sumber : http://rosawidyawan.wordpress.com/2012/03/17/kemas-ulang-informasi-membuat-informasi-mejadi-lebih-seksi/

Secara harafiah, Information Repackaging adalah mengemas informasi kembali, atau mengubah dari satu bentuk informasi ke bentuk lainnya.  Pengertian ini bisa bermakna menuliskan ucapan, nyanyian, yel, doa, mantra. Bisa juga objek ini  diubah menjadi grafik, gambar, puisi. Bisa juga mengubah media satu ke media lain misalnya kertas, digital, pita magnetik, mikrofis, DVD. Kemas ulang informasi bisa berupa perubahan bahasa satu ke bahasa lain, misalnya terjemahan, intepretasi, dan bisa pula berupa perubahan fungsi seperti revisi, ringkasan, analisis, risalah, bahkan anotasi.

            Kemas ulang informasi bukan lah konsep baru dalam dunia kepustakawanan, karena senilai dengan pekerjaan mengindeks dan mengabstrak, penyebaran informasi terseleksi (Selected Dessimination of Information), dan pembuatan buletin informasi serta pelayanan informasi terkini (curent awareness service). Sudah puluhan tahun pustakawan merancang sistem untuk mengingatkan pemustaka  atau peneliti yang berminat pada disiplin ilmu tertentu, publikasi, atau literatur yang terbit, atau tentang topik khusus. Pelayanan ini mirim dengan penyebaran informasi terseleksi. Misalnya daftar ini jurnal terseleksi terbitan paling baru. Produk yang cukup dikenal adalah Current Content, terbithan Thomson Reuter.

            Current Content pertama kali diterbitkan dalam bentuk kertas dengan edisi tunggal hanya untuk subjek biologi dan kedokteran. Pada mulanya hanya terdiri dari reproduksi halaman judul ratusan jurnal ilmiah penting dan terbit mingguan, berapa saat setelah jurnal terbit. Dalam terbitan ini disediakan indeks dan kata kunci, serta alamat para penulis, sehingga pemustaka bisa menghubunginya. Saat ini tersedia Current Content Connect yang berisi Jurnal ilmiah ternama dan lebih dari 7.000  situs web yang relvan dan dievaluasi. Juga terdapat informasi bibliografis penuh dari jurnal elektronik sebelum diterbitkan.

            Informasi sains dan teknologi yang berlimpah saat ini belum bisa dimanfaatkan secara maksimal oleh para pemustaka karena perbedaan bahasa, sehingga mereka tidak bisa membaca dengan seksama. Walaupun mungkin kendala bahasa bisa diatasi, namun kadang-kadang  masih ada hambatan format, misalnya informasi Sains dan Teknologi tersebut hanya tersedia dalam bentuk jurnal tercetak, dan untuk saat ini berlangganan jurnal tercetak terasa berat bagi perpustakaan di Indonesia. Dalam kasus ini bentuk kemas ulang informasi seperti current awarness cukup menolong pemustaka untuk mengikuti perkembangan terkini disiplin ilmu yang mereka imani. Kondisi seperti ini sering dihadapi oleh perpustakan khusus, perpustakaan riset, atau perpustakaan akademis (perpustakaan fakultas). Dalam dunia kepustakawanan, pekerjaan kemas ulang informasi merupakan kegiatan penting yang hampir ada di setiap pekerjaan. Mereka mengemas ulang informasi guna menyesuaikan informasi pada kebutuhan pengguna.

  1. Konsep Kemas Ulang Informasi

Asal muasal konsep kemas ulang informasi itu tidak jelas, demikian menurut Christine Stilwell (2000) dalam ulasan literaturnya. Dia menemukan konsep dan istilah kemas ulang (repackaging) ini didiskusikan pada tahun 1981 dalam terbitan karya Saracevic dan Wood berjudul Consolidation of information: a handbook on evaluation, restructuring and repackaging of scientific and technical information. Pada tahun 1984 sebuah buku tentang informasi komunitas  berjudul The basics of information work Alan Bunch (1984:25),  dalam menggambarkan pendekatan mandiri, menekankan bahwa pelayanan informasi memilih bahan yang tepat, memproses kembali informasi dalam suatu bentuk yang dapat langsung dipahami, mengemas informasi, dan menyusun semua  bahan-bahan ini agar sesuai, oleh karenanya  menggabungkan  konsep penting termasuk dalam pengertian kemas ulang , yakni memproses kembali dan mengemasnya.

