantisipasi perkembangan ilmu pengetahuan, kemampuan tenaga perpustakaan perlu terus dibina dan ditingkatkan, melalui pendidikan, penataran, seminar, lokakarya maupun magang.

Seiring dengan tuntutan peningkatan kemampuan dan keahlian yang harus mereka miliki, mereka perlu mendapatkan jaminan hidup yang memadai sehingga masing- masing dapat melaksanakan tugasnya dengan baik.

Sumber Pustaka

Lasa HS. 1994. Petunjuk Praktis Pengelolaan Perpustakaan Masjid & Lembaga        Islamiah. Yogyakarta: Gajah Mada University Press

Barker, Ronald, and Escarpit, Robert, 1973 The Book Hunger

Sumber: http://www.pemustaka.com/perbaikan-menuju-perpustakaan-ideal.html