Kemas ulang informasi bisa mencakup pekerjaan penerjemahan, dan penyuntingan. Tentu saja hal ini memerlukan proses sistematis untuk memberikan nilai tambah pelayanan informasi. Komponen-komponen penting lainnyaya termasuk analisis, sintesis, penyuntingan, penerjemahan, dan transmisi format media dan simbol. Sudah barang tentu, kebutuhan informasi pengguna target, kesahihan, kelengkapan, serta mudah dan nyaman digunakan patut menjadi pertimbangan.

Alasan para pustakawan melakukan pekerjaan kemas ulang informasi antara lain pertama untuk menyesuaikan informasi yang tersedia dengan kebutuhan pemustaka. Informasi yang tersedia di perpustakaan dalam berbagai format dan subjek berlimpah, demikian pula informasi yang dapat diakses pustakawan diluar tempat kerja mereka. Sementara pemustaka memerlukan informasi spesifik, misalnya pencapaian riset teknologi nano di Indonesia. Dalam kasus ini, pustakawan mengemas ulang laporan penelitian tentang Teknologi Nano dalam ulasan literatur, sehingga pemustaka bisa mamanfaatlammua informasi itu secara efektif.  Kedua adalah untuk mempermudah penyebaran, pengelolaan, dan untuk komunikasi.  Informasi yang sudah berubah format digital akan lebih mudah dan cepat disebar luaskan secara online, pengelolaan informasi yang telah terkemaspun bisa lebhi mudah dikelola dengan mengelompokkannya berbasis subjek, dan dikomunikasikan dengan pemustaka melalui berbagai channel.

Dengan adanya Library 2.0, yang mengutamakan interaki, komunikasi ini akan lebih efektif. Alasan ketiga adalah untuk menyederhanakan informasi misalnya pembuatan bibliografi beranotasi sebuah subjek yang spesifik bisa dikatakan sebagai peta ledakan inforamasi. Bisa juga dijadikan contoh adalah Sebuah perpustakaan pertanian yang melayani para penyuluh pertanian, tentunya dia akan melakukan kemas informasi berupa booklets atau poster pohon industri  misalnya akan lebih sederhana dan cocok untuk para penyuluh atau para petani. Kebutuhan informasi seorang profesional, atau mahasiswa akan berbeda dengan petani karena derajat informasi yang mereka butuhkan  berbeda. Sebuah bibliografi beranotasi tentang Singkong  (Manihot Esculenta, Manihot Utilisima) akan lebih mempermudah seorang ahli pertanian untuk mengembangkan tanaman ini dengan sarana bibliografi beranotasi untuk menggali lebih dalam informasi tentang singkong.

Dalam kehidupan sehari-hari saat ini, kemas ulang informasi menjadi kegiatan penting, karena jutaan informasi diproduksi manusia setiap menit dengan kemajuan teknologi komputer dan telekomunikasi, bahkan dengan kemas ulang informasi para pemustaka mendapat kemudahan untuk lebih memahami informasi yang melimpah itu. Secara lebih rinci kemas ulang informasi  mempunyai fungsi sebagai berikut:

  1. Sarana pendokumentasian informasi
  2. Sarana untuk memilih informasi yang bermanfaat bagi pemustaka secara sistematis
  3. Sarana penyajian dan alih informasi yang lebih ekstensif
  4. Alat terjemahan
  5.  Peluang untuk menerapkan hasil penelitian
  6. Sarana penyajian informasi relevan secara langsung

Informasi dalam subjek spesifik yang dikumpulkan dikemas menjadi suatu bentuk baru yang lebih menarik, tentu saja pustakawan menyebutkan sumber-sumber informasi yang digunakannya dalam produk kemas ulang itu, menurut sistem pendokumentasian yang dianut. Langkah ini dimaksudkan untuk mempermudah pemustaka mencari sumber yang digunakan jika informasi tersebut relevan dengan kebutuhannya, Jika kemas ulang itu dalam bentuk elektronik, pemustaka akan menelusur melalui taut yang disediakan.

  1. Reaksi terhadap Teknologi dan Ledakan Informasi

Jauh sebelum ditemukan komputer, produksi informasi secara masal dilakukan orang setelah diketemukan teknologi Jiksi Korea, juga pelat cetak oleh Gutenberg (1398-1468)  sehingga orang banyak mencetak buku dan bahan bacaan lain berbasis kertas.Dengan adanya inovasi cetak masal ini menyuburkan dunia ilmu pengetahuan di Eropa, diantaranya munculnya  Journal Des Savant yang diterbitkan oleh Dennis De Salo dari Perancis pada 1665, dan pada tahun yang sama muncul Philosophical Transsaction of the Royal Society of London. Dimulai dengan jurnal ini, komunikasi keilmuan tidak hanya dilakukan melalui surat menyurat, dan pertumbuhan sains dengan inovasi-inovasi baru tampak nyata di abad ini.

Informasi menjadi penting dan bermafaat ketika pada Perang Dunia II, terdapat inovasi dalam bidang elektronika, komunikasi dan inteljen. Kemunculan elektronika penting dalam masa Perang Dunia II. Sementara sebelum perang sarana elektronik merupakan peralatan penting, oleh masa perang antara lain adalah radar dan  ASDIC (sonar)  telah terbukti manfaatnya. Sementara alat yang penting saat itu adalah yang dirancang untuk  komunikasi dan sejak itu arus komunikasi menjadi penting.

            Elektronika digital, terutama, merupakan penemuan yang didorong oleh penelitian yang terkait dengan perang. Kebutuhan mendesak karena banyaknya kebutuhan akan pemecahan kode tabel balistik, dan pembangunan setelah perang  membutuhkan teknologi komputer.  Untuk keperluan perang, orang pun menciptakan program ENIAC yang semi rahasia dan Colossus yang sangat rahasia  diciptakan untuk keperluan perang.

Penemuan komputer mendorong tumbuhnya penemuan baru, sama halnya dengan ditemukannya teknologi mikroskup yang telah memicu perubahan besar dalam ilmu biologi dan mengarah ke penemuan-penemuan baru dengan melihat apa yang tidak  terlihat dengan mata telanjang. Demikian juga komputer membantu dalam penemuan dalam berbagai disiplin ilmu dimana kita bisa mengolah data lebih cepat.

Sebuah terbitan berseri Atlantic Monthly edisi Juli 1945 menurunkan  tulisan Vannevar Bush  (1890-1974) berjudul  “As we may think” . Ini merupakan artikel kunci tentang kemas ulang dan hypertext yang kita gunakan saat ini. Dalam artikel ini Bush menyatakan bahwa  setelah perang,  para ilmuwan  harus memusatkan perhatian mereka untuk mencari  cara agar membuat kumpulan pengetahuan mereka dapat diakses. Dalam artikel ini, dia mengemukakan istilah memex dan mendifinisikannya sebagai “ sarana yang bisa digunakan oleh siapa saja untuk menyimpan semua buku, catatan dan komunikasi  dan dimekanisasikan  sehingga di kemudian hari dapat dipakai dengan cepat dan luwes di masa mendatang. Sarana ini dimaksudkan agar inovasi ilmiah akan tetap berlangsung.

As we may think ini mengilhami  Doug Englebart , yang   percaya bahwa kemampuan manusia dapat dipacu dengan teknologi komputer. Penemuannya merupakan kunci dari metoda kita untuk mengemas kembali inifrmasi. Teman-temuannya termasuk mouse, windows, , shared-screen teleconferencing, hypermedia, and tetikus yang mempermudah kita dalam mengemas ulang informasi. Ted Nelson muncul dengan istilah  Hypertext (bahan tulisan atau gambar yang tertaut satu sama lain dengan cara yang rumit yang tidak dapat disajikan dalam bentuk kertas secara baik) juga muncul pula istilahHypermedia (system penelusuran informasi berbasis computer yang memungkinkan pengguna untuk memperoleh atau menyediakan akses pada naskah, rekaman audio dan video, fotofragi, dan grafik computer yang terkait pada subjek tertentu).

Ledakan informasi semakin berdampak ketika Tim Berners-Lee memperkenalkan World Wide Web pada 1989, dan  penyempurnaan penyempurnaan yang salaing melengkapi seperi pengembangan Browser Internet, Mosaic pada 1992. diperkenalkan oleh Mark Andreesen .

Dalam Sains Perpustakaan dan Informasi (SPI), ledakan informasi adalan istilah yang merujuk pada mingingkatnya jumlah publikasi. Ledakan merupakan peningkatan jumlah yang tiba-tiba. Derek J. de Solla Price  (1922-1983) dalam beberapa karyanya menggambarkan  perkembangan publikasi sains merupakan karya klasik dalam pertumbuhan literatur dan “ledakan informasi”.

Sementara itu Henning Spang- Hansen secara rinci mengungkap penggunaan ledakan informasi. Menurut dia menginformasikan (atau informasi adalah suatu tindakan atau proses) berbada dengan berbicara atau menulis, di sini terdapat tiga pihak yaitu ada orang yang berperan sebagai informant, orang, bisa jadi banyak orang yang diberi informasi dinamakan informee, dan sesuatu yang diinformasikan.  

Informmee merupakan unsur yang sangat diperlukan indispensable, walaupun  anonim.  Dengan kata lain: seseorang tidak bisa dikatakan sebagai informan jika dia tidak punyai maksud untuk menginformasikan seseorang. Namun demikian slah satu ungkapan yang sangat terkenal terkait dengan karya dokumentasi, yakni Ledakan informasi (ada juga yang menyebut information overflow, tanpa memperdulikan para informee. Apa yang disebut dengan ledakan informasi, hanya dapat dinamakan ledakan publikasi, atau ledakan makalah: jumlah halaman tercetak dalam jurnal profesional dan buku meningkat pada ringkat yang dapat digambarkan dengan fungsi exponential, seperti ledakan. Hal ini bukanlah bentuk suatu ledakan informasi, kecuali jika  sejumlah halaman tercetak proporsional dengan jumlah informasi yang berasal dari produksi dan distribusi halaman-halaman itu. Dengan kata lain, kita menggunakan ungkapan “ledakan informasi” kita secara tacit (tersirat) memperkirakan bahwa makalah profesional berisi informasi pada tingkat yang konstan, tanpa memperdulikan jumlah, sekaligus  tidak mengacuhkan pemanfaatannya bagi informee.

Konsepsi informasi yang ditekankan tidaklah bermanfaat betul. Misalnya pengguna tidak bisa hanya menggunakan jumlah literatur yang terbatas, tanpa memperdulikan jumlah informasi yang dihasilkan; dalam hal itu kasus jumlah hasil proses informasi tidak melampaui batas yang ditetapkan oleh informee, dan tidak ada ledakan informasi yang bisa berlangsung. Seseorang mungkin membayangkan, bahwa ledakan seperti pertumbuhan literatur yang dihasilkan mungkin membuat rendah dampak pada jumlah pemanfaatan literatur, cenderung akan mengurangi hasil proses informasi: orang bisa bereaksi jika mereka terdesak.

Walaupun di satu sisi  pertumbuhan jumlah halaman tercetak tampaknya merupakan pengukuran informasi secara  primitif. Makalah profesional dan ilmiah lainnya tidak secara eksklusif dihasilkan degan tujuan informatif, tetapi juga sebagai alat aktifitas dan sarana untuk meningkatkan status;  kebutuhan untuk menerbitkan agar tidak punah (perish) – tampaknya memainkan peran yang lebih pentibng dari sebelumnya. Ini juga perlu dicatat bahwa makalah profesional menjadi usang sebagai sarana informasi dan lebih cepat dari sebelumnya. Ini berarti bahwa walaupun jumlah halaman berlipat setiap sepuluh tahun, jumlah keseluruhan halaman yang relevan saat ini tidak langsung tinggi melampaui jumlah halaman yang relevan sepuluh tahun yang lalu. “Kematian” literatur profesional yang lebih cepat dari leteratur profesional tidak untuk disesali;  sebenarnya banyak makalah prosesional saat ini  ditujukan hanya sebagai sarana sementara dalam riset dan pengajaran – sayangnya bahwa mereka tidak dicetak dengan tinta musnah! Sebagai dokumetalis kita harus  sadar bahwa pengguna normalnuya dibantu secara buruk dengan informasi usang. (Spang-Hanssen, 2001).

Gejala penggabungan kemajuan teknologi seperti tersebut di atas telah  diramalkan  Marshall McLuhan adalah orang pertama yang memperkirakan dampak sosiologis kemas ulang informasi dengan menggunakan teknologi McLuhan menggunakan istilah desa global untuk menggambarkan dampak sosiologi dari teknologi elektronik yang menghubungka kita.   Dia memperkirakan  bahwa akan membiarkan kejadian dalam satu bagian dari dunia menjadi pengalaman di bagian dunia lain secara hampir bersamaan. Yakni, berita tentang apa yang terjadi di sudut dunia akan langsung dikemas ulang (misalnya melalui satelit atau kantor berita di Internet) dan dikomunikasikan ke belahan bumi dunia lain.

Internet dan hyperteks memberikan alternatif pemikiran berbeda dari pada media tercetak seperti buku majalah atau Koran, misalnya. Pada media tradisional ini, kita dipaksa untuk berfikir linier, bias juga runtun. Kita kita membaca halaman satu ke halaman selanjutnya, mengikuti logika pemikiran umum. Jika sebuah naskah dalam naskah tercetak tidak linier tidak bermakna (hal semacam ini hanya bisa terjadi pada karya susastra eksperimental, atau advangarde). Media cetakan memerlukan privasi dan pemikiran yang reflektif. Sementara media elektronik memberikan keleluasaan pada pembaca untuk berfikir meloncat-loncat, berkat keunggulan taut.

  1. Memenjadi lebih seksi

Dengan adanya Internet yang memberikan kemudahan orang untuk berbagi informasi baik melalui fasilitas Open Access Repositories, Electronic Journal, dan banyak lagi fasilitas untuk berbagi informasi, maka semakin sulit seseorang untuk mencari informasi yang mereka perlukan. Dalam keadaan semacam ini peran pustakawan semakin penting untuk memberikan bantuan pemustaka dalam mencari informasi yang mereka butuhkan. Pelayanan seperti ini tergolong konvensional, karena banyak perpustakaan menyediakan pelayanan referensi dan penelusuran informasi.

Kemas ulang informasi adalah mengemas kembali informasi atau mentranster dari satu bentuk ke bentuk lain dengan kemasan yang lebih menarik. Pekerjaan ini  merupakan hasil dari upaya mengatasi ledakan informasi dan persaingan untuk mendukung perusahaan atau lembaga induk dengan memberikan informasi yang cepat, tepat, dan akurat untuk mendukung pembuatan keputusan. Dengan kata lain,  kemas ulang informasi merujuk pada penyajian informasi dalam bentuk yang lebih dapat dimengerti, mudahdibaca, dan dikemas dalam bentuk yang lebih dapat diterima dan digunakan.

Untuk menciptakan produk kemas ulang informasi yang efisien dan efektif kita memerlukan sarana telekomunikasi yang terjangkau dan handal. Perangkat keras yang yang tangguh sesuai dengan beban pekerjaan, dan perangkat lunak yang luwes dan mudah digunakan. Pustakawan yang menangani pekerjaan ini memerlukan ketrampilan dasar dalam memilih sumber yang tepat, menafsirkan dan menyadur konten, dan menciptakannya menjadi pengetahuan baru dalam kemasan yang lebih menarik dan mudah dipahami.

Di Indonesia, terutama di perpustakaan khusus pada umumnya menyediakan pelayanan kemas ulang informasi berupa poster, leaflets, booklets, bibliografi beranotasi, paket informasi kilat dls. Pekerjaan kemas ulang informasi biasanya dilakukan dengan tim kerja, berkaitan dengan kandungan informasnyinya. Untuk mengerjakan sebuah leaflet tentang transfer embrio sapi unggul, misalnya. Perpustakaan perlu mempekerjakan ahli bidang ini, jika tidak mempunyai seorang spesialis subjek.

Referensi

Price,  DJ Knowledge Production tersedia di http://www.iva.dk/bh/core%20concepts%20in%20lis/articles%20a-z/information_explosion.htm

Stilwell, C. (1999)  Repackaging Information: a review. Tersedia di www.hs.unp.ac.za/infs/kiad/04stilw.doc

Spang-Hanssen,  Henning (2001)How to Teach About Information as Related to Documentation? Ater Human IT tersedia di http://etjanst.hb.se/bhs/ith/1-01/index.htm  diakses 18 Februari 2011

Wikipedia, the free encyclopedia. (2005). Information explosion.http://en.wikipedia.org/wiki/Information_explosion